"Rasta!"
"Ya?"
"Kenapa, Sta?"
"___"
"Kenapa lo harus peduli sama gue?"
"Bukan peduli, tapi kasihan."
Rasta Dhefino Greynata, cowok cuek berbandana hitam yang tidak pernah mempedulikan sekitarnya. Perlahan pandangan berubah saat melihat kehidupan cew...
Aku tak tahu bagaimana kisah ini berawal, tapi aku tidak ingin tahu akhir dari kisah kita.
*** 🥀-Happy Reading-🥀
"Kak Rasta!"
Teriakan dari ujung koridor, sukses membuat dua orang cowok yang berada di depan perpustakaan menoleh. Seorang cewek berkacamata tebal tertunduk, melangkahkan kaki menghampiri mereka dengan perasaan ragu-ragu.
"Ada yang mau aku omongin, Kak." gumam cewek itu sembari memilin ujung roknya.
Tampaknya cewek itu tidak nyaman dengan keberadaan Ezra di sini, terlihat dari ekor matanya yang sesekali melirik ke arah temannya dengan sorot takut. Ezra menyandarkan tubuhnya di pilar, benar-benar asing dengan cewek itu.
"Zra, lo duluan aja," pinta Rasta mendorong-dorong bahu Ezra agar segera pergi.
Cowok berwajah kebulean itu memasuki perpustakaan meninggalkan mereka berdua. Rasta terdiam, memperhatikan cewek di hadapannya mulai dari mata kaki hingga ujung kepala. Merasa tidak asing dengan wajahnya, tetapi ia lupa. Rasta menoleh ke arah lapangan, dirinya baru ingat, cewek ini yang disuruh Maudy mengantarkan minum untuknya.
"Kenapa?" tanya Rasta to the point.
"K-kak, kemarin pulang sekolah Kak Maudy ngelakuin bullying lagi ke aku," ungkap Alika menahan tangis, matanya sudah memerah.
Rasta tertegun, bibirnya sedikit terbuka. Kemarin memang Maudy tidak pulang bersamanya, sebab ia harus berlatih dengan giat untuk persiapan olimpiade yang akan diadakan 2 Minggu lagi. Sampai di rumah, pacarnya itu juga tidak berbicara apa pun.
"Siapa nama lo?" tanya Rasta yang kurang tau nama adik kelas di depannya.
"Alika, Kak." jawab Alika sesopan mungkin.
"Di mana kejadiannya?" Rasta bertanya lagi, jika belum jelas ia tidak bisa percaya begitu saja.
Tidak ada sorot kebohongan yang ditunjukkan. Rasta menghela nafas panjang, memijat pangkal hidungnya. Perilaku Maudy sangat membuatnya kecewa, cewek itu tidak menepati janjinya untuk benar-benar berubah menjadi orang yang lebih baik.
Lebam kebiruan di kening serta rahang bawah terlihat jelas. Alika mengangkat sedikit rok abunya, menunjukkan memar-memar dibagian lutut. Rasta meringis, menatap penuh iba. Pikirannya berkecamuk, merasa kecewa dengan sikap Maudy.
"Atas nama Maudy, gue minta maaf. Gue pastiin ini yang terakhir," ucap Rasta tidak enak hati. Pasalnya lebam-lebam itu begitu banyak.
Alika mengangguk singkat. "Iya, Kak. Aku nggak apa-apa," balasnya.
Merasa tidak ada lagi yang ingin disampaikan, Alika berbalik badan, berjalan di koridor menuju kelasnya. Kedua tangan Rasta terkepal kuat, buku-buku jarinya memutih, menandakan emosi yang meletup-letup.
Langkah kakinya berbelok memasuki perpustakaan. Air mukanya berubah drastis. Tadinya, ia sangat bersemangat mengikuti olimpiade dan berharap memenangkannya supaya Maudy turut merasa senang, namun harapan itu seakan pupus begitu saja.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.