35. HEART PROBLEM

1.3K 164 168
                                        

Siapin kesabaran selama baca,

🥀-Happy Reading-🥀

Kotak bekal berwarna biru air itu tampak istimewa. Maudy menuliskan sesuatu di robekan kertas menggunakan bolpoin hitam, lalu menaruh kertas itu di atas tutupnya supaya terlihat dan terbaca dengan jelas.

Pagi-pagi sekali ia sudah bergelut di dapur membuat beberapa potong roti bakar yang akan diberikan pada Rasta. Anggap saja sebagai ucapan terima kasih karena cowok itu sudah menolong kemarin. Maudy melirik jam dinding di depan kelas, saat-saat seperti ini biasanya Rasta sudah berada di kantin bersama teman-temannya.

Maudy menoleh, tersenyum lebar seraya menatap Fita—temannya. "Kantin nggak, Fit?" tanyanya yang dibalas anggukan singkat.

"Boleh, kebetulan aku mau beli minum," jawab Fita sambil menggerakkan tangannya di udara.

"Ayo!" ujar Maudy semangat. Ia beralih memegang pergelangan tangan Fita.

"Kamu semangat banget, ada apa?" Fita menyipitkan mata, sudut bibirnya tertarik sempurna. Tidak biasanya temannya itu semangat untuk pergi ke kantin.

"Nggak kok, gue biasa aja." Maudy meringis merasa sikapnya terlalu berlebihan.

Respon Fita hanya mengangguk, ia tidak mau terlalu ikut campur urusan Maudy, takut jika temannya itu kurang merasa nyaman. Fita berganti menggandeng tangan Maudy keluar dari kelas. Keduanya berjalan beriringan, sesekali terdengar bisik-bisik yang menghina.

Beberapa siswa tampak berlarian dari lantai bawah saat mereka menuruni anak tangga, salah satu dari mereka menyenggol Fita dan hampir membuatnya terjatuh jika Maudy tidak segera memegang lengan temannya agar tidak kehilangan keseimbangan.

"Kalau jalan mata juga dipake!" seru Maudy kepada siswa-siswa yang sudah berlalu tanpa rasa bersalah.

Fita menepuk bahu Maudy pelan. "Udah, aku nggak apa-apa, Dy."

"Biar mereka nggak kebiasaan. Lagian bercanda di tangga," cibir Maudy kesal. Mereka tidak sadar bisa membahayakan seseorang atau bahkan menimbulkan korban.

Keduanya kembali berjalan menuruni tangga. Sampai di koridor lantai dasar langsung berbelok menuju kantin. Senyum Maudy semakin terukir lebar, jantungnya pun ikut berdegup kencang. Saat menginjakkan kaki di pintu masuk kantin, tangannya yang memegang kotak bekal terasa berkeringat.

Maudy mengedarkan pandangan, mencari-cari keberadaan Rasta di seluruh penjuru kantin. Air mukanya berubah drastis, senyum yang sempat terukir hilang begitu saja, matanya menyorot kekecewaan. Maudy tertunduk menatap kosong kotak bekal dalam genggamannya.

Seseorang yang ia cari tengah bersama yang lain di meja tengah-tengah kantin. Terlihat jelas Rasta tengah menenangkan Diva yang menangis. Dari sudut pandangnya, ada sesuatu yang disembunyikan Rasta, ia dapat melihat dari sorot mata cowok itu pada Diva.

Sejak awal seharusnya Maudy sadar jika perhatian yang Rasta berikan hanya bentuk rasa kasihan, namun selama ini ia yang salah mengartikan. Bahkan cowok itu pernah mengatakannya sendiri saat di rooftop sekolah tempo lalu. Maudy merasa sesak seakan-akan ada retakan di hatinya.

Perubahan Maudy nyatanya disadari oleh Fita. "Dy, kamu kenapa?"

Maudy menggeleng, tetap memaksakan diri untuk tersenyum, seolah-olah tidak terjadi apa pun. Sedangkan Fita tidak mungkin bisa percaya semudah itu, ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan temannya.

"Lo beli minum sendiri aja ya, gue tunggu di sini," sahut Maudy mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.

Fita mengangguk, cewek berambut hitam sepunggung itu berlalu menuju stan penjual minum. Tatapan sendunya terus terarah kan pada Rasta dan Diva yang tidak menyadari keberadaannya. Maudy memejamkan mata, mencoba mengalihkan ke arah lain, tapi ternyata sulit. Rasa penasaran seakan menggebu-gebu.

[GS2] OTHER SIDE (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang