13. RASA KAGUM

1.4K 148 67
                                        

ALASTER

Berat saling pukul, ringan saling rangkul

***
🥀-Happy Reading-🥀

Malam hari pukul 07.34 WIB, Rasta keluar dari dalam kamar dengan kaus putih yang terbalut jaket jeans hitam serta bandana hitamnya. Tidak lupa Rasta juga membawa beberapa perlengkapan untuk melukis di dalam tas kecil. Rasta menuruni anak tangga sedikit berlari, keadaan ruang tamu terlihat sepi, mungkin kedua orangtuanya sedang berada di dalam kamar.

Suara bising terdengar samar-samar. Dugaanya ternyata salah, Ayah dan Bunda sedang berada di halaman rumah. Langkahnya terhenti didekat pintu sekadar untuk melihat apa yang tengah dilakukan mereka. Rasta terbelalak, nyatanya mereka sedang bakar-bakar jagung.

"Tahun baru masih lama,"

Ayah—Rey spontan menolehkan kepalanya sekilas saat mendengar suara anak keduanya. "Nggak apa-apa. Hari ini rabu, besok kamis. Anggap aja nyambut hari baru Sta," ucapnya sambil tertawa kecil.

Rey melanjutkan kegiatannya mengipasi jagung yang berada di atas arang, sesekali ia mengusap keringatnya dengan kaus yang dikenakan. Sedangkan istrinya—Rachel tengah duduk-duduk santai sambil mendengarkan alunan musik dari radio.

"Kamu mau kemana Sta?" tanya Rachel penasaran, sebab penampilan Rasta malam ini terlihat rapi.

"Keluar sebentar Bun,"

"Pasti mau balapan!" Rafa menerka. Cowok itu berjalan menghampiri Ayahnya dengan baskom kecil yang ia pegang.

Sontak Rey menghentikan kegiatannya, ia memincingkan kedua matanya dengan sorot tajam. Rey melangkahkan kakinya menghampiri Rasta yang terdiam kaku.

"Bener kamu mau balapan?" tanya Rey penuh selidik.

Rasta menggelengkan kepalanya cepat. "Nggak, aku mau ke rumah Dito."

"Bohong tuh bohong," Rafa menyahut sambil menahan tawanya yang ingin meledak.

"Apaan sih lo?!" seru Rasta kesal.

"Sekali lagi Ayah tanya, kamu mau pergi kemana?"

"Rumah Dito. Liat, aku udah bawa perlengkapan buat melukis,"

Rey tersenyum seraya mengusap bahu Rasta lembut. "Ayo, Ayah antar." ajaknya.

Pupil mata Rasta melebar, ia menggelengkan kepalanya. Jika Ayah benar-benar mengantarnya pergi ke rumah Dito semua niatnya bisa kacau. Rasta harus mencari cara agar Ayahnya itu percaya dan membiarkannya pergi sendiri.

"Nggak perlu, aku udah gede." tolak Rasta mentah-mentah.

"Tuh, ketauan banget Yah, ada udang di balik cengcorang!"

"Gue lempar lo!" murka Rasta mengangkat tas kecilnya tinggi-tinggi.

Rafa tertawa terbahak-bahak, ia menyatukan kedua telapak tangannya dengan kepala yang tertunduk. "Ampun Nyai Ronggeng," ucapnya.

"Ya udah sana, kamu jangan pulang terlalu malam ya." peringat Rachel yang sudah bosan mendengar suara pertengkaran mereka.

Sebelum Rasta melempar tasnya itu lebih baik Rachel mencegahnya, karena jika Rasta sudah emosi keadaan rumah pasti akan sangat kacau, ditambah Rafa yang juga tidak pernah mau mengalah kepada Adiknya.

"Iya Bun, aku pergi dulu." pamit Rasta. Cowok itu menghampiri Bunda untuk menyalimi punggung tangannya, begitupun juga dengan Ayahnya.

Rasta melangkahkan kakinya menuju garasi yang berada tepat di samping rumah untuk mengambil motor, ia memakai helm full face hitamnya sebelum menaiki motor sportnya. Handphone yang berada dalam kantong jaketnya bergetar berkali-kali, Rasta menghela nafasnya gusar.

[GS2] OTHER SIDE (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang