Tinggalkan jejak ayangnim 💚
🥀-Happy Reading-🥀
Sebuah sepeda melaju kencang di jalan beraspal. Suara kicauan burung terdengar bersahut-sahutan di langit biru. Maudy mengeratkan pegangannya pada pundak Rasta, mendongakkan kepala menikmati semilir angin yang menerpa wajah.
Sore ini mereka memanfaatkan waktu untuk berkeliling menggunakan sepeda. Kebetulan bosan jika hanya berbincang-bincang, jadi memutuskan untuk mencari suasana baru. Maudy mengangkat kamera yang talinya melingkar leher, memotret pemandangan di sekitar.
"Eh, bentar. Berhenti dulu," pinta Maudy sembari menepuk-nepuk punggung Rasta yang terbalut jaket bahan.
Laju sepeda terhenti, Rasta menoleh ke belakang, alisnya tertaut. Maudy turun dari sepeda, berlari ke sisi jalan untuk memotret tanaman mawar putih yang dihinggapi 2 kupu-kupu berbeda warna. Rasta menopang dagu, memperhatikan cewek itu dari jauh.
Tidak lama Maudy kembali, ia menunjukkan layar LCD kamera. Ada rasa bangga bisa memotret lebih baik dari sebelumnya. Maudy menaiki sepeda, satu tangannya berpegangan pada pundak Rasta, sedangkan tangan yang satunya direntangkan.
Rasta menggowes sepeda penuh semangat, pandangannya fokus ke depan. Lagipula Maudy tidak mengajaknya berbicara karena tengah asik memotret apa pun yang dilihatnya. Beberapa menit kemudian, Rasta terhenti di taman kota, tempat di mana ia menjemput Diva saat hujan lebat.
Setelah memarkirkan sepedanya, Rasta mengajak Maudy untuk berjalan mengelilingi taman kota, walaupun tidak ada tujuan setidaknya mereka bisa menghabiskan waktu berdua. Kedua remaja itu duduk di kursi panjang yang berhadapan dengan air mancur.
Lagi dan lagi Maudy memotret air mancur berkali-kali, tampaknya cewek itu tidak mau ada yang tertinggal untuk diabadikan. Rasta menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, tetap setiap memperhatikan Maudy dan rasa penasarannya yang berlebih.
"Bagus nggak? Mau dicetak buat menuhin mading kamar," Maudy memperlihatkan hasil potretannya dengan senyuman lebar.
Rasta berdeham, menimang-nimang jawaban. "Nanti kalau aku bilang jelek, kamu marah." tuturnya.
"Berarti kamu ada niat bilang jelek dong?" tanya Maudy dengan tatapan mengintimidasi.
"Tadinya, tapi sekarang bagus,"
"Oke, anak jujur," tukas Maudy mengacak rambut Rasta. Hembusan nafasnya terdengar. "Fotoin yang keren, tanpa cacat." pinta Maudy menyerahkan kamera itu pada pemiliknya.
Rasta beranjak dari duduknya, mengatur jarak dengan objek yang akan dipotret. Satu foto terambil, Rasta berbalik badan, lalu menghampiri Maudy yang duduk-duduk santai di kursi sembari bersenandung.
"Wow! Kamu nggak ada niat jadi fotografer keliling?" Maudy terpukau melihat ke arah layar LCD kamera.
"Nggak, sibuk soalnya." balas Rasta memasukkan kedua tangannya di saku jaket.
"Perasaan kerjaan kamu cuma nongkrong, tawuran, balapan, plus ribut sama Kak Rafa."
"Itu udah terbilang sibuk, kalau aku jadi fotografer keliling juga. Kapan aku ngapelin kamunya?" tanya Rasta seraya mengangkat kedua alisnya bergantian.
Pipi Maudy memanas, berusaha menahan lengkung senyum. "Dih, jayus!"
"Tapi kenapa salting?" ejek Rasta menyerongkan badan.
Maudy mendekatkan jari telunjuknya di bibir Rasta supaya cowok itu berhenti untuk meledeknya. Ssst... diam." bisiknya.
Sontak Rasta tertawa, membuat Maudy mengalihkan kepalanya ke arah lain untuk menyembunyikan rona merah di pipinya. Anak perempuan berlari tepat di depannya, tanpa sadar ia tersandung batu besar hingga terjatuh.
KAMU SEDANG MEMBACA
[GS2] OTHER SIDE (Completed)
Novela Juvenil"Rasta!" "Ya?" "Kenapa, Sta?" "___" "Kenapa lo harus peduli sama gue?" "Bukan peduli, tapi kasihan." Rasta Dhefino Greynata, cowok cuek berbandana hitam yang tidak pernah mempedulikan sekitarnya. Perlahan pandangan berubah saat melihat kehidupan cew...
![[GS2] OTHER SIDE (Completed)](https://img.wattpad.com/cover/233067867-64-k820761.jpg)