🥀-Happy Reading-🥀
Mobil sedan putih terhenti tepat di depan gerbang sekolah yang terbuka lebar. Rasta yang duduk di kursi penumpang bagian depan melepas self belt, sesekali melirik Ayahnya yang terdiam dengan tatapan lurus. Sejak kemarin malam pria paruhbaya itu mendiaminya dan bersikap tak acuh, Rasta tau ini memang kesalahannya.
"Aku sekolah dulu Yah," ujar Rasta meraih punggung tangan Ayahnya.
"Sekolah, bukan tawuran."
Rasta mengatupkan bibirnya. Tangannya terulur membuka pintu mobil, lalu menapakkan kakinya ke aspal. Rasta menutup kembali pintu mobil, tidak lama mobil langsung melaju kencang. Tidak ada guyonan yang biasanya selalu dilontarkan Ayahnya, kecanggungan yang terjadi membuat dirinya tidak nyaman. Saat mobil sedan putih melaju, ia memutar tubuhnya, melangkahkan kaki memasuki gerbang sekolah.
Upacara bendera akan berlangsung 20 menit lagi. Rasta memakai dasinya sambil berjalan di koridor lantai satu yang dilalui oleh siswa-siswi. Saat ingin berbelok menaiki anak tangga, langkahnya terhenti mendengar suara teriakan dan makian walaupun samar-samar. Rasta mengerutkan dahi, ia melirik sekelilingnya dengan tatapan bingung.
Siswa-siswi yang berada di koridor seperti tidak mendengar suara apa pun, atau mungkin ini hanya perasaannya saja. Rasta memilih meneruskan jalan menuju toilet siswi yang berada di kirinya. Suara teriakan meminta pertolongan semakin terdengar, Rasta terhenti tepat di depan toilet. Ragu, tetap masuk atau memilih untuk tidak peduli.
"Sakit, aku mohon lepasin!"
Rasta membuang jauh-jauh keraguannya, ia tetap memasuki toilet siswi. Kejadian yang terjadi dihadapannya sukses membuat Rasta terdiam kaku. Siswi pembuat onar yang berlagak paling berkuasa-Maudy, tengah membully siswi yang tidak diketahuinya. Bukan hanya Maudy, tetapi ketiga temannya itu juga berada di sana. Rasta menahan pergelangan tangan Maudy yang ingin menampar pipi korbannya.
"Diam sehari nggak bisa?!" tanya Rasta dengan nada sarkas.
"Lo-Lepasin tangan gue!" Maudy berusaha sekuat tenaga melepaskan kedua tangannya, namun tetap saja tenaganya tidak sebanding dengan Rasta.
"Gue lepasin kalau lo minta maaf," tutur Rasta.
"Enggak! Gue nggak mau minta maaf,"
Rasta berdecak kesal. Mengeratkan pegangannya pada kedua pergelangan tangan Maudy, tidak peduli rintihan cewek itu yang merasa kesakitan. Bahkan Rasta melupakan posisinya yang berada di dalam toilet khusus siswi.
"Susah banget buat ngucapin kata maaf?"
"Gue nggak salah!" elak Maudy dengan wajah tidak berdosa.
"Bego! Terus yang lo lakuin apa?"
Rasta semakin mendekatkan jaraknya dengan Maudy, sehingga hembusan nafasnya mengenai leher jenjang cewek berambut cokelat kehitaman. "Karma itu ada Maudy, lo nggak akan tau kapan terjadinya." bisik Rasta penuh penekanan membuat tubuh Maudy terasa meremang.
Setelah itu, Rasta melepaskan kedua tangan Maudy. Mendorong tubuh cewek itu sebelum membawa siswi yang menjadi korban bullying mereka keluar dari dalam toilet. Untungnya dorongan cowok itu tidak terlalu kuat sehingga tidak terjatuh menubruk lantai. Maudy melirik ketiga temannya yang sama-sama terdiam.
"Dy, lo nggak apa-apa, kan?" tanya Reta.
"Lo bisa liat sendiri, kan?!" Maudy menukas, berkacak pinggang dengan sorot matanya yang tajam. "Ini semua juga salah kalian!" ucapnya.
"Lho, kenapa jadi salah kita sih?!" Sheila berseru tidak terima mengenai perkataan Maudy barusan yang menyalahkan dirinya beserta kedua temannya.
"Kalian emang nggak becus, gue udah bilang salah satu ada yang jaga di luar!"
KAMU SEDANG MEMBACA
[GS2] OTHER SIDE (Completed)
Jugendliteratur"Rasta!" "Ya?" "Kenapa, Sta?" "___" "Kenapa lo harus peduli sama gue?" "Bukan peduli, tapi kasihan." Rasta Dhefino Greynata, cowok cuek berbandana hitam yang tidak pernah mempedulikan sekitarnya. Perlahan pandangan berubah saat melihat kehidupan cew...
![[GS2] OTHER SIDE (Completed)](https://img.wattpad.com/cover/233067867-64-k820761.jpg)