Ketemu lagi kita, semoga makin betah ya.
🥀-Happy Reading-🥀
Buku-buku yang tersusun rapi di atas meja belajar, Maudy masukan ke dalam tote bag navy. Cewek itu mengikat rambut panjangnya, memoleskan bedak bayi pada wajahnya. Maudy beranjak keluar dari kamar, menuruni anak tangga menuju lantai dasar.
Kemarin malam Maudy sempat mengirimkan pesan kepada Rasta untuk membantu mengerjakan tugas matematika, ia akui memang terlalu bodoh dalam pelajaran itu. Mama tidak ada di rumah, hanya ada Mbok Darti yang tengah memasak di dapur untuk makan siang nanti.
Maudy mendekati pintu, menutupnya kembali. Pagar besi terbuka, membiarkannya tetap terbuka sebab sebentar lagi Pak Imam pasti tiba. Kurang lebih 11 langkah, ia telah sampai di tempat tujuan. Maudy mengedarkan pandangannya, tertuju pada security yang tengah menyeruput kopi panas di dalam pos.
"Permisi, Pak." sapa Maudy meminta dibukakan gerbang.
"Eh, Neng. Sebentar atuh," Mang Aji buru-buru keluar dari pos, membukakan gerbang rumah yang terkunci.
"Terimakasih, Pak."
Tidak lupa Maudy mengucapkan terimakasih. Dalam kesehariannya saat ini, ia tidak boleh melupakan kata tolong, permisi, dan terimakasih kepada siapapun itu.
"Sami-sami," balas Mang Aji seraya tersenyum lebar.
Perkarangan rumah Rasta memang memiliki ukuran lebih luas dari rumahnya. Maudy mengetuk pintu cokelat tua itu berkali-kali, sesekali memperhatikan lewat jendela yang terbuka lebar. Tidak lama terdengar derit pintu terbuka, Maudy mendapati wanita paruhbaya yang mengenakan celemek.
"Kamu anaknya Ibu Citra bukan, sih?" tanya Rachel memincingkan mata, berusaha mengingat-ingat.
Perlahan Maudy mengangguk. "Iya, Tante. Saya Maudy," jawabnya.
"Cari siapa? Rafa atau Rasta?"
"Saya cari Rasta, ada janji soalnya, Tan." ucap Maudy sopan.
"Masuk dulu ya, Rasta baru bangun tidur, mungkin sekarang masih mandi." ajak Rachel sambil menyunggingkan senyumnya.
"Makasih, Tante."
Keduanya memasuki rumah minimalis bercat putih itu. Maudy mendudukan bokongnya di salah satu sofa. Tertunduk memainkan handphone, rumah Rasta terlihat sangat sepi. Semakin lama Maudy merasa bosan, ia melirik arloji yang melingkar sempurna di pergelangan tangannya, sekitar 10 menit sudah menunggu.
Derap kaki terdengar, Maudy menoleh ke arah tangga. Terlihat Rasta baru saja turun, mengenakan pakaian rumahan serta rambutnya yang masih basah membuat Maudy gagal fokus. Cowok itu hanya membawa sebuah pulpen biru dan selembar kertas.
"Sorry, gue kelamaan." ujar Rasta sembari mengacak rambutnya.
"Ah, nggak kok, gue juga baru aja dateng." tutur Maudy mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Rasta terduduk di karpet bulu, membuat Maudy mengikuti. Keduanya duduk saling berhadapan. Maudy membuka resleting tote bag, mengeluarkan buku paket matematika, lalu menaruhnya di atas meja kaca.
"Mana yang lo nggak paham?" tanya Rasta membuka lembar per lembar kertas mencari-cari materi.
Maudy berdeham, menopang dagunya dengan sebelah tangan. "Semuanya," jawabnya dengan watados.
Pupil mata Rasta melebar, cowok itu menatap Maudy penuh keterkejutan. Materi sebanyak ini tidak ada yang dipahami cewek itu, padahal dari kelas 10 sudah ada yang dipelajari dan sekarang tinggal meneruskan ke jenjang yang lebih sulit.
KAMU SEDANG MEMBACA
[GS2] OTHER SIDE (Completed)
Roman pour Adolescents"Rasta!" "Ya?" "Kenapa, Sta?" "___" "Kenapa lo harus peduli sama gue?" "Bukan peduli, tapi kasihan." Rasta Dhefino Greynata, cowok cuek berbandana hitam yang tidak pernah mempedulikan sekitarnya. Perlahan pandangan berubah saat melihat kehidupan cew...
![[GS2] OTHER SIDE (Completed)](https://img.wattpad.com/cover/233067867-64-k820761.jpg)