🥀-Happy Reading-🥀
Sekumpulan remaja berdiri tidak jauh dari rumah bercat putih. Salah satu dari mereka membawa kotak kue tart cokelat yang atasnya dipenuhi lilin berwarna-warni. Kericuhan terjadi hanya karena mencari cara membuat suprise yang anti-mainstream.
"Ayo, langsung ke sana aja," ajak Dito yang mulai tidak sabaran.
"Nanti dulu, ini lilinnya nggak dinyalain?" tanya Sandi, wajahnya terlihat bingung.
"Eh iya, lupa banget gue," tukas Ezra seraya mengedarkan pandangan. "Korek mana?" tanyanya.
Ganda menggeleng singkat. "Gue nggak punya, lo sendiri tau di antara kita nggak ada yang ngerokok." Seperti yang pernah mereka katakan, tidak ada rokok ataupun minuman keras, itu semua demi kesehatan mereka sendiri.
"Terus ini gimana? Nyalain lewat kompor aja deh," pasrah Dito
Lama-kelamaan Maudy jengah melihat kehebohan cowok-cowok itu. Sejak datang ada saja yang mereka ributkan. Entah itu masalah ukuran kue tart, rasa yang diinginkan berbeda-beda, dan yang terakhir yaitu tidak ada yang membawa korek.
"Kalian ribet banget sih!" cibir Maudy meluapkan emosinya. "Bentar, gue ambil korek dulu." ucapnya.
"Nah, gitu dong daritadi." Sandi menjentikkan jari.
Maudy berdecak sebal, berlari memasuki rumah. Tidak butuh waktu lama ia kembali dengan korek gas yang berada dalam genggaman. Maudy langsung melempar korek itu, untungnya Ganda gesit dalam menangkap.
Korek itu berpindah alih pada Dito. Cowok berkulit eksotis itu menyalakan satu per satu lilin dengan hati-hati supaya tidak mati lagi karena tertiup angin. Setelah semuanya selesai, sekumpulan remaja itu berjalan beriringan menuju rumah bercat putih. Ezra yang berada di tengah-tengah karena membawa kue.
Gerbang hitam yang menjulang tinggi itu tidak terkunci, mereka bisa masuk ke dalam dengan mudah. Kondisi begitu sepi, bahkan pintu cokelat itu tertutup. Sandi memperhatikan sekitar, saat merasa aman ia mengacungkan jempol.
"Satu... Dua... Tiga..." ujar Ganda memberikan aba-aba.
"HAPPY BIRTHDAY TO YOU... HAPPY BIRTHDAY TO YOU!"
Dari balik jendela Rasta mengintip, kedua alisnya tertaut. Aneh karena kedatangan mereka yang tiba-tiba, padahal dirinya sedang tidak ulang tahun, karena bulan kelahirannya Maret, sedangkan sekarang adalah bulan Desember.
Rasta menggaruk-garuk kepala, dahinya mengernyit. Sebenarnya yang bodoh itu siapa? Mungkin mereka kurang kerjaan, tetapi di sana juga ada Diva dan Maudy. Terlalu penasaran Rasta melangkah keluar rumah. Detik itu juga nyanyian mereka terhenti.
"Perasaan gue nggak ulang tahun," tutur Rasta terkesan polos.
Ezra berdecih, "emang bukan elo. Ge'er!"
"Terus siapa?" tanya Rasta semakin di buat bingung.
"Emak Rachel yang menjabat sebagai Ibu Negara Alaster," Dito menyahut, cowok berkulit eksotis itu berpindah posisi tepat di paling depan.
Sontak Rasta menepuk jidat, ia sendiri lupa bulan kelahiran Bunda. Pantas saja sedaritadi Bunda terlihat murung dan selalu menjawab dengan ketus saat diajak berbicara, kemungkinan besar Rafa juga melupakan soal itu.
"Anaknya siapa, sih? Kok kalian yang inget," Heran, teman-temannya itu juga mengetahui tanggal dan bulan kelahiran keluarganya.
"Nggak usah ditanya, lo emang durjana!" Arka mencibir.
"Bunda lo ada di rumah, kan?" tanya Ganda memastikan.
Rasta mengangguk. "Ada di kamar," katanya sambil menunjuk lantai 2 dari luar rumah.
KAMU SEDANG MEMBACA
[GS2] OTHER SIDE (Completed)
Fiksi Remaja"Rasta!" "Ya?" "Kenapa, Sta?" "___" "Kenapa lo harus peduli sama gue?" "Bukan peduli, tapi kasihan." Rasta Dhefino Greynata, cowok cuek berbandana hitam yang tidak pernah mempedulikan sekitarnya. Perlahan pandangan berubah saat melihat kehidupan cew...
![[GS2] OTHER SIDE (Completed)](https://img.wattpad.com/cover/233067867-64-k820761.jpg)