Votement banyak-banyak buat Emak, ayangnim :)
🥀-Happy Reading-🥀
"DASI, WOI!" teriak Sandi mengambil dasi abu yang dilipat menjadi kecil.
"Topi gue mana?!" Dito berjongkok, mengobrak-abrik isi laci mejanya. "Eh, Ar, lo ambil topi gue yang di bawah kolong ya?" tanya Dito terkesan menuduh.
Arka terkesiap saat namanya disebut, cowok itu mengunyah permen karetnya dengan gerakan lamban. Di antara teman-temannya memang ia yang berpenampilan paling rapi, memakai atribut lengkap dan seragam yang dimasukan.
"Apaan, sih? Tau juga nggak," ketus Arka tak terima dituduh.
"UCUP!" pekik Ezra dengan wajah berbinar-binar.
"Hah? Kenapa Ucup?" tanya Rasta bingung. Hari ini ia lupa membawa topi.
"Soalnya Ucup bandarnya atribut sekolah. Ayo, samperin," ajak Sandi melambaikan tangan seolah-olah memerintah teman-temannya untuk mengikuti.
Keenam cowok itu berlari keluar kelas, menuju 11 MIPA 1 yang letaknya berada di ujung koridor. Hari ini upacara bendera dilaksanakan, Minggu lalu tidak, sebab hujan turun deras pada pagi hari. Maka tak heran jika banyak siswa-siswi yang berbondong-bondong meminjam atribut sekolah agar tidak terkena hukuman.
Kelas 11 MIPA 1, kumpulan anak-anak pintar atau termasuk kelas unggulan. Jelas berbeda dengan kelas lain, siswa-siswi MIPA 1 lebih rajin dan taat pada peraturan sekolah.
Pandangan Ganda mengedar, matanya tertuju pada cowok berkepala plontos yang terduduk di kursi seraya memainkan handphone. Ganda memasuki kelas bersama dengan Ezra, sedangkan yang lain memilih untuk menunggu di luar kelas.
"Panas banget, njir. Apalagi dibagian sana," ucap Sandi seraya menunjuk bagian sisi lapangan basket.
"Itu barisan kelas kita, San." balas Rasta menyipitkan mata sebab sinar matahari memantulkan lewat jendela.
Sandi memperhatikan ruang UKS yang dipenuhi oleh siswa-siswi anggota PMR yang siap bertugas. Ruangan itu tampak lebih menggoda. Empat buah brankas, teh manis hangat, AC yang dingin. Ingin rasanya duduk manis di dalam sana hingga upacara bendera selesai.
"Males banget gue upacara. Ayo, ke UKS aja, pura-pura sakit." ajak Sandi dengan raut wajah memelas.
"Bu Jena suka jaga di sana," ujar Arka menghalangi niat buruk temannya itu.
Selaku penanggung jawab eskul PMR, Bu Jena memang lebih sering berada di UKS, untuk memantau perkembangan anak-anak yang dibimbingnya. Walaupun terkesan gue yang sangat baik serta lembut, tapi ia cukup protective, sehingga tidak ada yang berpura-pura sakit saat upacara.
"Tuh, guru aja males, kita juga berhak." ucap Dito menyuarakan pendapatnya.
"Gue nggak paham sama isi otaknya Toto," keluh Arka menggelengkan kepala sambil bersidekap, menatap temannya dengan sorot kasihan.
Dito berdecak sebal, menyentil kening Arka keras-keras. "Frekuensi otak lo sama gue itu nggak jauh beda, cuma kurang 0,5 doang." sahutnya mengingatkan.
"Najis! Heran, kenapa lo bangga banget?" tanya Arka dengan alis tertaut.
"Bersyukurlah kawan, hidup adalah anugerah," Dito tertawa seraya merangkul bahu Arka yang lebih tinggi darinya.
"Iya, lo paling bener." cibir Sandi menengahi perdebatan, hanya karena masalah frekuensi otak.
Kedua teman mereka yang berada di dalam kelas MIPA 1 belum juga keluar, padahal sekitar 5 menit lagi bel pertanda upacara di mulai akan berbunyi. Bahkan sudah ada beberapa siswa-siswi yang berdiri di tengah-tengah lapangan, selagi menunggu. Sebab tangga menuju lantai dasar akan ramai.
KAMU SEDANG MEMBACA
[GS2] OTHER SIDE (Completed)
Novela Juvenil"Rasta!" "Ya?" "Kenapa, Sta?" "___" "Kenapa lo harus peduli sama gue?" "Bukan peduli, tapi kasihan." Rasta Dhefino Greynata, cowok cuek berbandana hitam yang tidak pernah mempedulikan sekitarnya. Perlahan pandangan berubah saat melihat kehidupan cew...
![[GS2] OTHER SIDE (Completed)](https://img.wattpad.com/cover/233067867-64-k820761.jpg)