37. UNEXPECTED

1.2K 165 236
                                        

🥀-Happy Reading-🥀

Di dalam sebuah kamar bernuansa putih, Rasta tertidur pulas di atas kasur memeluk gulingnya. Dering handphone berbunyi nyaring memenuhi kesunyian yang menyergap. Rasta bergerak, merubah posisi tidurnya menjadi telungkup dengan menyembunyikan wajahnya di bantal.

Dering kembali terdengar, namun rasa kantuknya itu tidak bisa dilawan. Rasta mengulurkan tangan, mencari-cari keberadaan handphonenya di atas nakas dengan mata yang terpejam. Setelah menemukan benda pipih itu, ia mendekatkan ke telinga.

"Halo?" sapanya lebih dulu dengan suara serak khas orang bangun tidur.

"STA, GAWAT!" teriak seseorang di seberang sana.

Rasta mengusap telinganya yang berdengung, "kenapa?" tanyanya bingung.

"Dito... Gue nggak sanggup buat cerita,"

Rasta mengerjapkan mata, menyesuaikan dengan cahaya matahari yang masuk melalui celah-celah ventilasi udara. Ia terduduk bersandar pada senderan ranjang, sesekali menguap saat rasa kantuk menyerang.

"Hah? Dito kenapa, Zra?" tanya Rasta lagi, tetapi tidak kunjung mendapat balasan.

"Lo sekarang mandi, gue tau lo baru bangun tidur. Terus langsung ke markas, Dito dalam kondisi berbahaya!" titah Ezra layaknya ibu-ibu rempong.

Tadi malam Rasta sempat video call dengan Dito dan Sandi sebentar, tetapi Dito tampak seperti biasa, bahkan sifat gila dan konyolnya itu tidak berubah sebagai ciri khasnya. Lalu, apa yang berbahaya? Pertanyaan itu terus berkelana dalam benaknya.

"Kena virus zombie atau autisme?" tanya Rasta terkesan polos.

Dari seberang sana terdengar gelak tawa Ezra. "Anjim! Nggak ada akhlak banget," sahut Ezra saat tawanya mulai mereda.

"Kata lo berbahaya, siapa yang salah?" tanya Rasta lagi.

"Iya, gue yang salah, lo nggak pernah salah di mata gue, Sta." ucap Ezra memilih mengalah, ia ingin mengakhiri telepon sebab menelepon dengan pulsa karena kuotanya habis dan belum sempat untuk membeli.

"Emang,"

"BACK TO THE TOPIC! Buruan ke sini, gue tunggu 17 menit." Ezra berkata dengan nada yang menggebu-gebu.

Matanya teralih pada jam weker di atas nakas yang menunjukkan pukul 08.12 WIB. Sekitar jam 08.29 ia harus tiba di sana dalam keadaan rapi dan perut sudah terisi. Ezra memang benar-benar tidak waras.

"Gila lo? Gue belum sarapan!" protes Rasta tidak terima atas waktu yang diberikan temannya.

"Ya udah, 37 menit 17 detik, gercep!" cetus Ezra menambah jangka waktu lebih lama agar Rasta tidak lagi protes padanya.

Panggilan terputus secara sepihak. Rasta menghela nafasnya gusar, menaruh handphonenya di atas bantal. Ia beranjak dari kasur, mendekati lemari dengan rasa malas. Mengambil jeans hitam, kaos, dan jaket yang senada dengan warna celananya.

Handuk yang tergantung di dekat pintu tidak lupa diambil sebelum memasuki kamar mandi. Rasta menyalakan shower, merasakan dingin saat air mengalir membasahi telapak tangan, membuatnya enggan untuk mandi.

Seharusnya weekend ini ia bersantai di rumah seraya bermain play station dan ribut dengan Abangnya karena orangtuanya tengah berada di rumah saudara dari Ayah yang berada di Bandung sejak kemarin. Kemungkinan malam hari mereka baru pulang.

Di sisi lain, ia juga khawatir dengan kondisi Dito yang membuat Ezra panik dan kelabakan. Rasta termenung, memainkan air di bak membentuk pola-pola asal dengan jarinya. Ia merasa ragu, bisa saja Ezra dan yang lain hanya mengerjainya. Ya, kemungkinan besar seperti itu.

[GS2] OTHER SIDE (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang