28. BERAWAL DARI EARPHONE

1.3K 168 157
                                        

CINTA. Cuma 1 kata, tapi punya banyak rasa.

***
🥀-Happy Reading-🥀

Motor sport berwarna merah bercampur hitam terhenti di parkiran sekolah. Rasta—sang pengendara motor melepaskan helm full face hitamnya, merapihkan susunan rambutnya lewat kaca spion, tidak lupa memakai bandana yang melingkar dengan sempurna di kepalanya.

Sepasang earphone putih tersangkut di telinganya, bibirnya bergerak mengikuti lirik lagu seraya melangkah di koridor lantai dasar. Rasta mengernyitkan dahi melihat kejadian disekitarnya. Semua orang terlihat menggunjing Maudy yang berjalan tidak jauh darinya.

Rasta mempercepat langkah kakinya, berusaha menyamakan langkah Maudy. Saat mereka bersisian, ia langsung melepaskan sebelah earphone, lalu memasangkannya pada cewek itu. Tindakan yang terlalu tiba-tiba itu membuat Maudy tertegun.

"Sta—" lidahnya terasa kelu, jarak mereka terlalu dekat.

"Nyinyiran mereka cuma bikin telinga lo budek." ujar Rasta membalas keterkejutan Maudy.

Maudy mengangguk, "T-Thanks," gumamnya.

Canggung. Padahal ini bukan pertama kalinya mereka berdekatan, tetapi rasanya masih sama.

Sudut bibir Rasta tertarik, dalam hitungan detik air mukanya berubah seperti biasa, cuek dan tidak terbaca. Keduanya menaiki anak tangga, tetap dengan earphone yang menyangkut sempurna di salah satu telinga mereka. Beberapa pasang mata menatap dengan sorot tidak percaya, sebab baru kali ini Rasta dan Maudy melakukan kontak fisik.

Apalagi mengingat kejadian tempo lalu, di mana Rasta menyiramkan jus alpukat ke wajah Maudy saat kantin dalam keadaan ramai. Jelas momen itu tidak akan pernah terlupakan. Rasta mencekal pergelangan tangan Maudy hingga keduanya berhadapan, cowok itu melepaskan sebelah earphone yang masih tersangkut di telinganya, kemudian memasangkannya pada Maudy.

Kabel earphone yang masih tersangkut pada handphonenya segera dicabut. Rasta mengambil handphone yang berada dalam genggaman Maudy, menggerakkan jarinya di atas layar handphone. Suara alunan musik terdengar, Maudy tetap terdiam kaku di tempatnya.

"Balikin earphone gue balik sekolah," Rasta memutar tubuhnya, berjalan menuju kelasnya yang terhalangi oleh satu kelas.

Maudy tertunduk, mengukir lebar  senyumannya. Jantungnya berdebar tidak karuan, pipinya kian memanas menimbulkan rona merah. Namun semua tidak bertahan lama, Maudy menelan salivanya, bibirnya terkatup rapat-rapat.

Tidak jauh darinya, Rasta tengah mengusap rambut Diva lembut. Seharusnya dari awal Maudy sadar jika cowok itu hanya kasihan padanya, bukan ada maksud tertentu. Maudy menghela nafasnya gusar, tapi tidak semudah itu untuk menyerah, sebelum janur kuning melengkung.

"Gue nggak boleh nyerah gitu aja, lagian hubungan mereka juga belum pasti, kan." tekad Maudy kuat. Cewek itu menepuk dadanya lalu mengepalkan tangannya kuat-kuat, sebagai penyemangat untuk dirinya sendiri.

Anggap saja Diva sebagai benteng penghalang untuk mendekati Rasta, keyakinannya bertambah besar, suatu saat nanti Rasta pasti dapat digapainya. Maudy memutar tubuhnya, beranjak menuju kelasnya dengan senyum yang mengawali paginya.

 Maudy memutar tubuhnya, beranjak menuju kelasnya dengan senyum yang mengawali paginya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
[GS2] OTHER SIDE (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang