9 - Tugas Negara

110 18 13
                                        

Hari Sabtu, seharusnya hari untuk libur. Mengistirahatkan diri di rumah dari pelajaran sekolah maupun tugas, apalagi kegiatan OSIS.

OSIS kelas dua belas bersama perwakilan kelas dua belas yang masing – masing di wakili dua orang berkumpul di ruang OSIS mengembangkan pembahasan Fajri dan Viktor tempo hari membahas tentang Kegiatan perpisahan angkatan 35 atau yang disebut wasanawarsa.

Fajri sebagai purna ketua OSIS sekaligus sebagai ketua wasanawarsa dengan Viktor sebagi wakilnya, menyampaikan apa saja yang bakal dilaksanakan.

“Karena anggaran dana dari sekolah tidak sesuai dengan yang diminta di proposal, harap kerja samanya.”

“Kita dapat bantuan dari anak OSIS kelas sebelas dan sepuluh. Setiap kelas dapat jatah OSIS dua. Karena udah dibantu jadi jangan ngrepotin banget ya.” Jelas Fajri.

Alin, wakil ketua OSIS purna berkomentar. “Biasanya juga dibantu anak OSIS kan?”

Fajri mengangguk, “Iya.”

“Terus apa bedanya?” tanya Alin.

“Biasanya kan cuma satu, itu tugasnya hanya bagiin makanan. Kalau sekarang, karena dana kurang jadi gaada sewa fotografer dari luar. Jadi, tugasnya OSIS yang satu jadi fotografer dadakan.” Jelas Fajri. Alin dan yang lain mengangguk paham.

“Vik, kelas kita siapa?” tanya Alfaraz. Biasanya kalau acara perwakilan kelas pasti anak perempuan yang maju, tapi tidak untuk kelas 12 IPS 2, yang mewakili dua laki semua.

Viktor menoleh, “Athala sama Brian.” Alfaraz senyum menyeringai ke Viktor.

“Apa?” ujar Viktor sarkas.

“Enggak.”

“Tolong kerja samanya ya, ini acara terakhir kita di SMA, puncaknya disini. Orangtua kalian juga bakal datang, jadi mohon persiapan yang matang. Memang masih lama, tapi tetap harus mulai di kerjakan dari sekarang.” Jelas Fajri panjang. Yang lain hanya diam mendengarkan dan mengangguk.

•••

“Peran gue apaan sih, Nya?” tanya Athala sedikit sebal. Sedari tadi ia hanya disuruh mengambil video, mentang – mentang ia Sekbid Teknologi sekarang pun dimanfaatkan teman – temannya.

“Gue tuh baik, Thal. Gue milihin peran lo yang nongolnya dikit soalnya lo kan kameramen biar lo gak capek.” Jawab Sonya, Athala mendengus.

Sedari tadi, Athala tidak mudeng apapun ia hanya disuruh mengambil video rekaman tanpa tahu jalannya cerita mereka. Semua Sonya yang mengatur, enak punya temen yang seperti itu memang tapi juga jangan keterlaluan seperti ini.

Anggota lain juga tidak ada yang protes, lebih baik nurut kalau gak mau dapat masalah. Karena Sonya itu tipe anak yang apa – apa orang tua, apalagi Ayahnya merupakan orang penting di sekolah.

“Mau kemana lo? Belum selesai loh ini.” Tanya Sonya yang melihat Athala berjalan pergi.

“Beli minum. Haus.” Jawabnya.

“THALA NITIP.” Teriak Riska.

“YA.” Jawab Athala balas teriak tanpa mendengar apa titipan temannya itu.

Disisi lain, Alfaraz, Viktor, dan Zidan juga sedang berjalan menuju koperasi sekolah yang merangkap juga kantin sekolah. Satu – satunya yang buka dihari sabtu.

Alfaraz menyipitkan matanya, “Itu bukannya Athala ya?” suara Alfaraz menginterupsi Zidan dan Viktor untuk melihat kearah yang di tunjuk Alfaraz.

“Oi calonnya Viktor. Ngapain kesekolah? Diandra mana?” tanya Alfaraz.

“Setan.” Latah Athala ketika kaget.

Viktor Bukan VektorTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang