53. MEREKA TAK PERCAYA

1.2K 192 128
                                        

Hidup kadang tak adil. Manusia lebih sering menghakimi, namun tidak pernah mau tau tentang kebenarannya.

***
🥀-Happy Reading-🥀

Suasana di ruangan minimalis yang berada di lantai dasar tampak menegang. Bu Dona menautkan tangan, memperhatikan siswinya dengan raut tak terbaca. Dalam ruangan BK hanya ada mereka berdua yang duduk saling berhadapan dengan ke terdiaman masing-masing.

"Kita tunggu Mama kamu datang," ucap Bu Dona pada siswi di hadapannya.

Tidak ada balasan, Maudy mengangguk kecil seraya tertunduk, menatap kosong jari-jemarinya. Dentingan pintu berbunyi, Maudy menolehkan kepala ke belakang. Wanita paruhbaya yang mengenakan pakaian formal berjalan terburu-buru dengan seulas senyum.

Itu Mamanya. Kemungkinan besar Mama sedang bekerja dan mendapatkan panggilan untuk datang ke sekolah. Mama—Citra terduduk di kursi kosong bertepatan di sebelah anaknya.

"Maaf Bu, tadi jalan raya sedikit macet." tutur Citra sopan sambil memeluk tas bawaannya.

"Iya, tidak apa. Terima kasih karena Ibu sudah menyempatkan diri untuk datang," balas Bu Dona menyunggingkan senyum simpul.

Citra tersenyum, melirik Maudy sekilas. "Jadi ada apa ya, Bu?" tanyanya.

Bu Dona mengeluarkan handphone dari laci meja, berkutik selama beberapa detik. Ia menunjukan video berdurasi 2 menit. Pupil mata Maudy melebar, begitupun dengan respon Mamanya. Suara jeritan dan teriakan itu terdengar mengerikan.

Putaran video terhenti. Bu Dona menaruh handphonenya di atas meja.

"Bukan pertama kalinya Maudy melakukan tindakan bullying di sekolah ini, banyak laporan dari siswa-siswi lain yang merasa tertekan, bahkan trauma." jelas Bu Dona, ia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.

"Tapi itu bukan saya, Bu." Maudy menyela. Mencoba meyakinkan Bu Dona serta Mamanya.

Dalam video itu seorang cewek yang membelakangi kamera, filter digunakan berwarna hitam putih, sehingga tak terlihat jelas wajah sang pelaku. Namun, cewek yang menjadi korbannya adalah Alika—Adik kelas yang dulu seringkali menjadi sasaran bullying-nya.

"Buktinya sudah jelas, kamu tidak bisa mengelak."

"Saya berani bersumpah, orang di video itu bukan saya!" seru Maudy mengangkat jari telunjuk dan jari tengah bersamaan.

"Maaf Maudy, tetapi saya lebih percaya dengan bukti yang ada," Bu Dona beralih pada wanita yang duduk di hadapannya. "Saya harus mengambil keputusan yang tegas. Saya harap Ibu dan Maudy bisa menerima konsekuensinya." ujar Bu Dona.

Matanya kian memanas, Maudy menyeka keringat dingin yang membasahi keningnya. Maudy menoleh ke samping, berharap besar Mama mempercayai perkataannya.

"Bu, orang itu bukan saya, sepulang sekolah saya langsung dijemput supir. Tolong percaya, itu bukan saya." lirih Maudy dengan nafas tercekat.

"Pelanggaran sudah dilakukan berkali-kali, kamu masih punya satu kesempatan. Jika menyia-nyiakan, mohon maaf pihak sekolah akan mengambil keputusan drop out secepatnya." tegas Bu Dona dengan berat hati. Bagaimanapun, keputusan sekolah tetaplah harus diikuti.

"Bu, saya udah berubah... di video itu orangnya bukan saya,"

"Bagaimana Bu Citra? Apakah setuju dengan keputusan yang kami buat?" tanya Bu Dona, mengacuhkan ucapan Maudy barusan.

Citra menghela nafasnya panjang. "Lakukan yang terbaik, Bu." jawabnya.

"Silahkan tanda tangani surat perjanjian ini, Maudy." pinta Bu Dona.

[GS2] OTHER SIDE (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang