Berusaha untuk tidak lagi peduli, tapi ternyata aku yang terlalu lemah.
***
🥀-Happy Reading-🥀
Blumchen Coffee. Diva yang mengenakan dress selutut terduduk di salah satu meja tepat di dekat kaca. Senyumnya terukir manis, menopang dagu selagi menunggu cowok itu datang. Jari-jemarinya bergerak mengetuk-ngetuk meja menimbulkan suara.
Tenggorokannya terasa kering, Diva menyeruput ice americano yang tersisa setengah gelas. Sekitar 20 menit menunggu, namun tidak juga ada kabar dari Ganda. Kemarin cowok itu mengajaknya bertemu di sini, ada sesuatu yang ingin dibicarakan, katanya.
Tetapi Ganda meminta Diva untuk datang sendiri, karena ada sesuatu yang spesial. Diva menoleh ke arah pintu, memperhatikan satu per satu pengunjung yang datang. Berharap besar Ganda akan segera datang untuk menepati janjinya.
Diva meraih sling bag putihnya, mengambil handphone ber-case pink muda. Tidak ada pesan masuk pertanda jika Ganda akan segera datang atau mungkin sedang dalam perjalanan. Diva menggerakkan jarinya di atas keyboard, mengetikkan suatu pesan.
Diva Gedisya
Gan, udah di mana?
Pesan terkirim, tapi tampaknya orang yang dituju tengah offline. Diva menghela nafasnya panjang, menaruh handphone itu ke atas meja. Ia kembali menyeruput ice americano hingga tandas, rasanya ia mulai bosan menunggu Ganda yang tak juga ada kabar.
Berusaha meyakinkan diri jika cowok itu tidak akan mengingkari janjinya. Ganda pasti tidak lagi memainkan perempuan, dirinya sangat yakin tentang itu.
Alunan musik dari panggung kecil di depan sana terdengar. Tiga orang laki-laki bernyanyi untuk menghibur pengunjung, Diva mulai terlarut menikmati lagu yang mereka nyanyikan. Tepuk tangan riuh mengapresiasi saat mereka selesai bernyanyi.
"Kak,"
Tepukan singkat di bahu kanannya membuat Diva terkejut, ia menengok ke arah samping. Waiters yang membawa catatan menu itu tersenyum canggung merasa tidak enak hati karena mengangetkan salah satu pengunjung.
"Eh, iya?" balas Diva mengerutkan dahi.
"Apa ada yang ingin dipesan lagi, Kak?" tanya waiters perempuan itu, mungkin kisaran umur mereka tidak jauh berbeda. Matanya tertuju pada gelas kosong di atas meja.
Diva menggeleng, tersenyum sopan. "Nggak ada. Terimakasih," tolaknya.
Waiters itu merespon dengan anggukan sebelum berlalu menuju meja yang lain. Diva melirik arloji yang melingkar sempurna di pergelangan tangan, hampir sejam menunggu tapi Ganda tidak juga terlihat keberadaannya.
Semakin lama Diva bosan di sini, ia juga tidak enak hati karena hanya berdiam diri di cafe saat pengunjung terus berdatangan mencari tempat kosong. Diva memakai sling bag miliknya sambil menggenggam handphone, ia akan menunggu di tempat lain.
Langkah kakinya saling mendahului, Diva tidak tau tujuannya saat ini. Kendaraan bermotor berlalu-lalang mengeluarkan asap hitam dari knalpot. Diva tetap berjalan menuju taman kota. Kakinya mulai terasa pegal-pegal, namun tidak membuatnya mengeluh.
Taman kota tidak begitu ramai, hanya terdapat beberapa anak kecil yang berlarian serta bermain sepeda di dampingi orangtua mereka. Diva mendekati kursi panjang yang membelakangi air mancur buatan di tengah-tengah taman.
Diva mengaktifkan handphonenya, mencari-cari kontak Ganda. Jarinya menekan ikon telepon, lalu mendekatkan ke telinga. Hanya terdengar dering berkali-kali, namun tidak juga mendapat balasan.
KAMU SEDANG MEMBACA
[GS2] OTHER SIDE (Completed)
Fiksi Remaja"Rasta!" "Ya?" "Kenapa, Sta?" "___" "Kenapa lo harus peduli sama gue?" "Bukan peduli, tapi kasihan." Rasta Dhefino Greynata, cowok cuek berbandana hitam yang tidak pernah mempedulikan sekitarnya. Perlahan pandangan berubah saat melihat kehidupan cew...
![[GS2] OTHER SIDE (Completed)](https://img.wattpad.com/cover/233067867-64-k820761.jpg)