Komen+vote banyak-banyak.
🥀-Happy Reading-🥀
Maudy memakai sepasang sneaker putih, ia mengambil sling bag dari atas meja, lalu melangkahkan kakinya keluar rumah. Lengkungan senyumnya kian melebar, menutup gerbang rumah rapat-rapat. Ia berjalan seraya memilin tali sling bag, sorot matanya lurus ke depan.
Rumah bercat putih itu menjadi tujuannya. Di halaman rumah terlihat pria paruhbaya serta remaja cowok yang tengah mencuci mobil. Entah, Maudy merasa ragu dan gugup sekadar menyapa mereka, padahal biasanya tidak seperti ini.
"Pagi Om, Kak." sapa Maudy sesopan mungkin.
"Pagi juga Maudy anak tetangga depan rumah," balas Rafa menghentikan kegiatan mengelap bagian kaca mobil dengan kanebo. "Jangan panggil Om, Babeh aja. Soalnya ini bukan Om-Om yang suka jalan sama cabe-cabean." ucapnya.
"Rafa mulutnya dijaga, asal jeplak aja!" sergah Rey sinis.
"Ya ampun, biasanya juga begitu nggak apa-apa," balas Rafa tidak mau kalah.
Sebisa mungkin Rey menahan diri untuk tidak melempar ember di dekatnya ke arah anak pertamanya yang cengengesan. Berbicara dengan Rafa memang menguji kesabaran.
"Tapi kalau sekarang malu, itu privasi." geram Rey dengan tangan terkepal kuat.
"Gayaan!" Rafa mencibir, matanya teralih pada cewek yang berdiri di dekat gerbang. "Dy, mau cari Akang Rasta ya?" tanyanya terkesan menggoda.
Maudy menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Ahaha... iya,"
"MET! DICARIIN TUH SAMA TETANGGA!" teriak Rafa berhasil membuat gendang telinga Ayah serta Maudy berdengung. Sepertinya cowok itu juga tidak peduli dengan keberadaan rumah tetangga yang ada disekitarnya.
Suara barang yang terjatuh terdengar kencang dari dalam rumah. Tidak lama Rasta muncul dengan senyuman lebar, mengalihkan pandangannya pada Ayah juga Abangnya yang kini berbalik menatapnya. Rasta memakai jam tangan hitam sembari berjalan mendekati keduanya.
"Kenapa?" tanya Rasta bingung, sebab Ayah dan Abangnya bersamaan memincingkan mata.
"Kamu yang kenapa? Apalagi yang di rusakin?" Rey berkacak pinggang, perasaannya mulai tidak enak.
Rasta menganggukkan kepala. "Oh, itu kandang hamster punya Ayah," tutur Rasta seraya menunjuk ke dalam rumah.
"NGGAK LUCU, RASTA!"
"Siapa yang lagi ngelawak?" Rasta mengernyitkan dahi, menyenggol lengan Abangnya yang sudah tertawa.
Sontak, Rey berlari memasuki rumah, terlihat jelas air mukanya yang khawatir bercampur panik. Susah jika sudah terlalu bucin dengan hewan. Sedangkan Rafa mengelap bagian depan mobil, sesekali mencimprat air dari selang pada Rasta yang sudah berpakaian rapi.
"Basah lagi, Raf!" geram Rasta. Ia berjongkok mengambil selang air, kemudian mengarahkannya ke arah Rafa, sehingga sang empu basah kuyup.
Sama sekali tidak ada raut wajah bersalah. Rafa tertawa terbahak-bahak, mengusap rambut dan wajahnya kasar. Kelebihan Rafa yaitu tidak mudah marah serta sabar menghadapi Adiknya, kalau tidak sayang sudah ia lempar ke tong sampah.
"Tau monyet nggak, Met?" tanya Rafa, wajahnya dibuat seserius mungkin.
"Tau, itu elo, kan."
"Gemes banget!" Rafa menarik kedua pipi Adiknya kencang, terdengar jeritan Rasta yang merasa kesakitan. "Kalian mau ke mana sih?" tanyanya semakin penasaran.
KAMU SEDANG MEMBACA
[GS2] OTHER SIDE (Completed)
Dla nastolatków"Rasta!" "Ya?" "Kenapa, Sta?" "___" "Kenapa lo harus peduli sama gue?" "Bukan peduli, tapi kasihan." Rasta Dhefino Greynata, cowok cuek berbandana hitam yang tidak pernah mempedulikan sekitarnya. Perlahan pandangan berubah saat melihat kehidupan cew...
![[GS2] OTHER SIDE (Completed)](https://img.wattpad.com/cover/233067867-64-k820761.jpg)