🥀-Happy Reading-🥀
Gemercik air yang berbunyi dari dalam kamar mandi terdengar. Tidak menjelang lama pintu terbuka, sang pemilik kamar keluar dengan keadaan rambut basah yang ditutupi handuk pink.
Malam ini hujan turun deras membasahi bumi, tetapi untungnya petir tidak ikut turut hadir. Maudy mengambil sweater rajut dari dalam lemari, lalu memakainya sebab udara yang berhembus terlalu dingin. Maudy melepas handuk yang melingkari kepala, mengeluarkan hairdryer dari kotak laci.
Pantulan wajahnya dari balik kaca membuat Maudy terdiam, goresan memanjang terlihat jelas di pipinya. Apakah ia terlalu buruk di mata orang lain sehingga pantas disamakan dengan sampah? Maudy mengeringkan surai cokelat kehitamannya. Setalah itu, ia menaruh hairdryer ditempat awal.
Langkah kaki cewek itu tertuju pada dinding di sebelah kiri yang terdapat mading kecil, di mana ia sering menempelkan secarik kertas berisi kata-kata mutiara. Tatapannya beralih pada lukisan wajahnya sendiri dan juga Pompom—kucing gembul yang menggemaskan.
Teringat jelas, lukisan ini dibuat di depan minimarket kala hujan. Saat itu ia belum begitu mengenal Rasta, pertemuan yang tidak disengaja ketika dirinya tengah menangis. Outfit yang cowok itu kenakan juga masih Maudy ingat. Jeans selutut, hoodie hitam, serta masker.
Maudy mencopot paku kecil berwarna kuning, lalu mengambil lukisan di atas robekan sketchbook. Sudut bibirnya tertarik, mengulas senyuman manis yang menghiasi wajah cantiknya. Maudy mengusap lukisan tersebut dengan gerakan lembut, tidak mau jika rusak ataupun robek.
Manik hitamnya teralih pada figura kecil di atas nakas. Maudy menaruh lukisannya di kasur, ia meraih figura itu dengan tangan bergetar hebat. Maudy memeluk erat benda itu, matanya kian memanas.
Rindu. Sejujurnya ia sangat merindukan Kakaknya. Air matanya mengalir deras saat memperhatikan wajah polos Calvin yang memeluknya erat, begitupun dengan anak perempuan yang tersenyum memperlihatkan deretan giginya, seolah-olah tidak akan ada kata perpisahan di antara mereka.
"Kak... apa kabar?" tanya Maudy menatap dalam-dalam foto anak cowok dengan gigi gingsul.
Maudy menyeka air matanya, terisak-isak. Suara tangis tidak terlalu terdengar sebab teredam oleh rintik hujan yang semakin deras.
"Aku udah tumbuh jadi cewek yang kuat seperti permintaan Kakak dulu," tutur Maudy tersenyum tipis, tangannya terasa bergetar saat menyentuh kaca yang menjadi pelindung foto.
"Kakak nggak perlu khawatir, aku bakal jaga Mama sebaik mungkin." Tangis Maudy semakin pecah, cewek itu mati-matian menahan sesak di dadanya.
Helaan nafasnya gusar. Maudy mengalihkan pandangannya ke jendela. Langit malam semakin gelap, angin berhembus kencang membuat dedaunan pohon-pohon besar bergerak tidak menentu.
"Satu lagi, Kak. Sekarang aku juga punya orang yang spesial, namanya Rasta. Dia baik, walaupun suka ngegas. Tapi aku sayang dia, tenang Kak aku nggak akan pernah lupain Kak Calvin... di sini." ucap Maudy seraya menunjuk bagian hatinya.
"Until whenever, only brother is in the top position," bisik Maudy, suaranya terdengar serak. Mungkin ia dianggap gila karena berbicara dengan foto yang berada di figura.
Hanya ini yang bisa ia lakukan selain berziarah saat rindu dengan Kakak dan Papanya yang pergi meninggalkannya lebih dulu. Lintasan memori gelap itu berhasil membuatnya putus asa dan selalu menyalahkan takdir yang terlalu kejam.
Namun, Maudy tidak pernah berpikiran untuk mengakhiri hidup dengan cara yang tragis karena ia masih punya Mama, wanita hebat yang merawatnya tanpa mengeluh. Juga Rasta, cowok yang tidak pernah menganggapnya sebagai pemeran antagonis dalam sebuah cerita.
KAMU SEDANG MEMBACA
[GS2] OTHER SIDE (Completed)
Teen Fiction"Rasta!" "Ya?" "Kenapa, Sta?" "___" "Kenapa lo harus peduli sama gue?" "Bukan peduli, tapi kasihan." Rasta Dhefino Greynata, cowok cuek berbandana hitam yang tidak pernah mempedulikan sekitarnya. Perlahan pandangan berubah saat melihat kehidupan cew...
![[GS2] OTHER SIDE (Completed)](https://img.wattpad.com/cover/233067867-64-k820761.jpg)