Ceritanya ngebosenin ya? Soalnya yang baca makin dikit :(
🥀-Happy Reading-🥀
"Lo pulang naik apa, Fit?" tanya Maudy memasukan buku-buku tulis serta tempat pensil ke dalam tas.
Fita mendongak, tangannya terangkat di udara, menjawab pertanyaan temannya dengan bahasa isyarat.
"Bis sekolah, seperti biasanya."
Sesudah berberes, kedua cewek itu berjalan keluar kelas. Keadaan sekolah lumayan sepi, beberapa anak OSIS tengah berkumpul di lapangan. Maudy menghentikan langkahnya di dekat tangga, kali ini ia akan menghampiri Rasta lebih dulu.
"Hati-hati, Fit." pesan Maudy sambil melambaikan tangan pada Fita yang menuruni anak tangga.
Sepasang kaki Maudy bergerak cepat menuju kelas 11 MIPA 2. Maudy berjinjit di depan kaca, kelas sudah sepi. Tanpa ragu Maudy melangkahkan kakinya memasuki kelas, dirinya mengira Rasta tengah sendiri membaca buku paket, tapi ternyata bersama Diva.
Rasanya berat melanjutkan langkah, tetapi sudah terlanjur karena Rasta menyadari keberadaannya. Senyum Rasta terukir lebar, ia melembaikan tangan meminta Maudy untuk mendekatinya. Dengan sangat terpaksa Maudy menurut, matanya menajam seraya bersidekap.
"Kamu pulangnya masih lama?" tanya Maudy bertumpu pada ujung meja.
Rasta menutup buku paket, menaruhnya ke atas meja. "Belum tau. Katanya Bu Erlin mau bahas olimpiade," jawabnya.
"Oh, gitu." Maudy mendudukan bokongnya di kursi samping Rasta, sesekali melirik ke arah Diva yang berpura-pura fokus pada bacaannya.
"Tumben kamu langsug ke sini, kenapa?" tanya Rasta, ia merubah posisi kursinya agar berhadapan dengan cewek itu.
Pertanyaan yang Rasta ajukan terkesan aneh jika didengar, seakan-akan cowok itu tidak menyukai kedatangannya. Maudy memincingkan kedua matanya, alisnya terangkat.
"Emangnya nggak boleh?" tanya Maudy berbalik.
"Aku nggak bilang gitu," elak Rasta. Sejak berangkat sekolah Maudy tampak sensitif, ketika ditanya jawabannya selalu ketus.
Maudy berdeham, mengeluarkan secarik kertas robekan dari dalam tasnya. "Aku minta ditemenin ke toko buku," ucapnya memberikan kertas itu kepada Rasta.
"Sendiri juga bisa, kan? Manja banget!" sahut Diva tanpa mengalihkan pandangan dari handphone.
"Sorry, gue nggak minta pendapat lo," Maudy tersenyum masam, padahal aslinya ia menahan kesal.
"Pacar kok dijadiin babu, kasihan ya." cibir Diva pedas dilanjut kekehan kecil.
Deru nafas Maudy tidak teratur, ia beranjak dari duduknya. Mengambil buku paket Rasta, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi. Sontak, buru-buru Rasta mencekal tangan Maudy, sebelum buku itu melayang mengenai Diva dan berakhir dengan keributan.
"Lo apaan sih?! Kurang kerjaan banget kayaknya!" teriak Maudy seraya membanting buku yang dipegangnya ke atas meja.
"Dy, udah biarin aja." sela Rasta berusaha menengahi mereka.
Pupil mata Maudy membesar, mana mungkin ia bisa diam dan tenang saat orang menghinanya dengan kata-kata tidak pantas. Lagipula Maudy tidak habis pikir, mengapa Rasta masih bersikap santai dan memintanya untuk mengalah.
"Masa dia ngomong seenaknya, aku cuma diem. Kamu aneh!" ketusnya. Matanya kian menajam.
"Duh, makin kasian nggak dianggap. Oh, atau mungkin dia ini cuma pelampiasan lo aja, Sta?" tanya Diva dengan seringain tipis yang tercetak jelas menghiasi wajahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
[GS2] OTHER SIDE (Completed)
Novela Juvenil"Rasta!" "Ya?" "Kenapa, Sta?" "___" "Kenapa lo harus peduli sama gue?" "Bukan peduli, tapi kasihan." Rasta Dhefino Greynata, cowok cuek berbandana hitam yang tidak pernah mempedulikan sekitarnya. Perlahan pandangan berubah saat melihat kehidupan cew...
![[GS2] OTHER SIDE (Completed)](https://img.wattpad.com/cover/233067867-64-k820761.jpg)