Kenyataan terkadang memang menyakitkan.
***
🥀-Happy Reading-🥀
"SUMPAH, FISIKA GUE NGASAL SEMUA!" pekik Dito meremas rambutnya dengan wajah frustasi.
Cowok berkulit eksotis itu melompat-lompat tidak karuan, seakan-akan merasa tertekan dengan soal yang baru selesai diujikan. Hari ketiga ujian tengah semester diadakan, tersisa sekitar 5 hari untuk mereka ber-pusing ria.
"Sama. Dari 40 soal, sekitar 5 soal gue bisa, yang lainnya hitung kancing." sahut Arka terlihat tenang, ia terduduk di kursi panjang depan kelas dengan kedua kaki yang dinaikkan ke atas.
"Aku tidak bisa hidup tanpa Rasta... you are my hero," Dito mendramatisir, mengusap wajahnya dengan gerakan kasar.
Rasta berdecih, memutar bola matanya malas. "Kalau ada maunya lo muji gue," sarkasnya.
Seketika Dito tertawa terbahak-bahak, ia terduduk di lantai seraya bersandar pada pilar. Gerakan matanya mengikuti setiap siswa-siswi yang berlalu-lalang melewati mereka. Terkadang ia mencegat beberapa siswi yang ia kurang kenal untuk meminta makanannya.
"Lagian kenapa harus urutan absen sih, udah tau nama gue di awal-awal, sedangkan Rasta diakhir." cibir Ganda merasa tidak terima akan pembagian kelas.
Dalam satu kelas terdiri dari 36 orang, dibagi menjadi 2 ruangan, disatukan dengan kelas 10. Mereka tidak bisa menolak, apalagi yang pintar-pintar berada di absen paling belakang.
"Lo tau siapa yang paling diuntungkan?" tanya Ezra, alisnya yang tebal terangkat.
Arka menunjuk Sandi yang duduk tepat di sampingnya. "Nih, si anak gorila!" serunya.
"Abis absen Rasta langsung dia. Kalau gini caranya remedial menantimu," Ganda menimpali. Membayangkan soal-soal fisika yang sulit diujikan lagi, benar-benar membuat kepalanya ingin meledak.
"Udah bego tambah remedial, melebur otak kecil gue!" keluh Ezra. Saat kelas 10 cowok itu pernah dua kali mendapat peringkat 3 besar, tetapi berbeda dengan sekarang.
"Makannya abjad akhir dong, selalu beruntung." ucap Sandi menyombongkan diri.
Terlalu gemas Arka melingkarkan tangannya di leher Sandi dengan kencang membuat temannya itu menjerit dan terbatuk-batuk. Arka tidak merasa bersalah, ia hanya tertawa seraya meninju lengan Sandi.
"Ya elah San, kalau dulu pas gue bayi bisa langsung ngomong, pasti gue protes." balas Dito, mendongakkan kepalanya.
"Jatuhnya malah cringe," Ganda melempar penghapus hitam yang dipotong kecil-kecil dan tepat mengenai sasarannya.
Arka mengeluarkan sebungkus permen karet dari saku seragamnya, ia mengambil satu lalu memberikan sisanya untuk teman-temannya. Arka memang penyuka permen karet, sehari tidak mengunyah permen rasanya gatal.
"Eh, tumben lo nggak belajar bareng Diva," ucap Sandi ditujukan pada Ganda.
"Insecure gue, San."
"Kenapa? Biasanya sekalian tebar pesona," Kali ini Ezra yang bertanya.
Pasalnya dua hari yang lalu Ganda dan Diva resmi berpacaran. Berita itu sudah menyebar luas. Tidak ada yang tau cara Ganda menyatakan perasaannya pada cewek itu, tau-tau mendapat kabar dan traktiran setelah bubaran sekolah.
"Diva terlalu pinter, nggak nyambung kalau bahas pelajaran sama dia," tutur Ganda.
Sontak Dito dan Rasta saling berpandangan, keduanya mati-matian menahan tawa.
KAMU SEDANG MEMBACA
[GS2] OTHER SIDE (Completed)
Teen Fiction"Rasta!" "Ya?" "Kenapa, Sta?" "___" "Kenapa lo harus peduli sama gue?" "Bukan peduli, tapi kasihan." Rasta Dhefino Greynata, cowok cuek berbandana hitam yang tidak pernah mempedulikan sekitarnya. Perlahan pandangan berubah saat melihat kehidupan cew...
![[GS2] OTHER SIDE (Completed)](https://img.wattpad.com/cover/233067867-64-k820761.jpg)