Arti sahabat itu mereka yang saling mengerti, selalu merangkul dikala susah.
***
🥀-Happy Reading-🥀
Senin, di mana aktivitas manusia di mulai. Jalan-jalan raya yang membentang dipenuhi oleh lalu lintas kendaraan. Asap-asap kendaraan bermotor mengumpul menjadi kabut menutupi langit biru. Matahari memancarkan sinarnya dari arah timur.
Setelah menjalankan liburan akhir tahun selama 2 Minggu, hari ini sekolah sudah kembali masuk seperti biasa. Siswa-siswi memasuki gerbang dengan kendaraan bermotor mereka, Pak Sarif selaku satpam sekolah tersenyum lebar menyambut kedatangan satu per satu siswa-siswi SMA Pelita Nusantara.
"Rasta!"
Langkah kaki cowok yang memakai bandana hitam itu terhenti di depan ruang serbaguna. Ia berbalik badan, manik hitamnya bertemu dengan manik kecokelatan cewek berambut sepunggung yang diikat kuda.
"Apa, Div?" tanya Rasta, alisnya tertaut.
Diva berjalan mendekati Rasta, sehingga posisi mereka berhadapan. "Soal lo pacaran sama Maudy, benar?" tanyanya sambil menatap cowok itu intens.
"Lo tau?"
"Satu sekolah juga tau, bukan gue aja." sindir Diva seraya memutar bola matanya malas.
Tidak perlu diragukan lagi, pastinya Arka dan Dito yang memberi tahu tentang itu, sebab beberapa hari yang lalu mereka bertemu di Blumchen Coffee dan berujung meminta traktiran. Ditambah mulut teman-temannya itu tidak bisa diajak kompromi.
Rasta menggaruk kepalanya, tidak mengerti apa yang sebenarnya Diva permasalahkan.
"Terus?"
"Kenapa lo nggak ngasih tau gue, sih?" tanya Diva kesal merasa jika Rasta tidak benar-benar menganggap dirinya sebagai sahabat.
"Tapi sekarang lo udah tau," jawab Rasta mencoba untuk tetap sabar mendengarkan perkataan sahabatnya.
Diva bersidekap, menatap lurus Rasta dengan sorot tidak percaya. Banyak cewek di sekolah ini, tetapi kenapa harus Maudy yang menjadi pacar Rasta. Masih teringat bagaimana cara Maudy yang melakukan bullying pada korbannya, termasuk dirinya.
"Bisa-bisanya lo suka sama cewek modelan kayak dia!" cibir Diva menyindir.
"Gue nggak ngerugiin lo, kan?" Rasta bertanya dengan santai.
"Gue ini sahabat lo, seharusnya lo bilang sama gue dulu," pungkas Diva, lama-kelamaan ia merasa geram.
Rasta menghela nafasnya gusar. "Kita emang sahabat, tapi bukan berarti lo bisa ngatur hidup gue." ucapnya penuh penekanan.
"Sta, maksud gue bukan gitu. Lo tau sendiri Maudy gimana," jelas Diva berupaya membela diri agar tidak disalahkan oleh cowok berbandana hitam itu.
"Karena lo cuma liat dia dari satu sisi."
"Tapi gue tetap nggak setuju lo pacaran sama dia!" tutur Diva tetap kekeuh dengan pendiriannya.
Siswa-siswi yang berlalu-lalang di koridor sesekali melirik ke arah mereka berdua, merasa penasaran dengan keributan di pagi hari. Beberapa dari mereka ada yang berbisik-bisik saling berbagi informasi yang tidak sengaja mereka dengar.
"Apa gue pernah larang hubungan Lo sama Ganda? Padahal gue juga sahabat lo," balas Rasta tidak mau kalah, ia tidak habis pikir, mengapa Diba bisa berpikir terlalu pendek.
"Sta—"
"Lo cari gue kalau butuh aja, Div." Rasta menyela perkataan Diva, manik hitamnya menajam.
KAMU SEDANG MEMBACA
[GS2] OTHER SIDE (Completed)
Novela Juvenil"Rasta!" "Ya?" "Kenapa, Sta?" "___" "Kenapa lo harus peduli sama gue?" "Bukan peduli, tapi kasihan." Rasta Dhefino Greynata, cowok cuek berbandana hitam yang tidak pernah mempedulikan sekitarnya. Perlahan pandangan berubah saat melihat kehidupan cew...
![[GS2] OTHER SIDE (Completed)](https://img.wattpad.com/cover/233067867-64-k820761.jpg)