Lagi mood ngetik, semoga suka ya. Komen yuk!
🥀-Happy Reading-🥀
Maudy membuang sekantong plastik berisi sampah ke tong biru yang berada di depan gerbang rumahnya. Samar-samar terdengar suara tawa, Maudy membalikkan badannya, memperhatikan rumah bercat putih. Keningnya mengerut saat mendapati Diva yang tengah terduduk di halaman rumah bersama Rasta.
Pohon besar menghalangi penglihatannya, Maudy berkacak pinggang seraya berpikir cara memata-matai keduanya. Maudy berlari kembali memasuki rumahnya, ia pergi menuju dapur untuk mengambil wadah untuk menyiram tanaman—Gembor yang berisikan air.
Citra yang tengah membaca majalah mendongak mendapati anaknya yang berjalan terburu-buru. "Kamu mau ngapain bawa-bawa gembor?" tanyanya bingung.
"Mau nyiram tanaman, Ma." jawab Maudy dengan raut wajah lugu.
Jawaban Maudy sontak membuat Citra terkejut. Darimana sejarahnya menyiram tanaman pada malam hari, lagipula ini pertama kali anaknya mau repot-repot beraktivitas seperti ini.
"Lho, kenapa malam-malam? Nyiram tanaman itu pagi sama sore aja, Ody." ujar Citra memberitahu.
"Udah nggak apa-apa, Ma. Biar seger,"
"Kamu tuh dikasih tau sama Mama," Citra memilih untuk mengalah, ia tidak mengerti tujuan Maudy menyiram tanaman malam hari.
Maudy menyunggingkan senyumnya memperlihatkan deretan gigi putihnya, cewek itu tetap kekeuh dengan pendiriannya. Pintu yang sudah terbuka lebar mempermudah Maudy untuk keluar, untung Mama memiliki banyak tanaman bunga di halaman.
Tanaman mawar merah menjadi sasaran utama Maudy, air mengalir dari gembor berwarna hijau stabilo. Kedua matanya menatap lurus, memperhatikan kedua remaja berbeda jenis yang tengah membaca buku tebal, sesekali Diva terlihat mengajak Rasta berbicara.
Ada rasa iri yang menyergap, Rasta tampak lebih care dengan Diva, bahkan cowok itu selalu tertawa dan tersenyum lebar. Sampai saat ini Maudy tidak tahu hubungan apa yang terjadi diantara mereka. Maudy melirik jam berwarna putih tulang uang melingkari pergelangan tangan.
"Udah jam 8, Diva nggak ada niat pulang apa?" tanya Maudy, bibirnya mengerucut saat melihat jarak Rasta dan Diva sangat dekat.
Maudy menghentakkan kedua kakinya, secara langsung melihat Diva yang mengulurkan brownies coklat ke bibir Rasta. Tidak ada penolakan dari cowok itu, rasanya geram, namun Maudy sadar dirinya tidak mungkin bisa melarang.
"Dih, Rasta juga punya tangan kali, ngapain coba nyuapin gitu!" cibirnya pedas. Maudy semakin merasa panas, cewek itu melangkahkan kakinya ke kanan, memantau secara lebih dekat.
"YA AMPUN, ODY!" teriak Citra. Wanita paruhbaya itu buru-buru menghampiri anaknya dan merampas gembor.
"Mama, bikin kaget aja." ucap Maudy seraya mengusap dadanya.
"Liat tanaman mawar, Mama," Citra menunjuk pot mawar merah yang sudah tidak berbentuk, air bercampur dengan tanah. "Kamu nyiram airnya kebanyakan." geramnya.
Ceroboh. Mawar merah itu tanaman kesayangan Mama. Maudy menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia sangat merasa bersalah akan perbuatannya yang merugikan.
"Yah, maaf, nggak sengaja." sesal Maudy sambil memilin ujung sweeter yang dikenakannya.
"Kamu kenapa melamun?"
"Cuma kepikiran sesuatu," Maudy berdeham, melirik ke arah depan sekilas. "Aku masuk ke dalam duluan ya, Ma." pamitnya.
Tingkah Maudy benar-benar aneh. Citra menggeleng-gelengkan kepala, memikirkan nasib bunga mawar merahnya. Bukan hanya satu pot, tetapi ada 2 pot yang bernasib sama. Sedari dulu anaknya itu memang selalu ceroboh.
KAMU SEDANG MEMBACA
[GS2] OTHER SIDE (Completed)
टीन फिक्शन"Rasta!" "Ya?" "Kenapa, Sta?" "___" "Kenapa lo harus peduli sama gue?" "Bukan peduli, tapi kasihan." Rasta Dhefino Greynata, cowok cuek berbandana hitam yang tidak pernah mempedulikan sekitarnya. Perlahan pandangan berubah saat melihat kehidupan cew...
![[GS2] OTHER SIDE (Completed)](https://img.wattpad.com/cover/233067867-64-k820761.jpg)