Apakah ini sebuah takdir, atau mungkin balasan atas semua kesalahannya?
***
🥀-Happy Reading-🥀
"Tunggu Non, biar Pak Imam yang buka pintunya." ujar supir pribadi yang telah lama berkerja di keluarga ini.
"Nggak usah Pak, saya bisa sendiri," tolak Maudy sesopan mungkin. Perlahan ia harus terbiasa untuk mandiri tanpa mengandalkan orang lain.
Maudy membuka pintu mobil, memasuki rumah bercat tosca. Senyumnya kian mengembang mendapati Mama yang tengah menyiapkan beberapa macam makanan. Belakangan ini jadwal kerja Mama mulai lenggang, tidak seperti kemarin-kemarin.
"Anak Mama sudah pulang. Langsung cuci tangan ya, abis itu kita makan bareng Pak Imam sama Mbok Darti juga," tutur Citra menghentikan kegiatannya ketika Maudy mencium punggung tangannya.
"Iya, Ma." balas Maudy.
Tas yang berada di punggung, ia taruh di atas meja ruang tamu. Maudy melangkahkan kakinya menuju dapur, mencuci tangannya pada air yang mengalir dari keran wastafel. Saat berbalik ke ruang makan, Mbok Darti dan Pak Imam sudah duduk manis di kursinya masing-masing.
Citra menepuk-nepuk kursi di sebelahnya yang kosong, meminta anaknya untuk duduk di sana. Maudy mengangguk, ia mendudukan bokongnya. Senyumnya yang terukir sempurna tidak juga luntur, rasa bahagia dan kehangatan dari keluarga kecil ini yang selalu ditunggu-tunggu.
"Mau pakai apa, Ody?" tanya Citra setelah menyendok nasi ke atas piring.
Semua makanan yang dihidangkan di atas meja terlihat enak, Maudy bingung jika harus memilih. "Apa aja, Ma." jawabnya.
"Si Mbok kalau liat Non Ody jadi inget sama cucu. Mungkin umurnya nggak jauh beda, tapi sayangnya udah nggak ada." ucap Mbok Darti, air mukanya berubah sedih teringat bayang-bayang cucunya beberapa tahun lalu.
Maudy mengusap punggung tangan Mbok Darti, tidak mau orang yang ia sayang merasakan kesedihan. "Jangan sedih Mbok. Bukannya Mbok pernah bilang udah anggap aku cucu sendiri?" tanyanya.
Pertanyaan Maudy mendapat anggukan kecil, "Pasti, Non Ody cucu kesayangan Mbok juga," tutur Mbok Darti seraya mengusap puncak kepala anak dari majikannya.
"Kalau Pak Imam, punya cucu berapa?" Maudy beralih bertanya pada supirnya yang sedaritadi lebih banyak diam.
"Banyak kalau Bapak, anak aja ada 6, Non. Cucu Pak Imam sekitar 9 orang, tapi masih pada kecil-kecil semua."
Maudy menarik sudut bibirnya, melirik ke arah Mama sekilas. Wanita paruhbaya itu juga ikut tersenyum, mengusap-usap bahu anak semata wayangnya. Maudy menyendok nasi serta lauk, lalu memasukkan ke dalam mulut. Mendengarkan Mbok Darti dan Pak Imam bercerita tentang keluarga mereka, keduanya memang memiliki jarak umur yang tidak jauh berbeda.
Sesekali Maudy dan Mamanya tertawa saat Mbok Darti dan Pak Imam berdebat karena berbeda pendapat, mereka terlihat lucu. Mbok yang kental dengan bahasa jawanya ketika sedang marah, sedangkan Pak Imam tidak pernah mau mengalah.
Kring
Kring
Kring
Telepon yang berada di ruang tamu berbunyi. Mbok Darti berdiri dari duduknya, tetapi tertahan oleh gelengan Mama. Kebetulan piring Mama sudah tandas, wanita itu beranjak menuju ruang tamu. Dering telepon masih berbunyi, tanpa ragu ia langsung mengangkat panggilan tersebut.
Awalnya masih baik-baik saja, namun pernyataan yang baru saja diterima dari sang penelepon membuat pertahanan Citra runtuh. Tungkai kakinya melemas, degup jantung berdebar kencang, matanya memanas hingga tidak lama air matanya mengalir membasahi pipi.
KAMU SEDANG MEMBACA
[GS2] OTHER SIDE (Completed)
Jugendliteratur"Rasta!" "Ya?" "Kenapa, Sta?" "___" "Kenapa lo harus peduli sama gue?" "Bukan peduli, tapi kasihan." Rasta Dhefino Greynata, cowok cuek berbandana hitam yang tidak pernah mempedulikan sekitarnya. Perlahan pandangan berubah saat melihat kehidupan cew...
![[GS2] OTHER SIDE (Completed)](https://img.wattpad.com/cover/233067867-64-k820761.jpg)