Votement jangan lupa,
Awalnya hanya sebuah ketidaksengajaan, namun makin lama rasanya semakin berbeda.
***
🥀-Happy Reading-🥀
Rasta memasuki perkarangan rumahnya dengan wajah gelisah. Melihat mobil Ayah yang terparkir di garasi membuat perasaannya berkecamuk. Rasta sengaja meninggalkan motornya di parkiran sekolah, sebab pukulan kayu yang mengenai kakinya menyulitkan Rasta untuk mengendarai motor. Untung Sandi mau mengantarkannya pulang.
Pintu terbuka lebar, Rasta melepas sepasang sepatunya. Semakin dekat dengan ruang tamu degup jantungnya berpacu lebih kencang. Rasta mengintip dari balik tembok, Ayahnya tengah terduduk di sofa sambil berkutik dengan laptop yang berada di pangkuannya. Jika Rasta memilih pintu belakang rasanya juga percuma karena letak tangga yang berada di dekat ruang tamu.
"Kenapa kamu ngintip-ngintip Rasta?"
Suara bariton Ayahnya membuat Rasta tidak bisa berkutik. Kakinya terasa berat dan sulit digerakkan untuk berjalan menghampiri Ayahnya. Rasta berdiri tepat dihadapan Ayahnya, ia menundukkan kepala tidak berani menatap Ayahnya lebih lama.
Wajah Rasta yang dipenuhi lebam serta luka yang darahnya sudah mengering membuat Ayahnya—Rey tidak lagi merasa heran. Seragam putih yang dikenakannya juga terlihat kotor, bahkan beberapa bagian terkena bercak darah.
"Tawuran lagi?" Rey menukas, menaruh laptopnya di atas meja. "Kenapa diam? Ayah tanya, kamu tawuran lagi?" tanya Rey sarkas.
Keterdiaman anaknya sudah cukup untuk menjawab pertanyaan itu. Rey melepaskan kacamatanya, ia bersidekap menatap Rasta tajam.
"Berati benar kamu tawuran. Mau jadi apa kamu? Preman? Jagoan sekolah?"
"Yah, maaf." gumam Rasta.
Bukan kali pertamanya Rasta pulang dalam keadaan seperti ini, Rey sudah bosan menasihatinya dan memaafkan, tetapi nyatanya Rasta tetap tidak berubah. Anak itu selalu melakukan sesuatu semaunya tanpa berpikir panjang.
"Beberapa Minggu yang lalu kamu pulang luka-luka, kamu minta maaf tapi diulangi lagi," sindir Rey tentunya semakin membuat Rasta tidak bisa berkutik. "Ayah sekolahin kamu biar punya moral, kalau kerjaan kamu cuma berantem mending sekalian nggak usah sekolah!" ujarnya dengan nada tinggi.
"Kemarin malam kamu balapan liar kan?"
Rasta mendongak bersamaan dengan raut wajah terkejutnya. Tidak menyangka jika Ayahnya itu tau tentang kebohongannya kemarin. Rey menyunggingkan senyum masamnya, ia merasa sangat kecewa dengan Rasta yang rela berbohong demi mementingkan balapan liar.
"Yah—" belum sempat menjawab, suara Ayahnya kembali menginterupsi.
"Nggak perlu ngelak lagi, Ayah tau kamu bukan main ke rumah Dito," ucap Rey. Pria paruhbaya itu beranjak dari duduknya untuk menghampiri Rasta yang masih dalam keterdiaman. "Kamu ikut balapan gitu dapat apa? Uang? Nyawa jadi taruhan Rasta! Ayah kayak gini karena khawatir," lanjutnya.
"Ayah nggak pernah salahin teman-teman kamu, mereka memang nggak salah. Tapi kamu itu bukan anak kecil lagi, kamu seharusnya tau mana yang harus kamu lakuin mana yang nggak!"
"Kalau kamu minta apa pun sebisa mungkin Ayah kasih, tapi kalau Ayah minta kamu untuk berhenti ikut tawuran nggak jelas gitu mampu?" tanya Rey dengan sebelah alisnya yang terangkat.
Tidak kunjung mendapat balasan membuat Rey mendengus, ia mengambil laptop dan kacamata di atas meja. Matanya yang tajam tidak juga terlepas memperhatikan Rasta.
KAMU SEDANG MEMBACA
[GS2] OTHER SIDE (Completed)
Teen Fiction"Rasta!" "Ya?" "Kenapa, Sta?" "___" "Kenapa lo harus peduli sama gue?" "Bukan peduli, tapi kasihan." Rasta Dhefino Greynata, cowok cuek berbandana hitam yang tidak pernah mempedulikan sekitarnya. Perlahan pandangan berubah saat melihat kehidupan cew...
![[GS2] OTHER SIDE (Completed)](https://img.wattpad.com/cover/233067867-64-k820761.jpg)