Double up malam ini ges, tinggalkan jejak!
🥀-Happy Reading-🥀
Waktu istirahat pertama berlangsung selama 30 menit, area kantin langsung dipenuhi puluhan siswa-siswi untuk segera mengisi perut sebelum waktu istirahat selesai. Maudy menyeruput jus alpukat kesukaannya sesekali melirik ke sekelilingnya mencari-cari seseorang.
Hari ini Fita tidak masuk sekolah tanpa keterangan yang jelas setelah kejadian kemarin. Maudy mendengus saat ketiga temannya itu selalu membahas sosok cowok bernama Rasta. Sampai saat ini mereka juga tidak memberitahu dirinya siapa Rasta yang selalu mereka puja. Maudy menolehkan kepalanya ke arah pintu masuk kantin, seringain tipis tercetak jelas di bibirnya.
Posisi yang tepat baginya karena memilih duduk dipinggir. Seseorang itu semakin mendekat, Maudy sengaja meluruskan sebelah kakinya. Tidak lama suara benturan keras terdengar kencang membuat seluruh pusat perhatian terarah padanya. Maudy tersenyum manis beranjak dari duduknya menghampiri siswi yang tersungkur di lantai.
Maudy spontan menutup mulutnya dengan satu tangan. "Ups! Sorry," gumamnya.
"Uh, gimana rasanya cium lantai?" Sheila menimpali tertawa kecil.
Siswi berambut hitam itu mendongak menatap Maudy tidak suka. Belum lagi suasana sekelilingnya yang ramai semakin membuatnya malu, siswi itu berdiri sendiri sama sekali tidak ada orang yang mau mengulurkan tangannya sekedar untuk membantu.
"Mau lo apa sih?!"
"Serahin handphone lo," pinta Maudy tanpa berbasa-basi.
"Nggak. Lagian buat apa?"
"Gue bilang kasih handphone lo ke gue Diva!"
Diva menggeleng, memilih untuk mencari jalan lain. Namun, baru dua langkah ia kembali dicegah oleh Sheila dan Reta yang mencekam kedua pergelangan tangannya. Maudy menyunggingkan senyumnya melihat kedua temannya yang bergerak cepat.
"Lepasin gue! Mau kalian apa sebenernya?!" sentak Diva berusaha melepaskan kedua tangannya.
"Serahin handphone lo sekarang!"
"Buat apa lo minta handphone gue?!"
"Diva—Diva, lo pikir gue bodoh? Gue tau lo sengaja rekam gue sama temen-temen gue saat bully Fita!" Maudy menukas memincingkan kedua matanya seraya bersedekap. "Jadi, cepet lo hapus video itu sekarang!" titahnya.
Siswa-siswi yang berada di area kantin menunda kegiatan mereka, memutari Diva dan Maudy beserta ketiga temannya sekedar untuk menonton keributan mereka yang tidak kunjung berakhir. Diva tersenyum miring menatap Maudy dan ketiga antek-anteknya itu dengan sorot meremehkan.
"Oh, nyatanya seorang Maudy punya rasa takut juga ya. Bisanya menindas orang lain, giliran mau dilaporin gayanya mirip cacing kepanasan." Diva berucap seraya menahan tawanya yang ingin meledak.
Deru nafas Maudy turun-naik, kedua tangannya terkepal kuat dengan mata tajamnya yang berhasil menusuk retina Diva. "Jaga mulut sampah lo itu!" serunya tidak terima direndahkan secara langsung.
"Gue atau lo yang sampah Maudy Legista? Kayaknya lo harus banyak-banyak ngaca deh,"
Suasana semakin memanas serta penuh ketegangan. Tatapan sengit keduanya seakan mematikan, tidak ada yang berani bersuara untuk sekedar menghentikan keributan diantara mereka. Maudy mengira jika Diva adalah tipe cewek pendiam, tetapi dugaanya ternyata salah besar. Mungkin bukan hanya Maudy dan para temannya yang merasa terkejut, melainkan seluruh siswa-siswi yang mengenal Diva.
KAMU SEDANG MEMBACA
[GS2] OTHER SIDE (Completed)
Teen Fiction"Rasta!" "Ya?" "Kenapa, Sta?" "___" "Kenapa lo harus peduli sama gue?" "Bukan peduli, tapi kasihan." Rasta Dhefino Greynata, cowok cuek berbandana hitam yang tidak pernah mempedulikan sekitarnya. Perlahan pandangan berubah saat melihat kehidupan cew...
![[GS2] OTHER SIDE (Completed)](https://img.wattpad.com/cover/233067867-64-k820761.jpg)