Votement banyak² biar cepet next, okey.
Setiap orang mempunyai cara tersendiri dalam menciptakan kebahagiaan.
***
🥀-Happy Reading-🥀
Markas yang berada tidak jauh dari jalan besar ini dipenuhi oleh seluruh anggota Alaster. Ganda selaku ketua dan Sandi sebagai wakil tengah menyusun rencana. Kemarin malam Dito diserang anggota Dalgon saat melintasi jalan sepi. Hal itu juga yang membuat cowok berkulit eksotis itu tidak bisa hadir ke sekolah.
"Kita nggak bisa diem aja, dari dulu mereka emang selalu cari gara-gara!" seru Ganda menahan geram, tangannya terkepal kuat sehingga jari-jemarinya memutih.
"Terus sekarang kita mau gimana?" tanya Arka bingung. Sedaritadi ia tidak mengerti pokok pembicaraan teman-temannya.
"Langsung aja serbu si Dega." usul Sandi. Lama-lama permainan Dega dan antek-anteknya itu semakin licik.
Sekitar sebulan yang lalu, Rasta dicegat saat sedang melewati jalan sepi, lalu berakhir dengan dipukuli dengan lawan yang tidak sebanding. Tidak hanya itu, kemarin malam Dito juga menjadi korban kedua. Tentu hal ini membuat Ganda marah dan tidak bisa untuk berdiam diri.
"1 banding 30, gitu?" tanya Rasta memastikan.
"Iya. Kalau Dega aja bisa, kenapa kita nggak? Harusnya kita lebih licik!" Ganda mengambil selembar kertas dan bolpoin dari laci meja.
Cowok bermata sipit itu menundukkan kepala, menggambar sketsa letak markas Dalgon seraya menjelaskan pembagian tugas untuk mengepung Dega supaya tidak melarikan diri.
"Tapi Gan, markas mereka selalu ramai, terus gimana cara kita nyerang Dega?" Ezra bertanya sembari menunjuk titik di kertas yang tadi digambar oleh Ganda.
"Tenang aja, Argi udah liat kondisi di sana," sahut Sandi mewakili pertanyaan yang ditujukan pada Ganda.
"Serius, Gi?"
Seluruh pusat mata tertuju pada Argi. Adik kelas itu mengangguk singkat, ia yang diamanatkan menjadi pengawas sudah menjalankan tugasnya.
"Iya, Bang. Salah satu dari kita ada yang jaga di sana, katanya Dega lagi sendiri." balas Argi sambil menunjukkan bukti bertukar pesan dengan salah satu anggota Alaster yang lain.
Arka mengusap dagu, memperhatikan teman-temannya dengan raut tidak terbaca. "Gue nggak yakin, bisa aja antek-anteknya sengaja ngejebak kita," tuturnya merasa ragu-ragu.
"Gue juga berpikir gitu." timpal Rasta menanggapi perkataan Arka barusan.
Kertas di atas meja itu diremas hingga berbentuk bola oleh Ganda, melemparnya ke sembarang arah. Ia memakai jaket bomber berwarna maroon yang tergeletak di sofa, lalu mengambil kunci motor serta helm-nya.
"Itu urusan belakangan, sekarang kita ke sana aja," titah Ganda, ia memberikan kode pada teman-temannya supaya mengikuti.
"To, lo diem di sini, jagain markas." pinta Ezra seraya mendorong bahu Dito agar temannya itu duduk berdiam diri di sofa.
Dito menggeleng cepat. "Nggak mau! Gue mau ikut," balasnya kekeuh.
"Luka di wajah lo aja belum sembuh, mau nambah lagi?" tanya Rasta menekan luka di bagian dahi Dito, membuat sang empu menjerit kesakitan.
"Biarin. Ini namanya solidaritas!" Dito mengibaskan tangannya disekitar dahi, membalas dengan meninju lengan Rasta.
"Dasar ngeyel!" cibir Arka gemas.
KAMU SEDANG MEMBACA
[GS2] OTHER SIDE (Completed)
Jugendliteratur"Rasta!" "Ya?" "Kenapa, Sta?" "___" "Kenapa lo harus peduli sama gue?" "Bukan peduli, tapi kasihan." Rasta Dhefino Greynata, cowok cuek berbandana hitam yang tidak pernah mempedulikan sekitarnya. Perlahan pandangan berubah saat melihat kehidupan cew...
![[GS2] OTHER SIDE (Completed)](https://img.wattpad.com/cover/233067867-64-k820761.jpg)