46 - Salah Siapa?

30 3 0
                                        

(Viktor Aditya Erlangga)

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

(Viktor Aditya Erlangga)

selamat hari sabtu.

sorry for typo ya gengss

[happy reading]

- - -

Tombol F1 di keyboard itu cara cepat jika ingin membuka windows help di laptop ataupun komputer. Tapi bagi Athala, tombol tersebut malah sangat mengganggu, sama sekali tidak membantu.

Gimana tidak, saat akan menjalankan sebuah program tiba-tiba muncul sendiri itu windows helpnya. Tidak bisa diclose, dikeluarkan muncul lagi, sangat menjengkelkan bukan?

Akhir-akhir ini juga sangat menjengkelkan bagi Athala, fotonya terpampang lagi di feed instagram bacotan smapuba. Jika tahu siapa adminnya pasti sudah dijambak rambutnya oleh Athala. Ingin meretas akun tersebut, namun ia sadar diri, apalagi keadaan laptopnya sedang sekarat.

“Harga confetti berapa sih geis?” tanya Athala random. 

Athala dan ketiga sahabatnya sedang duduk di kantin. Hari ini jamkos, sebenarnya tidak, hanya saja guru yang mengajar tidak masuk dan berakhirlah mereka berempat di kantin. Tidak hanya mereka kok, beberapa anak dari kelasnya juga ikut ke kantin.

“Gatau, gak pernah beli.” sahut Disya.

“Buat apa sih?” tanya Faya penasaran.

“Buat menyambut admin bacot, seneng banget buat gue jadi artis dadakan.” asli Athala saat ini dalam mode badmood, sedangkan moodbosternya sudah tidak berguna lagi.

“Eh tapi ya, sadar gak sih, sering banget sekarang kita yang diumbar ke sana. Si Athala sama Rasya,” ujar Diandra belum selesai sudah mendapat pelototan Athala. Diandra nyengir kemudian melanjutkan ucapannya lagi. “Terus gue sama kak Alfaraz, Disya sama Althan, dan yang terbaru Athala lagi kemarin.”

“Lah iya,” Faya ikut menanggapi.

“Tapi, lo enggak.” komentar Disya yang ditujukan ke Faya.

“Emangnya apa yang mau diumbar dari gue? Adem ayem gue sih, gak kaya lo pada, kontroversial.” ucap Faya.

“Anjir. Susah kalo gue mulu.” ucap Athala.

Tanpa mereka tahu, ada seorang guru yang memperhatikan mereka. Diandra yang asik berselfie menggunakan koleksi filter instagramnya, Disya yang fokus dengan ponsel, Athala dan Faya yang berdebat mengenai kopi.

“Loh, Mbak, ini kan belum waktunya istirahat ya? Kok pada di kantin?” tanya guru tersebut.

Bu Andin, wali kelas IPA 6, guru fisika.

Tidak hanya mereka berempat, namun ada Riska dan Diki yang sepertinya masih melancarkan pedekate mereka, Bagas, dan Erik yang juga masih makan.

“Eh Ibu,” ucap Diandra seraya cengengesan.

Viktor Bukan VektorTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang