14. ALASTER VS DALGON

1.4K 126 66
                                        

Attention, sedia kresek sebelum baca.

🥀-Happy Reading-🥀

Gerbang sekolah yang terbuka lebar memudahkan mobil sedan berwarna hitam itu masuk ke area parkiran. Maudy turun dari dalam mobil saat Pak Iman-supir pribadinya membukakan pintu, tidak ada senyuman yang menghasilkan wajahnya. Tatapan tajamnya mengiri setiap langkah Maudy menuju kelas yang berada di lantai 4.

Diantara siswa-siswi yang berlalu-lalang sama sekali tidak ada yang berani untuk sekadar menyapa Maudy, mereka memilih untuk meminggir dan berpura-pura tidak acuh. Maudy memasuki kelas yang sudah begitu ramai, mereka terlihat sibuk bergelut dengan buku dan bolpoint masing-masing. Maudy melangkah menuju mejanya yang berada dibaris ketiga. Nampak Fita yang tengah duduk manis memainkan handphonenya.

"Ada pr apa?" tanya Maudy tanpa menolehkan kepalanya. Maudy mendudukkan bokongnya di kursi.

Fita mengambil buku tulis bersampul cokelat dari bawah kolong mejanya, ia membuka lembar-lembar kertas dengan hati-hati merasa takut kertasnya lusuh ataupun robek. Fita menunjuk pada soal-soal yang ditulis dengan rapi. Melihat itu, Maudy menepuk keningnya singkat. Pergi berdiam diri di blumchen Coffee membuatnya lupa jika memiliki pr fisika.

Waktu yang tersisa kurang dari 15 menit, Maudy melirik Fita sekilas, secercah ide muncul. Dalam keadaan genting seperti ini seharusnya Maudy memanfaatkan Fita. Lagipula, Maudy yakin Fita tidak bisa menolak bahkan untuk melawannya. Maudy membuka resleting tas, ia mengeluarkan buku tulis lalu menaruhnya di atas meja Fita yang dipenuhi beberapa tumpukan buku-buku tebal.

"Kerjain tugas gue!" titah Maudy memaksa.

Pupil mata Fita membesar, ia menggelengkan kepalanya untuk menolak perintah Maudy. Tangannya terangkat memperagakan bahasa isyarat agar Maudy mengerti penolakannya.

"Tapi, sebentar lagi bel masuk berbunyi."

"Gue nggak mau tau. Dalam waktu 10 menit harus selesai!"

"Tidak mungkin, Maudy ini terlalu banyak."

Maudy menarik paksa pergelangan tangan Fita, perlahan Maudy memelintir tangan Fita. Terlihat jelas raut wajah Fita yang menahan rasa sakit. Sontak, kejadian itu menjadi pusat perhatian seluruh siswa-siswi yang berada di dalam kelas. Hening, mereka menganggap tindakan bullying yang Maudy ini hanyalah hiburan semata. Tidak ada yang berani mencegah ataupun melaporkannya.

"Ingat Fita, gue nggak suka dilawan. Jadi, cepat lo kerjain!" Maudy menukas, menghempaskan tangan Fita dengan kasar. "Kenapa? Mau ngelawan gue lagi?" tanyanya yang dibalas gelengan oleh Fita.

Maudy menepuk-nepuk bahu Fita singkat. "Bagus. Kalau lo nurut, gue nggak akan berbuat kasar sama lo!" ucapnya.

Fita mengangguk samar-samar, ia mengambil buku tulis milik Maudy dengan wajah yang tertunduk. Sedangkan Maudy menyunggingkan senyuman tipisnya, ia beranjak dari duduknya seraya merapihkan rok abunya yang terlipat di bagian bawah. Maudy berjalan keluar kelas bersama berbagai tatapan siswa-siswi yang dilayangkan untuknya.

Saat punggung Maudy mulai menghilang dari balik pintu, Fita meraih bolpoint hitam yang berada di dalam tempat pensil. Tangannya terasa sakit karena Maudy yang memelintirnya begitu kencang. Untuk menulis saja rasanya sulit, apalagi Maudy meminta agar selesai dalam waktu 10 menit. Benar-benar mustahil.

[GS2] OTHER SIDE (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang