33. ADA YANG JANGGAL

1.3K 163 327
                                        

Aku ganti cover, takutnya bingung wkwk. Komen banyak-banyak yaa,


🥀-Happy Reading-🥀

"Arka Azhari Nareswara, silahkan maju, kerjakan nomor 3!"

Panggilan Bu Erlin ditujukan pada siswa bertubuh jangkung yang duduk di bagian belakang membuat suasana menegang. Arka mendelik, wajahnya dibuat memelas berusaha menarik rasa simpati guru berkacamata tebal itu.

"Ya ampun, Bu, masa saya. Soalnya susah banget, angka semua." keluh Arka sambil memainkan pensil seukuran dengan jari kelingking.

"Belum dicoba aja udah bilang nggak bisa. Cepet maju!" Bu Erlin tetap memaksakan perintahnya, ia tidak akan mudah luluh.

Arka menegakkan punggung tegapnya, memperhatikan deretan angka yang tertera di papan tulis. Benar-benar memusingkan, dari 3 soal yang tersisa, sama sekali tidak ada yang ia mengerti, bahkan sedikitpun.

"Menurut pandangan saya aja udah susah, apalagi ngerjain ke depan. Yang lain aja bu," ucap Arka kembali mengelak. Kebiasaan Bu Erlin setiap memberi soal pasti ia yang akan dipanggil untuk mengerjakan.

"Heh! Ngatur-ngatur saya kamu! Ya sudah, Ganda Revian silahkan maju menggantikan Arka."

Ganda yang tengah memainkan game dari bawah kolong tertegun saat namanya ikut disebut. Cowok itu melempar handphonenya ke dalam laci, mengernyitkan dahi bingung, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

"Saya lagi, kemarin aja remedial belum jadi-jadi, Bu." cetus Ganda seraya menggaruk-garuk kepalanya.

"Heran banget Ibu sama kelas ini, kalau disuruh maju ada aja alasannya!" Bu Erlin berkacak pinggang, memperhatikan satu per satu siswa di kelas ini dengan tajam. "Udah cepet Arka maju!" titahnya.

Baru saja Arka ingin bernafas lega karena bisa terhindar dari soal-soal yang membuatnya frustasi, tapi ternyata dugaannya salah. Bu Erlin tetap akan memaksanya sampai ia menyerah untuk mengelak.

"Tuh, kebiasaan balik ke saya," cibir Arka, ia menyembunyikan wajahnya dibalik lipatan tangan.

"Saya panggil orangtua kamu, ya?" tanya Bu Erlin dengan nada mengancam.

"Jangan!" Arka menukas, memperhatikan ke arah teman-temannya yang diam-diam tertawa. "Ya udah, saya maju."

Arka beranjak dari duduknya, berjalan dengan gontai menuju ke depan kelas. Ia menerima spidol hitam itu dengan berat, mendekatkan diri ke papan tulis. Tidak mengerti apa pun, lalu apa yang ingin ia tuliskan di papan putih itu.

Sedangkan Bu Erlin terdiam memperhatikan siswa dalam deretan malas. Mata tajamnya tertuju pada dasi abu-abu yang melingkari kepala Arka. Bu Erlin berdecak melihat kelakuan aneh siswanya.

"Ajaran dari mana pakai dasi di kepala?" Bu Erlin bertanya seraya bersidekap.

"Itu Rasta," jawab Arka tanpa menolehkan kepala. Ia berpura-pura fokus menyelesaikan soal matematika.

"Nggak perlu diikutin kalau temen kamu sesat, pakai dasi yang benar!" Bu Erlin menarik dasi siswanya, ia merasa gemas.

"Nanti aja, Bu, katanya suruh ngerjain."

"Ya, tapi—"

Kring
Kring
Kring

Dering bel pergantian pelajaran memotong perkataan Bu Erlin. Guru berkacamata tebal itu mendengus, membalikkan badan menuju meja guru untuk mengambil barang-barang bawaannya. Apalagi melihat wajah Arka yang berbinar-binar membuat Bu Erlin ingin tertawa dan emosi bersamaan.

[GS2] OTHER SIDE (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang