36. PUNISHMENT

1.3K 164 168
                                        

🥀-Happy Reading-🥀

Ruangan berukuran minimalis itu tampak menegangkan. Dua orang siswa beserta guru wanita paruhbaya duduk saling berhadapan, dinginnya AC seakan menyambut kedatangan mereka sejak awal. Tidak ada yang berani bersuara, keduanya sama-sama tertunduk dengan tatapan tajam mengiringi.

Bu Dona mengeluarkan dua lembar kertas dari laci dan bolpoin hitam ke atas meja. Dua orang siswa ini berhasil membuatnya pening, alasan mereka ribut juga tidak jelas. Berkali-kali Bu Dona bertanya, tidak juga ada yang berniat untuk menjawab.

"Saya tanya sekali lagi. Apa alasan kalian berdua berantam di kelas?" tanya Bu Dona, ia menyatukan kedua tangannya yang bertumpu di atas meja. "Kenapa tidak ada yang jawab? Pasti ada alasannya, tidak mungkin hanya candaan," ujarnya.

Sama seperti tadi, tidak juga ada jawaban. Mereka memilih untuk menyembunyikan akar permasalahannya dari Bu Dona. Walaupun guru wanita itu akan terus memaksa, mereka akan tetap bungkam.

"Ganda, jawab pertanyaan saya!" Bu Dona merasa geram, sedaritadi kedua siswa bermasalah ini tidak juga merespon.

Bu Dona beralih menatap siswa berbandana di hadapannya, "Rasta?"

Helaan nafas panjang terdengar. Bu Dona menyerah untuk meminta penjelasan dari siswanya, ia akan langsung memberikan hukuman yang setimpal dan berharap mereka tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama.

"Kalian berdua sudah berantam di sekolah. Saya harus bertindak tegas dengan menambah poin masing-masing 50," tukas Bu Dona,"tidak hanya itu, saya juga akan memberi hukuman berlari keliling lapangan 10 putaran serta membereskan perpustakaan!" tegasnya.

Mendengar itu sontak keduanya terkesiap, mereka sempat menoleh bersamaan sebelum membuang muka ke arah lain. Ganda menopang kepalanya, luka-luka yang menghiasi wajahnya terasa berdenyut, ditambah konsekuensi yang diterima berhasil membuatnya frustasi.

"Kalau kalian menolak, poin kalian akan saya tambah 2 kali lipat, dengan begitu tinggal menunggu keputusan dari sekolah." ancam Bu Dona tidak main-main. Ia sebagai wakil kepala sekolah harus bertindak tegas untuk mengatur seluruh siswa-siswi SMA Pelita supaya mereka tidak bertingkah sesukanya.

"Silahkan tanda tangani surat perjanjian ini, lalu berikan kepada orangtua kalian," tuturnya seraya memberikan kertas lembaran itu kepada kedua siswanya.

Rasta mengambil bolpoin hitam itu dari atas meja, matanya bergerak membaca huruf-huruf berderet rapi yang berisi tentang perjanjian karena pelanggaran tata tertib sekolah. Walau rasanya berat ini sudah resiko, ia menandatangani kertas itu, begitupun dengan Ganda.

"Baik. Kalian boleh keluar dan langsung menjalankan hukuman, saya akan memantau."

Kedua siswa berseragam berantakan itu beranjak dari kursi, melangkahkan kaki keluar dari dalam ruang BK. Tidak ada yang membuka suara, Ganda berjalan lebih dulu diikuti Rasta di belakangnya yang memilih mengalihkan pandangan ke arah lapangan.

Jarak menuju lapangan tidak terlalu jauh karena letak ruang BK berada di lantai 2. Ganda melepas satu per satu kancing seragam putih yang dikenakan, setelah terlepas, ia menaruh seragamnya di pinggir lapangan menyisakan kaos putih polos sebagai dalaman. Bertujuan supaya tidak basah terkena keringat.

Rasta sudah berlari lebih dulu memutari lapangan. Sejak tadi keadaan terasa sangat canggung. Rasanya gengsi untuk sekadar mengajak berbicara lebih dulu, karena terkalahkan oleh ego masing-masing.

 Rasanya gengsi untuk sekadar mengajak berbicara lebih dulu, karena terkalahkan oleh ego masing-masing

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
[GS2] OTHER SIDE (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang