20. STRANGE DAY

1.3K 157 109
                                        

Sorry update tengah malem, besok missqueen kuota :(

🥀-Happy Reading-🥀

"Pasti lo lukis yang ini di depan minimarket ya, Met?"

Gerakan tangan Rasta terhenti, cowok itu menolehkan kepalanya ke arah belakang, di mana Rafa-Abangnya tengah terduduk di depan meja belajar seraya memegang kumpulan lukisannya. Rasta berdeham melanjutkan kegiatannya membantu mengerjakan tugas Rafa yang tidak begitu sulit.

"Kalau yang ini gue tau Met maknanya, pasti lo lagi galau. Iya nggak?" tebak Rafa lagi.

"Iya,"

Rafa beranjak dari duduknya menghampiri Adiknya yang berada di atas kasur. Tidak apa jika kamar Rasta berantakan, karena Adiknya itu pasti hanya berteriak-teriak lalu berujung melemparkan semua barang yang berada di dekatnya.

"Met, emang kalau melukis itu harus penuh penjiwaan ya?" tanya Rafa memasang raut wajah seriusnya.

Sejujurnya Rasta merasa terganggu dengan kehadiran Rafa, ia tidak bisa fokus mengerjakan tugas. Namun jika mengusirnya sudah pasti Rafa akan semakin berisik hingga mengundang rasa penasaran Ayahnya berujung mereka terkena hukuman memotong rumput halaman.

"Iya," jawab Rasta malas.

Rafa mengangguk-anggukan kepala, ia mendudukan bokongnya dipinggir kasur. "Kalau orang gila udah pasti jiwanya terganggu, emangnya masih bisa melukis penuh penjiwaan?"

"Lo nanya gitu nyindir diri sendiri?" Rasta balik bertanya, melirik Rafa sinis.

"Sialan lo!" maki Rafa seraya menarik sejumput rambut Rasta yang berujung terkena pukulan di pahanya.

Tidak mau keributan mereka semakin menjadi-jadi, Rafa kembali memperhatikan lukisan-lukisan yang tertempel di dinding. Heran, Rasta memiliki banyak bakat dan kelebihan, sedangkan dirinya hanya menjadi perusuh dan selalu membuat orang-orang yang berada disekitarnya kesal.

Dulu Rafa pernah merasa iri dengan Adiknya, tetapi semakin lama ia mulai menyadari bahwa setiap orang mempunyai kelebihannya masing-masing, tinggal bagaimana kita sebagai manusia mensyukurinya.

"Sta," panggil Rafa.

Jika Abangnya sudah memanggil dengan nama aslinya patut dicurigai. Rasta berdeham menunggu Abangnya untuk berbicara.

"Alea lagi marah sama gue nih," ujar Rafa tanpa menolehkan kepalanya.

"Terus?" Rasta bergumam. Tangannya bergerak menuliskan susunan huruf alphabet di atas kertas folio.

"Ya, gue bingung harus gimana," Rafa menukas, menyenderkan tubuhnya pada meja belajar. "Apa gue kasih bunga aja, Met?" tanyanya meminta pendapat.

"Iya,"

"Atau gue kasih coklat?"

"Iya,"

"Gue kasih novel aja kali ya, dia pasti suka banget."

"Iya,"

Rafa mencebik mendengar tanggapan Adiknya yang tidak jauh dari kata 'iya'.

"Met, ada kabar dari si Mala. Katanya lo mati besok," tutur Rafa dengan wajah lugunya.

"Iya," Rasta terbelalak, ia merubah posisinya menjadi duduk. "Ngomong apa barusan?!" tanyanya bersiap memaki.

"Besok lo mati. Jangan marah, gue tadi cuma menyampaikan pesan."

Rasta melempar guling ke arah Rafa. Sayangnya guling tu tidak mengenai Abangnya, melainkan melesat jatuh ke lantai. Lagi-lagi Rasta melempar dengan bantal, Rafa yang berusaha menghindar tidak sengaja menyenggol laptop milik Adiknya yang berada di atas meja belajar.

[GS2] OTHER SIDE (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang