Mereka memang sering tidak menyadari jika sedang berjalan di kegelapan.
***
🥀-Happy Reading-🥀
Fajar menampakkan wujudnya, suara kicauan burung terdengar bersahutan. Jam weker berbentuk apel dengan warna hijau stabilo berbunyi nyaring. Rasta yang bergelung dengan selimut tebal yang hampir menutupi seluruh tubuhnya terkecuali wajah mulai bergerak tak nyaman. Tangannya terulur untuk mematikan alarm yang terus berbunyi dengan mata yang terpejam.
Jam weker terjatuh dari atas laci menimbulkan bunyi. Rasta mengerjapkan matanya, menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya matahari yang masuk melalui ventilasi udara. Ia merubah posisinya menjadi duduk dipinggir kasur, mengambil jam weker dan menaruhnya kembali ke tempat semula. Pukul 05.03 WIB, Rasta mengacak rambutnya. Perlahan beranjak melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
Suara percikan air terdengar samar-samar. Dalam waktu 10 menit Rasta keluar dari kamar mandi hanya dengan balutan kaos putih polos dan celana boxer selutut bergambar tengkorak. Rasta meraih seragam sekolah yang sengaja digantung di pintu lemari, memakainya cepat. Ia menyisir rambutnya yang basah, lalu mengambil sepatu hitam polos dibawah ranjang kasur.
Rasta tidak langsung memakainya, ia menenteng tas dan sepatunya. Membuka pintu kamar tidak lupa menguncinya, guna menghindari Abangnya yang selalu mengacak-acak isi kamarnya yang sudah disusun serapih mungkin olehnya. Rasta menuruni anak tangga, terlihat Bunda yang tengah mencentong nasi goreng ke piring untuk Ayahnya.
"Pagi,"
Bundanya-Rachel menoleh, menyunggingkan senyum lebar melihat kedatangan anak keduanya. "Pagi Rasta. Sarapan roti bakar atau nasi goreng?" tanyanya.
"Nasi goreng aja Bun, sekalian kenyang." pinta Rasta sambil memakai kedua sepatu hitamnya.
"Tumben banget Sta, nanti di sekolah muntah-muntah lagi," Rey menimpali, menyuapkan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya.
Sejak kecil Rey sangat paham jika Rasta tidak bisa sarapan dengan nasi. Setiap paginya dia hanya memakan roti bakar dan segelas susu putih hangat. Mendengar anak itu memilih untuk memakan nasi goreng Rey sempat ragu dan menatap Rasta dengan perasaan was-was.
"Mau aja. Lebih menggoda dari roti bakar,"
"Cih, menggoda! Gaya lo tong-tong," Rey kian mencibir hingga menciptakan sebuah cubitan manis yang mendarat di lengannya. Pria paruhbaya itu menoleh, mendapat tatapan tajam dari istrinya yang duduk tepat disebelahnya.
Rasta mengaduk nasi gorengnya, menyuapkan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya. Matanya mengedar mencari-cari keberadaan Abangnya yang sampai saat ini belum juga terlihat batang hidungnya. Rasta curiga jika Abang satu-satunya itu masih setia membuat pulau pada bantal yang terbalut kain putih.
"Rafa mana?"
"Abang Rasta! Bukan Rafa-Rafa aja," peringat Rachel.
Terlalu biasa Rasta selalu memanggil Rafa tanpa embel-embel kakak, abang, atau yang lainnya. Menurutnya manusia modelan seperti Rafa tidak pantas untuk dihormati, yang malah akan membuatnya melunjak dan seenaknya menyuruh Rasta menjadi babu.
"Iya-iya, Abang kemana?"
"Biasa Sta. Dia kuliah siang soalnya, kemarin malam lembur ngerjain tugas. Kamu percaya nggak Sta? Kalau Ayah tentunya nggak," jawab Rey yang telah selesai memakan nasi goreng di piringnya. Meraih segelas air putih, meneguknya hingga tandas.
Rasta mengangguk-anggukan kepalanya, menyunggingkan senyum tipisnya. "Sama, Rasta juga nggak percaya," balasnya. Rasta menyudahi sarapan paginya, meneguk segelas susu putih yang tidak pernah absen untuk menemani paginya. Ia berdeham singkat, membuat kedua orangtuanya mendongak menatapnya penuh tanda tanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
[GS2] OTHER SIDE (Completed)
Teen Fiction"Rasta!" "Ya?" "Kenapa, Sta?" "___" "Kenapa lo harus peduli sama gue?" "Bukan peduli, tapi kasihan." Rasta Dhefino Greynata, cowok cuek berbandana hitam yang tidak pernah mempedulikan sekitarnya. Perlahan pandangan berubah saat melihat kehidupan cew...
![[GS2] OTHER SIDE (Completed)](https://img.wattpad.com/cover/233067867-64-k820761.jpg)