54. SI KERAS KEPALA

1.1K 184 103
                                        

🥀-Happy Reading-🥀

Dentingan sendok yang beradu dengan piring terdengar menggema. Satu keluarga itu menikmati makan malam dengan khidmat, tidak ada yang membuka suara, satu sama lain terlalu fokus dengan sepiring nasi di atas meja.

Sejak awal Rey merasakan aura yang berbeda. Entah itu dari Rasta ataupun istrinya. Rey mengunyah makanannya dengan gerakan lamban, memperhatikan anak keduanya yang tengah mengaduk-aduk nasi tanpa berminat untuk memakannya.

Rey berdeham, menuangkan air ke gelas, lalu meneguknya hingga tandas. Selepasnya, pria paruhbaya itu menyenggol lengan Rafa, memberi kode untuk cepat-cepat pergi dari sini. Rafa memasang wajah memelas, padahal acara makannya belum selesai.

Cowok berambut hitam legam itu mengambil satu potong ayam goreng sebelum beranjak pergi mengikuti Ayahnya. Kini tersisa Rachel dan Rasta yang sama-sama terdiam.

"Pulang sekolah kamu ke mana?" tanya Rachel mengawali pembicaraan serius di antara mereka.

"Main," jawab Rasta tak bersemangat.

"Kamu kenapa sama Maudy?" Rachel bertanya lagi.

"Nggak apa-apa."

"Bunda lebih suka kamu jujur," ucap Rachel dengan sorot mata lembutnya.

"Ada masalah," balas Rasta menghentikan suapan nasi ke mulut.

Sendok yang dipegang Rasta terjatuh, ia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Mengalihkan pandangannya ke arah lain. Rachel menghela nafasnya panjang, berpindah posisi tepat di samping anaknya.

"Kamu nggak bisa menghakimi seseorang tanpa tau kebenarannya, Sta." tutur Rachel menasihati anak keduanya yang keras kepala.

Rasta memainkan handphone, menopang dagunya dengan satu tangan. "Bukan cuma aku, yang lain juga sama." cetusnya.

"Seharusnya kamu kasih semangat buat dia, bukan ikut menjauh juga," ujar Rachel mencoba untuk selalu bersabar.

"Buat apa? Terserah dia mau gimana,"

Bibir Rachel sedikit terbuka. Ia tidak menyangka jika respon anaknya akan seperti ini.

"Rasta! Bunda nggak suka sama sifat kamu kayak gini." seru Rachel dengan nada sarkas.

"Aku udah minta dia berubah, tapi nyatanya mana? Once bad it will always be." kekeuh Rasta. Perkataannya itu membuat Bunda terdiam kaku.

"Terus, apa bedanya kamu sama yang lain?" Rachel menukas, menyingkirkan anak rambut yang menutupi mata Rasta dibagian kanan. "Mamanya udah nggak percaya, di sini peran kamu, Sta." ucapnya.

"Aku capek, Bun." gumam Rasta seraya mendongakkan kepala.

Rasta berdiri dari kursi, mengambil handphone yang tergeletak di atas meja. Cowok itu melangkahkan kakinya menaiki anak tangga, namun baru beberapa langkah suara Bundanya kembali menginterupsi.

"Dari awal Bunda nggak usah kasih ijin kamu buat pacaran sama Maudy, pikiran kamu masih terlalu anak-anak." ujar Rachel. Manik hitam itu menatap lurus anaknya dengan sorot dingin.

"Aku tau," Rasta melanjutkan langkahnya menuju kamar, ia menutup pintu dan tidak lupa menguncinya.

Rachel memijat keningnya. Kebiasaan Rasta sejak dulu memang sulit untuk dirubah. Di satu sisi ia merasa kasihan dengan Maudy—pacar anaknya. Walaupun tidak tau menahu tentang kejadian itu, tetapi Rachel selalu percaya jika Maudy adalah gadis yang baik.

Kini hanya tinggal menunggu waktu, maka kebenaran akan terkuak secara perlahan.

Kini hanya tinggal menunggu waktu, maka kebenaran akan terkuak secara perlahan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
[GS2] OTHER SIDE (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang