Sepintar-pintarnya menutupi bangkai, maka baunya akan tetap tercium juga.
***
🥀-Happy Reading-🥀
Pria paruhbaya menuruni satu per satu anak tangga, matanya tertuju pada anak keduanya yang tengah berbaring di sofa dengan bantal yang menutupi seluruh wajahnya. Rey menghela nafas, berjalan mendekat, lalu mendudukkan bokongnya di single sofa.
"Kamu kenapa? Belakangan ini diem aja," tanya Rey menggaruk belakang kepalanya.
Bantal itu berpindah posisi. Rasta membuka kelopak matanya, menggelengkan kepala dengan seulas senyum yang dipaksakan. Rey merasa bingung, ia sudah tau masalah tentang hubungan anaknya, tetapi ia juga tidak mau ikut campur karena anaknya itu sudah remaja, tau mana yang salah dan benar.
Rey mengambil remote dari atas meja, menekan tombol power. Ia menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Menambah volume suara lebih kencang, sengaja untuk mengusik ketenangan Rasta. Namun, anaknya itu tetap tidak bersuara, hanya merubah posisinya menjadi terlungkup.
"Bikinin Ayah kopi, Sta." pinta Rey tanpa mengalihkan pandangan dari layar televisi.
"Bentar," sahut Rasta terdengar samar-samar.
"Lama." Rey mencibir, ia tidak sabaran.
Rasta terduduk, mengusap wajahnya kasar. Cowok itu berjalan dengan gontai ke arah dapur. Merebus air di kompor, kemudian menuangkan kopi instan di cangkir kecil. Rasta terduduk di kursi, menopang dagunya dengan kedua tangan selagi menunggu air yang direbus matang.
Selepas itu, ia menuangkan air panas ke dalam cangkir, mengaduknya hingga merata. Rasta berjalan ke ruang tamu dengan secangkir kopi, menaruhnya di atas meja. Ia terduduk berhadapan dengan Ayahnya yang tersenyum lebar.
"Dari kemarin Ayah liatin kamu galau terus," ucap Rey seraya mengangkat satu kakinya hingga bertumpu ke kaki yang lain.
"Ah, nggak, biasa aja." balas Rasta melirik ke arah Ayahnya sekilas.
Pria paruhbaya itu meniup kepulan asap dari secangkir kopi. "Nggak ngaku lagi. Kenapa? Mikirin anak tetangga?" tanyanya terkesan menggoda.
Respon yang ditunjukan Rasta hanya kekehan kecil. Cowok itu memusatkan perhatiannya pada layar televisi yang menampilkan acara komedi, namun tetap saja ia tidak bisa fokus menonton walaupun sudah dipaksakan.
"Kalau kangen tinggal samperin, Sta. Cuma sebelas langkah kok," ujar Rey menyeruput sedikit demi sedikit kopinya.
"Yah, nggak lucu." Rasta memeluk bantal sofa erat-erat.
"Siapa yang ngelucu? Ayah ngasih saran aja." Rey menukas, memperhatikan anaknya dengan alis terangkat. "Jadi cowok nggak usah gedein gengsi, nanti kalau direbut yang lain baru deh uring-uringan." ucapnya.
Rasta tetap diam, ia berpura-pura tidak mendengar perkataan Ayahnya barusan. Rasta mengeluarkan handphone dari balik bantal, menggerakkan jarinya di layar, tidak ada yang menarik. Bermain game online juga rasanya bosan, apalagi grup bersama teman-temannya sepi.
Ting!
Tertera notif masuk. Rasta membuka aplikasi chatting, nama Diva berada di paling atas. Rasta menyandarkan Kepalanya di ujung sofa, membaca pesan tersebut dengan rasa malas.
Diva Gedisya
Malam ini sibuk gak?
Rasta Dhefino
Gak
Diva Gedisya
Gue mau ketemu lo
Rasta Dhefino
Ngapain? Males
Diva Gedisya
Ini penting, Sta
KAMU SEDANG MEMBACA
[GS2] OTHER SIDE (Completed)
Novela Juvenil"Rasta!" "Ya?" "Kenapa, Sta?" "___" "Kenapa lo harus peduli sama gue?" "Bukan peduli, tapi kasihan." Rasta Dhefino Greynata, cowok cuek berbandana hitam yang tidak pernah mempedulikan sekitarnya. Perlahan pandangan berubah saat melihat kehidupan cew...
![[GS2] OTHER SIDE (Completed)](https://img.wattpad.com/cover/233067867-64-k820761.jpg)