Permintaan maaf terbaik adalah dengan merubah perilaku.
***
🥀-Happy Reading-🥀
Maudy melangkahkan kakinya di koridor lantai satu, tidak ada seulas senyuman di wajahnya. Air mukanya berubah drastis saat mendengar sindiran-sindiran keras yang sengaja ditujukan padanya. Maudy menarik nafas panjang lalu menghembuskannya.
Kalau tidak teringat permintaan Mama sudah pasti Maudy akan melawan. Mulai hari ini ia harus belajar untuk bersabar dalam menghadapi mereka. Sebelum menaiki tangga, Maudy berbelok menuju loker, teringat buku fisika yang tertinggal.
Tangannya terulur memegang knop loker hingga terbuka, bibir Maudy terbuka melihat kondisi di dalam lokernya. Sampah serta coretan-coretan kasar terlihat memenuhi. Maudy memejamkan matanya, ia mengepalkan kedua tangannya. Sebisa mungkin mencoba untuk bersabar.
"Sabar, gue harus banyak-banyak sabar," ucap Maudy sembari mengusap dadanya.
Maudy menutup kembali lokernya setelah mengambil buku paket fisika, ia berbalik arah menaiki satu per satu anak tangga sampai di lantai 4. Kondisi kelas yang berisik seketika berubah hening saat mendapati dirinya berdiri di depan pintu.
Suara bisik-bisik terdengar, berbagai tatapan mengiringi Maudy hingga menuju tempat duduknya. Sebelum duduk di kursinya, Maudy sempat melirik teman sebangkunya—Fita. Ketika mata mereka bertemu, buru-buru Fita menundukkan kepalanya berpura-pura sibuk.
"Eh, gue baru denger kabar nih. Bokapnya si itu udah ditangkap polisi," ujar siswi berambut pendek, sengaja mengencangkan suaranya.
Teman sebangkunya yang mengenakan bando terbelakak. "Yang benar lo? Kasihan banget deh nasibnya yang sekarang," balasnya.
"Kabarnya lagi, rumah mewahnya udah disita bank, jatuh miskin mendadak."
Perkataan siswi berambut pendek itu disambut tawa meledek.
"Biarin deh, lagian uang haram ini. Liat aja sekarang nggak ada yang mau anggap dia teman," cibir siswi yang mengenakan bando.
"Kasihan sih, tapi gue juga ogah nemenin dia. Ups,"
Maudy menggebrak meja, deru nafasnya tidak teratur. Sedaritadi ia berusaha mencoba untuk bersabar, namun ternyata sulit. Telinganya terasa panas mendengar nyinyiran mereka yang selalu ikut campur masalahnya saat ini.
"Mulut lo dijaga ya! Mau gue jatuh miskin, nggak punya temen, emangnya gue ngerugiin lo?!" Maudy beranjak dari duduknya, pusat perhatian langsung terarah padanya.
"Oh, lo ngerasa. Padahal gue sama sekali nggak nyebut siapa orangnya, tapi bagus deh." Siswi berambut pendek itu tampak memainkan ujung rambutnya.
"OKE. LO YANG MULAI!" murka Maudy. Kesabarannya benar-benar terkuras, padahal ini masih terlalu pagi.
Keadaan kelas semakin ricuh. Maudy menarik kedua lengan seragamnya, ia melangkah menghampiri dua orang siswi yang duduk di baris pertama paling pinggir. Mereka sempat bungkam, namun dorongan-dorongan seluruh anak sekelas membuatnya bersikap berani.
"APA LO?!"
Maudy mengibaskan tangannya ke udara, ia menutup hidungnya dengan telapak tangan. "Udah tau mulut lo bau, nggak usah ngegas juga kali!" sindirnya.
Sontak perkataan Maudy ditanggapi oleh suara-suara tawa menggema. Sudut bibirnya tertarik, melihat wajah siswi dihadapannya yang berubah merah padam. Maudy berkacak pinggang, ia mencengkram kerah seragam siswi ber-name tag Della.
"Please, sebelum repot nyinyirin hidup orang, mending lo ngaca dulu. Udah ngerasa keren? Gue kalau jadi lo malu."
"TAPI APA YANG GUE BILANG ITU KENYATAAN!"
KAMU SEDANG MEMBACA
[GS2] OTHER SIDE (Completed)
Teen Fiction"Rasta!" "Ya?" "Kenapa, Sta?" "___" "Kenapa lo harus peduli sama gue?" "Bukan peduli, tapi kasihan." Rasta Dhefino Greynata, cowok cuek berbandana hitam yang tidak pernah mempedulikan sekitarnya. Perlahan pandangan berubah saat melihat kehidupan cew...
![[GS2] OTHER SIDE (Completed)](https://img.wattpad.com/cover/233067867-64-k820761.jpg)