I have many dreams, but I never stop to always think negatively.
***
🥀-Happy Reading-🥀
Taman sekolah terlihat sepi, Maudy berserta ketiga temannya memanfaatkan kesempatan ini untuk menindas Fita yang belakangan ini menjadi target target bullying mereka. Fita terduduk di rerumputan hijau yang tumbuh lebat dengan keadaan yang lemah. Kepalanya selalu tertunduk menerima setiap siksaan yang tidak henti-hentinya mereka berikan, seperti : tamparan, jambakan, dan jentulan dikeningnya.
Rasa pusing itu kian menjalar saat Maudy menjambak rambutnya kuat-kuat, sebisa mungkin Fita menahan tangisnya yang akan pecah. Seharusnya Fita dan Maudy melaksanakan pelajaran olahraga, secara kebetulan guru pembimbing tidak bisa hadir sehingga kelas mereka dibolehkan berolahraga bebas. Sekitar 10 menit mereka bergantian menyiksa Fita di bawah pohon yang rindang.
"Itu belum seberapa Refita, kemarin lo ngadu kan sama Bu Dona! JUJUR?!" Maudy menyentak sambil berkacak pinggang, menatap lurus Fita yang terus-menerus tertunduk.
Sheila mengulurkan tangannya, mendorong bahu Fita sekuat tenaga yang membuat Fita tersungkur. "JUJUR LO?!"
Tangan Fita yang bergetar hebat terangkat, mulai bergerak menjawabnya dengan bahasa isyarat. Maudy mengamati setiap gerakan tangan Fita, bahasa isyarat bukan penghalang untuknya. Karena sejak kecil Mama sering mengajarkannya untuk mengenal bahasa isyarat sedikit demi sedikit. Sedangkan Sheila, Reta, dan Ersa yang tidak mengerti hanya mampu terdiam.
"Aku tidak memberi tahu siapapun tentang kejadian kemarin, sumpah."
Maudy memincingkan kedua matanya, tidak semudah itu untuk mempercayai si Bisu dengan wajah polos yang sangat memuakkan.
"Dia jawab apa?" tanya Ersa yang tidak mengerti bahasa isyarat.
"Lo pikir gue percaya?" Maudy membungkukkan badannya memudahkan dirinya untuk menjambak rambut Fita yang sudah tidak berbentuk. "Sok lugu! Wajah lugu lo itu nggak akan bisa buat gue percaya!" ujarnya.
Fita meringis dalam diam saat jambakan Maudy semakin kencang, kepalanya terasa dijatuhi puluhan batu. Fita mendongakkan kepalanya menatap Maudy dengan sorot memohon. Perlahan Maudy mengendurkan jari-jemarinya yang menjambak rambut Fita, tidak sampai di situ Maudy juga mendorong kencang kepala Fita hingga menubruk batang pohon.
"SEKALI LAGI GUE TANYA SAMA LO SEBELUM LO BENER-BENER HABIS DI TANGAN GUE!! BU DONA TAU KEJADIAN KEMARIN DARI LO KAN?!" pekik Maudy penuh penekanan.
Lagi-lagi Fita menggelengkann kepalanya bersama suara isak tangis. Ia memang terlahir cacat, tidak mampu bersuara untuk mengutarakan semua yang dirasakannya. Namun, tetap saja Fita juga manusia yang memiliki derajat yang sama, jika bisa memilih sebuah takdir Fita menginginkan terlahir dengan sempurna.
Kedua tangan Fita kembali bergerak. "Tidak, aku sama sekali tidak memberitahu Bu Dona. Bahkan kemarin aku juga tidak bertemu sama dengannya,"
"Terus kalau bukan lo siapalagi?!"
"Aku juga tidak tahu, tapi jujur bukan aku."
Maudy bersedekap, memperhatikan sekelilingnya. Perhatiannya terpaku pada benda yang terletak dipinggir-pinggir taman, tong sampah. Seringain tipis tercetak jelas menghiasi bibir Maudy, tanpa berbasa-basi ia melangkahkan kakinya menuju ke pinggir taman, mengangkat tong sampah berwarna biru berukuran sedang. Ketiga temannya yang mengerti maksud dari Maudy hanya tersenyum simpul.
Reta berjalan mendekati posisi Maudy untuk membantu mengangkat tong sampah yang terisi penuh. Tepat dihadapan Fita yang terlihat pasrah karena sudah tidak mampu untuk berkutik. Dalam beberapa detik puluhan sampah-sampah basah berjatuhan mengenai seluruh tubuh Fita. Seragam putih yang dikenakan Fita sangat kotor, belum lagi baunya yang menyengat semakin membuat Fita terlihat menjijikan.
KAMU SEDANG MEMBACA
[GS2] OTHER SIDE (Completed)
Teen Fiction"Rasta!" "Ya?" "Kenapa, Sta?" "___" "Kenapa lo harus peduli sama gue?" "Bukan peduli, tapi kasihan." Rasta Dhefino Greynata, cowok cuek berbandana hitam yang tidak pernah mempedulikan sekitarnya. Perlahan pandangan berubah saat melihat kehidupan cew...
![[GS2] OTHER SIDE (Completed)](https://img.wattpad.com/cover/233067867-64-k820761.jpg)