48. DRAMA BARU

1.2K 180 112
                                        

🥀-Happy Reading-🥀

"Cepetan!" titah Arka pada Sandi. Pandangannya mengedar, mengawasi keadaan sekitar.

"Sabar, anjir! Lo pikir gampang?" tanya Sandi sarkas. Cowok bertubuh bongsor itu tengah mengempeskan ban bagian belakang.

Istirahat kedua ini mereka manfaatkan untuk mengerjai Ucup. Alasannya hanya satu, cowok berkepala plontos itu tidak pernah mau membayar hutangnya yang sudah menumpuk hingga berbulan-bulan, setiap ditagih oleh Arka selalu saja ada alasan.

Lama-lama Arka jengah dan sebal bersamaan. Jadilah ia berpikiran untuk melakukannya kejahilan dengan mengempeskan ban motor Ucup bagian depan dan belakang. Semua ini salah Ucup yang mencari perkara dengannya.

"Ini belakangnya juga?" tanya Sandi sambil menepuk ban bagian belakang motor milik Ucup yang diberi pilox merah.

Arka mengetuk-ngetukkan jarinya di dagu, ia tampak berpikir. "Dua-duanya sekalian, pamali satu doang," ujarnya.

"Kasian, bego!" balas Sandi tidak tega.

Walau bagaimanapun, Ucup bisa diandalkan dalam urusan penyedia perlengkapan upacara. Seperti topi, dasi, dan gesper. Cowok berkepala plontos itu memiliki banyak persediaan, entah darimana sumbernya.

"Ah, dia ajak nggak kasian sama gue! Udah cepet kempesin!" seru Arka berusaha bersikap tidak acuh. Ya, tidak dapat dipungkiri bahwa Ucup memang pernah meminjamkan topi padanya.

Sandi berdecak, tetap menuruti permintaan temannya yang terlalu menyesatkan. Sedangkan Arka berkacak pinggang, mengawasi sekitar supaya aksi mereka tidak diketahui orang lain, terutama guru-guru.

"Ekhem,"

Dehaman seseorang membuat kedua cowok itu terkejut. Tidak jauh dari posisi mereka saat ini, terdapat Maudy yang memperhatikan seraya bersidekap. Arka menendang kaki Sandi, meminta temannya itu segera beranjak untuk berdiri.

Sudut bibir Arka tertarik, cowok bertubuh jangkung itu bersiul seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Langkah kaki Maudy semakin mendekat, tepat di depan Arka dan Sandi, ia berjinjit untuk melihat apa yang mereka sembunyikan.

Mereka yang memiliki tubuh tinggi menyulitkan Maudy dalam melihatnya, rasa penasaran kian menjadi-jadi. Sandi dan Arka berdiri dengan tegap serta berdempetan, keduanya sama-sama tersenyum penuh arti membuat Maudy bergidik ngeri.

"Kalian kenapa, deh?" Maudy menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"Nggak apa-apa. Lo ngapain di sini?" tanya Sandi mengalihkan topik.

Maudy menunjukan tote bag navy yang dipegangnya. "Barang gue ada yang ketinggalan di pos. Kalau kalian?"

"K-kita... nyari kodok," alibi Arka supaya cewek itu langsung percaya.

Alis Maudy terangkat. "Buat apa?" tanyanya penasaran. Secara logika, tidak mungkin juga ada kodok diparkiran.

"Biasa ada tugas penelitian biologi." sahut Sandi seraya menyenggol lengan Arka, sehingga temannya itu ikut mengangguk meng'iyakan.

"Masa? Bukannya tugas penelitian udah dari semester satu?"

"Lah, iya! Aneh banget lo, San." Arka mencibir, menyalahkan kebodohan temannya yang satu ini.

"Gue terus yang salah!" gumam Sandi pasrah.

Arka refleks menepuk keningnya, ia baru saja mengingat sesuatu.

"Eh, Dy. Tadi Rasta nyariin elo," ucap Arka memberi tahu.

Sebelum menjalankan aksinya, Rasta memang sempat meminta Arka untuk menyampaikan pesan jika bertemu dengan Maudy, sebab temannya itu sudah mencari di kelas, tetapi Maudy tidak juga ditemukan.

[GS2] OTHER SIDE (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang