Sedang berada di fase bertahan tanpa tujuan, pergi tapi enggan.
***
🥀-Happy Reading-🥀
Berita tentang kepergian Papa tidak berefek apa pun. Semua orang masih tetap menghina dengan kalimat-kalimat yang menyakitkan, tidak ada yang berubah. Maudy dengan mata sembabnya hanya bisa pasrah, tidak mau memikirkan hinaan mereka yang tidak berujung.
Rasanya tidak ada semangat untuk dirinya bersekolah, tatapannya terlalu kosong. Maudy memasuki kelasnya, setiap pasang mata menatapnya dengan berbagai sorot. Lagi dan lagi, masih ada orang yang tega menaruh sampah ke atas mejanya. Maudy memutar bola matanya malas, menaruh tasnya di laci meja.
Aneh. Maudy tidak mendapati keberadaan Fita, bahkan tas temannya itu juga tidak ada. Bau yang berasal dari sampah-sampah menyengat indra penciuman, Maudy merasakan perutnya bergejolak, ia berlari keluar kelas menuju toilet seraya memegang perutnya.
Maudy memuntahkan seluruh isi perutnya di wastafel, menyenderkan tubuhnya pada tembok dengan kedua mata yang terpejam. Sejak tadi malam ia tidak memakan apa pun, semua orang sibuk untuk menenangkan Mama yang masih tidak terima kepergian Papa. Maudy memutar keran hingga air mengalir deras, ia mencuci mukanya agar terlihat lebih segar.
Setelah itu, Maudy mengikat rambutnya yang tergerai bebas. Tungkai kakinya terasa melemas sekadar untuk berjalan keluar dari toilet. Baru beberapa langkah, perutnya terasa sangat perih. Maudy memilih untuk duduk di kursi panjang yang terletak tidak jauh dari toilet.
Rintihan-rintihan terdengar, Maudy tertunduk mencoba melawan rasa sakit. Telapak tangannya dingin serta berkeringat. Maudy meremas perutnya, namun rasa perih tidak kunjung hilang.
"Lo kenapa?"
Suara seseorang membuat Maudy terkejut, cewek itu mendongak. Arka yang tengah mengunyah permen karet mengernyitkan dahi karena tidak mendapat respon apa pun.
"Maag mungkin," jawab Maudy meringis.
Arka mengangguk-anggukan kepalanya. "Mau gue antar ke UKS?" tawarnya.
"Nggak usah, ngerepotin." tolak Maudy yang tidak mau merepotkan, apalagi ia tidak begitu mengenal Arka.
"Santai aja, biar gue ijinin ke guru yang lagi ngajar," Arka menukas, mengedarkan pandangannya ke sekeliling. "UCUP! GUE DI MARI!" teriak Arka sambil melambaikan tangan.
Dari kejauhan, cowok berkepala plontos dengan tubuh jangkung langsung menghentikan langkahnya mendengar teriakan Arka. Ada rasa malas, karena biasanya Arka selalu menagih utang yang sampai saat ini belum juga ia bayar, Ucup sangat berharap jika Arka mendadak amnesia.
"Ada apaan, Ar?" tanya Ucup sok akrab.
"Tolong izinin Maudy ke guru yang lagi ngajar di kelas MIPA 4, bilang dia sakit." ucap Arka menunjuk cewek yang masih duduk di kursi panjang seraya memperhatikan keduanya.
"Wani piro?"
Arka tidak segan-segan melayangkan jitakan di kepala Ucup. Bisa-bisanya bertemu dengan orang yang tidak tau diri, dan yang ada dipikirannya hanya uang.
"Sebelum lo minta bayaran, gue mau tagih utang lo yang udah nunggak 127 hari!" ujar Arka berkacak pinggang. Sebenarnya ia juga lupa sudah berapa lama Ucup menunggak membayar utang, tapi kebetulan Ucup sedikit lemot jadi mudah untuk dibohongi.
Ucup berdecak kesal, "Inget mulu si, Ar. Ya udah, karena gue berbaik hati gue tolongin."
"Gaya lo, Cup!" cibir Arka seolah-olah ingin muntah.
Cowok bertubuh jangkung dengan senyuman manis itu membantu Maudy untuk berjalan. Arka tidak tega melihat wajah cewek itu yang pucat pasi serta berkeringat dingin, padahal sedaritadi banyak siswa-siswi yang berlalu-lalang, tapi ternyata tidak ada dari mereka yang ingin membantu.
KAMU SEDANG MEMBACA
[GS2] OTHER SIDE (Completed)
Roman pour Adolescents"Rasta!" "Ya?" "Kenapa, Sta?" "___" "Kenapa lo harus peduli sama gue?" "Bukan peduli, tapi kasihan." Rasta Dhefino Greynata, cowok cuek berbandana hitam yang tidak pernah mempedulikan sekitarnya. Perlahan pandangan berubah saat melihat kehidupan cew...
![[GS2] OTHER SIDE (Completed)](https://img.wattpad.com/cover/233067867-64-k820761.jpg)