08. ADA APA?

1.5K 145 62
                                        

🥀-Happy Reading-🥀

Pintu mobil bagian belakang terbuka, Maudy keluar dari dalam berlari menuju pintu utama yang tertutup. Tangannya terulur menekan bel rumah berkali-kali sampai akhirnya Mbok Darti membuka pintu, Maudy menyunggingkan senyumnya.

"Ada siapa?"

"Bapak dan Ibu, Non,"

Maudy menganggukkan kepalanya sekilas. Jika kedua orangtuanya berada di rumah bukan ketenangan yang didapatkan melainkan keributan yang terus-menerus membuatnya semakin tidak nyaman berada di rumah. Mbok Darti terpaku pada seragam putih dikenakan majikannya terlihat kotor.

"Seragamnya kenapa Non?" tanya Mbok Darti penasaran, karena tidak biasanya Maudy pulang dengan keadaan kacau.

"Ketumpahan jus alpukat Mbok," Maudy menukas menyadari raut khawatir dari Mbok Darti. "Maudy masuk dulu ya Mbok." pamitnya yang dibalas anggukan kepala.

Baru memasuki area ruang tamu Maudy sudah disuguhkan pemandangan tidak mengenakan. Kedua orangtuanya tengah ribut, saling berteriak penuh emosi. Maudy tidak pernah mengerti mengapa setiap hari selalu ada saja masalah di rumah ini yang membuat mereka ribut dan berujung Mama yang menangis.

Maudy menolehkan kepalanya sekilas memilih bersikap tak acuh. Cewek berambut hitam kecoklatan itu menaiki anak tangga, sampai di anak tangga teratas suara bariton Papa menghentikan langkahnya. Maudy memutar tubuhnya dengan sorot tidak suka yang terlihat jelas.

"Kamu tidak punya sopan santun Maudy?"

"Seharusnya Maudy yang tanya itu sama Papa dan Mama. Tolong sehari aja kalian sambut aku dengan sapaan hangat bukan teriakan-teriakan yang buat aku muak,"

Mama yang menangis di sofa mendongak menatap anak satu-satunya dengan wajah bersalah. Papa menajamkan matanya dengan kedua tangan yang terkepal. Pria paruhbaya itu menyerongkan badannya menampar pipi istrinya untuk melampiaskan rasa kesal.

Tamparan yang terdengar menggema itu membuat Maudy terpaku bersamaan dengan jantungnya berpacu kencang. Papa memang selalu begitu jika mempunyai masalah akan selalu melampiaskan rasa kesalnya pada Mama.

"Lihat ajaran kamu itu! Maudy jadi tidak sopan sama Papanya sendiri!"

"Kenapa saya? Seharusnya kamu bercermin dulu sebelum menyalahkan orang lain!"

"Kamu berani sekali sama saya!"

Maudy tertunduk memilin ujung roknya, ia berlari memasuki kamarnya. Menutup pintu kamar tidak lupa menguncinya. Maudy melempar tubuhnya ke atas kasur, menenggelamkan wajahnya dibalik bantal untuk menyamarkan suara tangisnya. Maudy punya segalanya, hanya satu yang tidak pernah ia punya, mendapatkan kasih sayang yang selama ini selalu diharapkan.

Berkali-kali Maudy merasa muak dengan takdir yang terlalu jahat mempermainkannya. Maudy terduduk dengan wajah sembabnya, ia membuka laci meja mengambil bingkai foto berukuran kecil. Senyum mirisnya mengembang sempurna, perlahan ia mengusap kaca tipis yang melindungi foto.

"Kak, kenapa Kakak pergi tinggalin Maudy sendiri di sini? Maudy kesepian, nggak punya siapa-siapa lagi." gumamnya.

Maudy terisak memeluk bingkai foto itu erat-erat. Semua terjadi semenjak mereka kehilangan Calvin-Anak pertama sekaligus Kakak satu-satunya Maudy. Kejadian perampokan beberapa tahun yang lalu berhasil merenggangkan nyawa Calvin yang saat itu masih berumur 10 tahun. Semenjak itu juga Papa selalu menyalahkan Mama yang tidak bisa menjaga Calvin.

Teringat semua kenangan indah yang tidak mampu Maudy lupakan. Sebagaimana Kakak yang selalu melindunginya, mengajaknya bermain, menuruti semua permintaannya. Namun, semenjak Kakaknya pergi Maudy tidak lagi mendapatkan itu semua.

[GS2] OTHER SIDE (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang