Berubah untuk dirimu sendiri, bukan karena orang lain.
***
🥀-Happy Reading-🥀
Maudy berjalan menuruni anak tangga menuju toilet siswi yang berada di lantai dasar. Kini, mata pelajaran olahraga tiba. Sebelumnya Maudy berniat untuk mengambil seragam olahraga di lokernya. Sama seperti kemarin-kemarin, tatapan tidak suka selalu mengiringi.
Lama-kelamaan ia mulai bosan untuk meladeni mereka yang semakin menjadi-jadi, tentu membuat waktunya terbuang sia-sia. Maudy membuka pintu loker, helaan nafasnya terdengar. Kondisi di dalam lokernya tidak seperti tempo lalu, tetap bersih dan wangi.
Maudy mengambil seragam olahraganya, mengernyitkan dahi saat mendapati beberapa surat cinta. Maudy memasukan surat-surat tersebut ke dalam plastik, ia tidak akan membuangnya, namun tetep menyimpan di dalam loker. Pintu loker tertutup, tidak lupa menguncinya kembali.
Letak toilet siswi memang tidak begitu jauh, kebetulan selalu sepi jika kegiatan belajar mengajar sedang dimulai. Maudy memasuki salah satu bilik, mengganti seragam yang dikenakannya. Dalam beberapa menit Maudy keluar dari bilik, mengikat rambutnya yang tergerai bebas.
Setelah itu, Maudy beranjak melangkahkan kakinya keluar dari toilet. Baru beberapa langkah, ia teringat jika dasinya tertinggal di dalam bilik. Maudy memutar tubuhnya, tidak sengaja menginjak tali yang menggantung hingga ke permukaan lantai.
Byurr
Air berwarna kehitaman dengan bau yang menyengat membasahi seluruh tubuhnya. Maudy mengerjapkan matanya berkali-kali, mengibaskan-ngibaskan tangan untuk menghilangkan bau itu, tetapi semua rasanya percuma.
"Ups! Sorry, Maudy."
Pupil matanya melebar. Sheila dan Ersa berdiri di hadapannya seraya bersidekap, mengangkat dagunya tinggi-tinggi memberikan kesan arrogant. Maudy berdecih, merasa muak melihat mereka.
"Maksud lo apa?!" tanya Maudy, sebelah alisnya terangkat.
"Nggak ada maksud apa-apa sih, tapi kayaknya lo lebih cantik kalau gini," Sheila melirik Ersa yang menahan tawanya. Seringain tipis tercetak jelas menghiasi wajahnya.
Bukan pertama kalinya Sheila seperti ini, ia semakin yakin jika lokernya yang penuh sampah dan tulisan kasar itu dalangnya adalah Sheila.
"Udah gila lo?! Dari kemarin lo emang cari masalah sama gue! Dan lo pikir, gue bakal diam aja?"
Sheila tertawa, memainkan ujung rambut ombre-nya. "Lihat deh, Sa. Kasihan ya sekarang nggak punya teman. Semua orang ngejauh, dihujat sana-sini." cibirnya.
"Emangnya gue ngerugiin lo?!"
"Jelas. Mending lo cepet-cepet pindah dari sekolah ini, di sini lo tuh cuma sampah! Nggak akan pernah dianggap,"
"MULUT LO DIJAGA YA!!" teriak Maudy seraya mengancungkan jari telunjuknya. Emosinya mulai terpancing.
Maudy tidak segan-segan mengambil gayung yang berisikan air, ia menyiram wajah Sheila dan Ersa bergantian, lalu melempar gayung itu ke sembarang arah.
"Mending kalian ngaca dulu, deh. Apa bedanya gue sama kalian? Sama-sama sampah, kan." sindir Maudy blak-blakan.
Sheila mengusap wajahnya kasar, sir yang disiramkan Maudy juga membasahi seragam putihnya. "Kurang ajar lo! Gue sama lo itu beda, lo emang pantas buat diinjak-injak!" ujarnya penuh penekanan.
"Duh, heran gue. Di rumah beneran nggak ada kaca? Jujur ya Sheil, dari awal itu gue ilfeel banget sama lo. Sebenernya niat lo sekolah atau mau goda iman cowok?" tutur Maudy memainkan kedua alisnya bergantian. Melihat wajah Sheila yang berubah memerah, Maudy terkekeh geli.
KAMU SEDANG MEMBACA
[GS2] OTHER SIDE (Completed)
Roman pour Adolescents"Rasta!" "Ya?" "Kenapa, Sta?" "___" "Kenapa lo harus peduli sama gue?" "Bukan peduli, tapi kasihan." Rasta Dhefino Greynata, cowok cuek berbandana hitam yang tidak pernah mempedulikan sekitarnya. Perlahan pandangan berubah saat melihat kehidupan cew...
![[GS2] OTHER SIDE (Completed)](https://img.wattpad.com/cover/233067867-64-k820761.jpg)