Rasa nyaman ini hadir karena sudah terbiasa bersama, bukan hanya kebetulan.
***
🥀-Happy Reading-🥀
"Bun, topi yang suka Rasta pake taruh di mana?" tanya Rasta menghampiri Bundanya yang berada di dapur.
Rachel menoleh sekilas, "biasanya Bunda simpen di lemari," jawabnya. Wanita paruhbaya itu memasukkan putih telur ke dalam mangkuk yang berisi adonan tepung.
Hampir 10 menit Rasta berdiam di depan lemari mencari-cari keberadaan topi kesayangan, tetapi hasilnya nihil. Jelas-jelas ia tidak menemukan, bahkan baju-bajunya yang sudah tersusun rapi menjadi sangat berantakan.
"Nggak ada, makannya aku nanya," Rasta tetap kekeuh.
"Cari yang bener, pake mata bukan mulut aja." cibir Rachel kesal. Bukan hanya Rasta, anak pertama dan suaminya pun sama, lebih banyak bicara dan selalu merepotkan.
Rasta membuka kulkas mengambil satu apel hijau dari dalam, ia terduduk di kursi memperhatikan Bundanya sambil mengerucutkan bibir. Bunda tidak bisa diganggu jika sedang berada di dapur, padahal ia mempunyai janji dengan seseorang.
"Bun, cariin dong topinya," bujuk Rasta dengan raut wajah memelas.
Helaan nafas Rachel terdengar gusar. "Kalau ada Bunda ketok pake ini ya?" Rachel mengangkat beater whisk yang dipegangnya tinggi-tinggi.
Ancaman Bunda membuatnya merinding. Rasta sangat berharap topinya berada di tempat lain bukann di dalam lemari. Rachel mencuci tangan, lalu melangkah keluar dari dapur menuju tangga. Di belakangnya Rasta setia mengekor seraya merapalkan doa-doa meminta perlindungan.
Bulu kuduknya seakan meremang saat Bunda membuka pintu lemari, wanita paruhbaya itu sempat memberikan tatapan tajam melihat kondisi pakaiannya Rasta yang berantakan. Rachel mengangkat satu per satu pakaian anaknya ke atas kasur agar mudah untuk mencarinya.
Benar saja topi itu ternyata tertumpuk oleh jaket yang baru dicuci kemarin. Rachel berkacak pinggang, melempar topi itu ke arah anaknya. Tadi Rasta sempat mengangkat jaket itu, tetapi topinya tidak ditemukan. Hebat, kekuatan magis seorang ibu tidak bisa dikalahkan.
"Mana yang nggak ada?!" sarkas Rachel seraya mengangkat beater whisk.
Rasta terkekeh geli, mencium sebelah pipi Bunda cepat, lalu berlari keluar kamarnya sebelum Bunda mengetuk kepalanya dengan beater whisk yang sedaritadi dia bawa-bawa. Rasta memakai topinya terbalik, berjalan keluar rumah dengan kamera yang melingkar di leher.
Tujuannya yaitu menuju rumah yang terhalang satu rumah di depannya. Rasta mengedarkan pandangan, matanya tertuju pada wanita paruhbaya yang tengah menyiram bunga mawar merah di halaman.
"Assalamualaikum, Tante." sapa Rasta terkesan sopan.
Kegiatan menyiram tanaman terhenti. Citra menoleh, senyumnya mengembang mendapati keberadaan Rasta di depan rumahnya. Selain bertetangga, Citra juga sering mendengarkan curhatan Maudy yang ternyata menyukai Rasta.
"Waalaikumussalam. Kenapa, Ras?"
"Maudy-nya ada, Tan?" Rasta balik bertanya.
Citra mengangguk. "Ada kok, baru aja selesai sarapan, Tante panggilin dulu ya." ucapnya kemudian memasuki rumah bercat tosca.
Rasta tersenyum tipis sebagai jawaban. Selagi menunggu, cowok bertopi putih itu mengangkat kameranya, memotret langit biru yang cerah siang ini. Tidak hanya itu ia juga memotret mawar putih yang tampak segar dengan aesthetic.
KAMU SEDANG MEMBACA
[GS2] OTHER SIDE (Completed)
أدب المراهقين"Rasta!" "Ya?" "Kenapa, Sta?" "___" "Kenapa lo harus peduli sama gue?" "Bukan peduli, tapi kasihan." Rasta Dhefino Greynata, cowok cuek berbandana hitam yang tidak pernah mempedulikan sekitarnya. Perlahan pandangan berubah saat melihat kehidupan cew...
![[GS2] OTHER SIDE (Completed)](https://img.wattpad.com/cover/233067867-64-k820761.jpg)