31. HIDDEN

1.3K 166 187
                                        

Terkadang kita tidak bisa menilai seseorang hanya dari, katanya.

***
🥀-Happy Reading-🥀

"Lo sibuk nggak, Fit?"

Fita yang tengah membaca cerita online dari layar handphone mendongak, ia langsung menggelengkan kepalanya cepat. Fita memasukan handphone ke dalam kantong roknya, selagi menunggu yang ingin dikatakan Maudy selanjutnya.

"Temenin gue yuk, ke perpustakaan balikin buku," pinta Maudy sembari mengangkat buku tebal.

Respon yang selalu Fita berikan adalah mengangguk serta tersenyum. Kedua cewek itu berjalan bersisian keluar dari dalam kelas. Untuk saat ini siswa-siswi lain sudah mulai berkurang dalam urusan menghina dengan kata-kata kasar, mungkin karena selama ini Maudy tidak pernah mau menanggapi.

Sesekali Maudy mengajak Fita untuk berinteraksi, tapi sepertinya hari ini Fita terlihat sangat murung. Berkali-kali Maudy bertanya alasannya, temannya itu hanya menggeleng lalu mengatakan semua baik-baik saja. Mau tak mau Maudy pun memilih untuk percaya.

Koridor lantai 1 lebih ramai dilalui oleh siswa-siswi, apalagi fasilitas yang disediakan lebih lengkap. Dari arah depan seorang siswi berlarian hingga tidak sengaja menubruk bahu Maudy hingga keduanya sama-sama terjatuh. Sontak Fita segera membantu temannya untuk berdiri.

Sedangkan siswi itu tetap terduduk di lantai seraya memijat kakinya yang keseleo. Maudy mengulurkan tangan, berniat untuk membantu, tapi tangannya itu langsung ditepis begitu saja. Saat siswi itu mendongak, ternyata dia adalah Diva.

"Gue nggak butuh bantuan lo!" tolak Diva, tatapannya begitu sinis.

"Oh, ya udah, gue juga nggak rugi." Maudy berkacak pinggang, merasa sebal.

Diva melirik ke arah Fita yang bungkam. "Kenapa lo mau temenan sama orang kayak dia, Fit? Jelas-jelas dia pernah bully lo,"

"Suka-suka dia kali, ngapain elo yang ribet." timpal Maudy menanggapi perkataan Diva.

"Lo mending diem, deh! Gue nggak nanya sama lo!" Diva menggeram kesal, sampai kapanpun ia tidak akan menyukai Maudy mau dia berubah sebaik apa pun.

"Mulut-mulut gue, nggak ada hak buat lo ngatur."

Fita menjadi pusing sendiri dengan pertengkaran mereka, ia menggerakkan tangannya ke udara.

"Sudah-sudah, kenapa kalian jadi bertengkar," kata Fita menengahi.

"Dia yang mulai Fit. Udah ayo tinggalin aja," ajak Maudy memaksa, ia sudah muak berada di dekat Diva.

Namun, respon Fita tetap menggeleng, ia merasa kasihan dengan kondisi Diva saat ini.

"Tapi, kita bantu Diva dulu ya, kakinya pasti sakit."

"Fita, dia aja nggak mau dibantu, biarin aja. Siapa tau ada lagi yang kasihan," ucap Maudy. Lama-kelamaan ia merasa geram karena Fita terlalu baik.

"Kurang ajar banget ya, lo!" maki Diva, sesekali meringis sebab rasa sakit di kakinya bereaksi.

Maudy menulikkan pendengarannya, ia menarik pergelangan tangan Fita untuk cepat-cepat pergi dari sini. Diva uang terlihat manis, tetapi nyatanya hanya pencitraan. Bahkan sifatnya tidak jauh berbeda dengan sosok nenek lampir yang menyeramkan.

[GS2] OTHER SIDE (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang