24. KENAPA TIBA-TIBA?

1.2K 158 157
                                        

Votement banyak-banyak,

🥀-Happy Reading-🥀

Pintu cokelat terbuka, Maudy menenteng tas ranselnya, melangkah mendekati gerbang berwarna hitam yang tertutup rapat. Hari ini Pak Imam tidak bisa mengantarkannya ke sekolah, sejak pagi-pagi buta supirnya itu sudah pergi mengantar Mama untuk bekerja seperti biasa.

Maudy membalikkan badannya. Rasta yang mengenakan helm hitam serta jaket bomber tengah menyalakan mesin motornya. Maudy berdeham, cowok itu mendongak dengan kedua alisnya yang tertaut. Tidak kunjung lama, Maudy memilih untuk berjalan menjauh dari area rumah.

Udara pagi yang berhembus terasa sejuk. Maudy merentangkan kedua tangannya, kelopak matanya tertutup. Pertama kalinya ia berangkat sekolah sendiri serta menggunakan angkutan umum, selama ini ia selalu diantar oleh supir pribadi, walaupun jaraknya dekat.

Terbiasa hidup bergelimang harta membuatnya tidak bisa mandiri, selalu bergantung pada kedua orangtuanya. Maudy tersenyum masam, mengingat Papa yang sudah ditahan selama 1 Minggu lebih.

Suara geberan motor terdengar mendekat, tidak lama motor sport menghalangi jalannya. Walau sang pengendara motor tak melepaskan helm-nya, namun Maudy tetap mengetahui siapa orang itu.

"Bareng?" tanya Rasta secara tiba-tiba.

"Em....., N-Nggak usah. Gue bisa naik kopaja atau mungkin angkot," tolaknya mentah-mentah, tetapi berbeda dengan hatinya yang sudah menjerit.

Rasta mengangguk singkat, menyalakan mesin motornya sebelum melaju kencang meninggalkan Maudy bersama keterkaitannya. Tidak habis pikir, ia kira Rasta akan memaksanya untuk tetap pergi sekolah bersama. Rasanya Maudy terlalu pede, karena ekspetasi tidak sesuai dengan realita.

"Bego! Ngapain sih gue nolak, daripada nunggu angkot yang datangnya lama. ini semua nggak bakal terjadi kalau gue nggak gengsi!" Maudy menghentakkan kakinya, berjalan lebih cepat menyusuri jalanan komplek.

Selama perjalanan tidak henti-hentinya cewek itu mengumpati kebodohannya.

"Maudy bego!" ucap Maudy sarkas.

"Emang," timpal seseorang.

Maudy mengerjapkan matanya, ia menolehkan kepalanya ke arah samping mendapati Rasta yang duduk di atas motor dengan tatapan tajam terarah padanya.

"Lho, kenapa lo masih di sini?" tanya Maudy heran. Pasalnya beberapa menit yang lalu cowok itu sudah melesat dengan motornya.

"Lo mana mau naik angkot,"

"Mau! Jangan sok tau makannya,"

"Serius?"

"Iya. Buruan pergi,"

"Di angkot panas,"

"Gue juga tau. Udah sana!" Maudy mengibaskan tangannya, berupaya mengusir Rasta yang tetap kekeuh menghasutnya.

"Rawan penculikan," ujar Rasta. Setelahnya, ia kembali memakai helm bersiap menarik pedal.

Perasaan Maudy menjadi bimbang. Perkataan Rasta sukses membuat dirinya ketakutan, apalagi jika benar-benar ada orang yang mau menculiknya saat berada di angkot. Maudy mendongak ketika geberan motor Rasta mulai menjauh.

"STA!" teriak Maudy seraya berlarian. "Bareng deh, gue takut aja diculik beneran, kasian nyokap gue." ucapnya memelas.

Rasta mendengus, "Gengsi digedein." sinisnya.

Maudy tertawa kecil, berhati-hati menaiki jok belakang motor yang tinggi. Bagian pahanya yang sedikit terekspos ditutupi dengan tas ranselnya. Maudy hampir terhuyung saat Rasta langsung menarik gas motornya, untungnya ia langsung sigap mencengkram jaket bomber yang dipakai cowok itu.

[GS2] OTHER SIDE (Completed)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang