41. NOTHING

1.2K 187 199
                                        

Hari ini, aku yang menjabat sebagai Emak pungut Alaster tambah umur, wkwk.

🥀-Happy Reading-🥀

Biologi di kelas 11 MIPA 4 tengah berlangsung. Bu Jena—guru yang mengajar tampak membolak-balik halaman buku cetak yang selalu dibawanya. Tipe guru lembut dan asik untuk diajak bercanda membuat kondisi kelas tidak begitu tegang.

"Anak-anak, kali ini Ibu ada tugas per kelompok tentang penelitian hewan. Kalian bisa mulai mengerjakan sekarang, dan terakhir dikumpulkan pulang sekolah." jelas Bu Jena sambil menuliskan halaman buku di papan tulis.

Siswa yang duduk di paling belakang mengacungkan jari, membuat seluruh pusat mata tertuju padanya. Ketua kelas.

"Untuk kelompok bebas atau dipilihkan, Bu?" tanyanya mewakilkan teman-teman sekelas.

"Bebas, satu kelompok 5 orang ya. Kalau begitu Ibu keluar kelas dulu, jika ada yang tidak dimengerti silahkan bertanya, Nak." jawab Bu Jena tegas.

"BAIK, BU!" sahut seisi kelas secara serempak.

Bu Jena tersenyum simpul, guru wanita berkisar 30an itu mengambil barang bawaannya sebelum pamit keluar dari kelas. Seketika seisi kelas menjadi ribut menentukan kelompok. Rata-rata mereka memilih dengan teman dekat, tidak ada satupun yang menghampiri Maudy dan Fita untuk dijadikan teman satu kelompok.

Maudy beranjak dari duduknya, ia melangkah menghampiri 3 orang siswi yang duduk dibarisan paling depan. Senyumnya terukir lebar walaupun tidak mendapat balasan dari mereka.

"Eh, lo kurang 2 orang 'kan? Gue sama Fita gabung ya," ucap Maudy meminta persetujuan untuk bergabung.

Ketiga siswi itu saling berpandangan, salah satu di antara mereka menggeleng cepat. Siswi dengan rambut berkacamata—Gladys tampak tidak suka akan kehadiran Maudy.

"Sorry, kita mau bertiga aja." tolak Gladys mentah-mentah.

"Tapi Bu Jena bilang 5 orang, berarti kurang 2," cetus Maudy berusaha kerasa agar mereka mau menerima.

"Kita nggak mau sekelompok sama kalian!" Dua orang siswi yang sedaritadi terdiam ikut bersuara.

Maudy tertegun, ia menghembuskan nafasnya gusar. Langkah kakinya membawa ia kembali ke tempat duduk. Sesekali melirik sekitarnya dengan tatapan sebal dan tajam. Maudy menopang dagu dengan sebelah tangan.

Terkadang orang lain hanya menilai seseorang dari cover, dan apa yang pernah kita lakukan. Bila dari awalnya sudah terkesan buruk, sebaik apa pun sikap kita, mereka juga tidak akan peduli dan tetap menilai jelek.

"Terus kita gimana, Fit? Kalau lo nggak temenan sama gue pastinya lo gampang cari kelompok," tukas Maudy, ia tidak enak hati sebab semua ini juga karenanya. "Lo juga nggak akan dijauhin sama mereka, pilihan lo buat temenan sama gue itu salah besar." keluhnya penuh sesal.

Tidak tinggal diam, Fita mengusap pundak temannya untuk meyakinkan bahwa dirinya tidak masalah dengan hal itu. Fita menggerakkan tangannya di udara, senyum terukir manis menghiasi wajah cantiknya.

"Aku nggak apa-apa. Bukannya lebih baik punya satu teman daripada beribu tapi mereka nggak tulus,"

"Fit—"

"Kita pasti bisa walaupun cuma berdua, dan aku harap nilai kita yang paling bagus." Fita memotong perkataan Maudy dengan kata-kata penuh semangat.

Perlahan Maudy mengangguk, jika tidak ada yang mau sekelompok dengan mereka bukan berarti dirinya harus pasrah, tetapi memanfaatkan peluang ini untuk membuktikan ke semua orang bila ia bisa lebih baik dari mereka semua.

[GS2] OTHER SIDE (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang