8

124 14 52
                                        

Pagi ini terasa berbeda bagi Adara, dia nampak tak bersemangat pergi ke sekolah. Dia juga tak memakan sarapannya membuat bi Asih khawatir melihat kondisinya.

"Non gak usah sekolah aja! Guru-guru disekolah juga pasti ngertiin kok," ujar bi Asih.

Adara tersenyum kecut. "Gak papa bi, Adara pasti ke inget Mama terus kalo dirumah."

Bi Asih menatap iba pada anak majikannya itu. "Kalo Non tetep mau sekolah, jangan bawa mobil sendiri ya! Suruh den Gama jemput aja, kemarin den Gama udah bilang ke Bibi. Katanya kalau Non mau ke sekolah harus telphon dia biar dia yang jemput,"

"Lah? Eva kan harus Adara jemput Bi, lagian Adara nggak mau ngerepotin Gama."

Bi Asih menggeleng heran. "Non ini masih aja mikirin orang lain, non Evania punya mobil kan?"

Adara mengangguk. "Tapi Papanya suka ngelarang dia bawa mobil kesekolah Bi."

"Kenapa?"

Adara menggelengkan kepala. "Nggak tahu."

"Percuma punya mobil, kalo sukanya numpang," ujar bi Asih kesal.

Adara terkekeh. "Adara berangkat ya Bi." Bi Asih mengangguk.

***

Adara sedang diperjalan menuju rumah Evania. Dia mengemudikan mobilnya lumayan kencang karena jalanannya terlihat sepi, tidak seperti biasanya.

Sekitar 10 menit kemudian Adara sudah sampai di rumah Evania. Dia melihat Evania sedang mengobrol dengan seorang wanita yang berumuran sekitar empat puluh lima tahunan. Mungkin dia adalah Mamanya Evania. Selama ini Adara memang belum pernah bertemu dengan Mamanya Evania, karena Mama dan Papanya Evania bekerja di London, dan memutuskan tinggal disana. Karena penasaran Adara memutuskan menghampiri mereka.

"Assalamualaikum," ucap Adara sopan. "Eh tante Wulan?"

Evania terlihat kaget. bagaimana Adara bisa mengenali ibu tirinya. "Lo kenal sama Mama?"

Adara menganggukan kepala. "Tante Wulan kan sahabatnya Mama sama Papa, jadi tante Wulan Mama kamu, Va?"

"Mama tiri lebih tepatnya," jawab Evania.

"Kok aku baru tau si," ucap Adara cemberut. "Terus Mama kandung kamu?"

"Mama udah meninggal" jawab Evania lirih.

Adara terkejut, jadi selama ini Mamanya Evania udah meninggal. Pantas saja jika dia menanyakan tentang Mamanya, Evania tidak pernah menjawabnya. Sebenarnya Adara selalu kesal apabila Evania tidak memberitahu tentang Mamanya. Tapi, sekarang dia mengerti gimana rasanya jika orang yang kita sayang udah pergi pasti sakit bila diingat kembali.

Wulan mengusap-usap punggung Evania. Agar gadis itu tak menangis. "Tante Wulan sama Papanya Eva baru nikah empat tahun yang lalu. Tante juga nikahnya di London, jadi wajar aja kamu nggak tau." Ujar Wulan.

"Kenapa nggak undang kita si tante?" tanya Adara.

"Maaf ya sayang, ohiya Mama kamu apa kabar?" tanya Wulan, dengan sengaja.

Adara tersenyum kecut. Entah kenapa bila ada yang menanyakan Mamanya, tiba-tiba dadanya menjadi sangat sesak. "Tante Elina udah meninggal Ma," ujar Evania.

Wulan memasang ekspresi kaget diwajahnya. "Yang bener?"

Adara menganggukan kepalanya. "Kapan? Maafin tante Wulan ya. Tante nggak tau,"

"Kemarin malam tante, Mama di bunuh. Tapi, Pembunuhnya belum diketahui siapa," ujar Adara.

"Udah lapor Polisi?" tanya Wulan

LonelyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang