Mereka seakan lupa untuk selalu bersyukur.
***
🥀-Happy Reading-🥀
Dering bel istirahat selesai berbunyi. Dito berjalan tergopoh-gopoh menaiki anak tangga menuju kelasnya yang berada di lantai 4. Sesekali ia menggigit gorengan tempe yang baru dibelinya. Tepat saat berada ditikungan Dito kalah cepat karena Bu Erlin sudah memasuki kelas dan menutup pintu.
Dito mengetuk pintu lalu membukanya sedikit, ia menyembulkan kepala seraya memasang cengiran lebar. Bu Erlin yang baru saja duduk ikut menoleh, tatapannya kian menajam.
"DITO LAVIAN! KOK KAMU ADA DI LUAR?!"
"Karena saya lagi nggak di dalam Bu," jawab Dito memasang wajah lugunya.
"Jawab aja terus! Cepat masuk!" titah Bu Erlin yang dibalasnya dengan acungan jempol.
Dito berlari menuju tempat duduknya yang berada dibarisan paling belakang. Ezra langsung menyambutnya dengan suara tawa menggema, jika Dito terkena omelan Bu Erlin sudah pasti Ezra salah satu orang yang paling bahagia.
"Kamu baru masuk aja udah berisik! Seharusnya kamu jangan duduk sama Ezra, yang satu bercanda, satu laginya ketawa terus!" Bu Erlin berseru ditempatnya seraya memegang penggaris panjang yang selalu dibawanya saat mengajar.
"Emang kenapa sih Bu? Sirik aja bawaannya," Dito mendelik, saat Ezra tertawa ia juga ikut tertawa.
"HEH! SONTOLOYO KAMU!" murka Bu Erlin. Guru bertubuh gempal itu menghela nafasnya, mengusap dadanya agar lebih bersabar. "Dito, kamu pindah duduknya sama Rasta, biar Sandi yang duduk sama Ezra." titahnya.
"Yah, jangan Bu kasihan saya," tolak Ezra. Walau bagaimanapun mereka satu server, Ezra tidak ikhlas jika duduk dengan Sandi yang tingkahnya lebih ancur daripada Dito.
Bu Erlin menggeleng-gelengkan kepalanya. "Suka-suka saya dong, cepetan pindah!"
Melihat keributan yang terus berlanjut membuat Ganda jengah. Cowok dengan dasi yang melingkar di kepalanya sudah bosan, sebelum pelajaran matematika dimulai pastinya akan terjadi keributan antara Bu Erlin dan Dito, tidak ada kata absen diantara mereka.
"Bu Erlin yang mirip gitar spanyol. Kalau Dito disatuin sama Rasta ancur Bu jadinya, nanti kita bukannya belajar malahan nonton Tom and Jerry nge-live." ucap Ganda berusaha menengahi.
"Saya setuju tuh, Bu. Coba bayangin, Rasta yang pinter duduk sama Dito, kan kasihan. Setiap hari pasti dicontekin mulu Bu, gimana otak Dito mau berkembang." Sandi menimpali.
Sejujurnya Sandi juga tidak rela berpindah tempat, karena duduk semeja dengan Rasta memiliki banyak keuntungan. Pertama, terbawa arus rajin. Kedua, tidak perlu risau jika ada ulangan dadakan karena bisa mencontek jawaban Rasta. Duduk semeja dengan Ezra sudah dipastikan nilainya merah semua.
"Tapi, bener juga kata kamu Sandi," balas Bu Erlin tampak ragu-ragu.
"Saya emang terlahir selalu benar Bu, anti salah-salah club."
Dito menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, kedua matanya memicing menatap Sandi tidak suka.
"Lah, bilang aja lo iri karena nggak bisa se'uwu gue sama Rasta," sindir Dito disusul kekehan kecil. "Iya nggak Sta?" tanyanya pada Rasta yang sedaritadi hanya mengamati keributan.
"Nggak. Emangnya lo siapa?" Rasta balik bertanya, sebelah alisnya terangkat.
Sontak pupil mata Dito melebar saat mendengar tanggapan Rasta. Cowok berkulit eksotis itu memukul punggung Ezra berkali-kali mencoba melampiaskan rasa kesalnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
[GS2] OTHER SIDE (Completed)
Dla nastolatków"Rasta!" "Ya?" "Kenapa, Sta?" "___" "Kenapa lo harus peduli sama gue?" "Bukan peduli, tapi kasihan." Rasta Dhefino Greynata, cowok cuek berbandana hitam yang tidak pernah mempedulikan sekitarnya. Perlahan pandangan berubah saat melihat kehidupan cew...
![[GS2] OTHER SIDE (Completed)](https://img.wattpad.com/cover/233067867-64-k820761.jpg)