Fira’s pov
08:00 WIB
Aku menatap Canny yang masih mengerucutkan bibirnya. Suasana hatinya sedang tidak bagus hari ini, lebih tepatnya sejak kemarin. Om Azril yang kemarin menelepon langsung menyuruh Canny pulang begitu melihat putrinya itu tidak berada di rumah.
“Aku tidak mengerti dengan Daddy.” Canny menggeser duduknya menghadapku. “Kenapa Daddy menjadi overprotektif? Seingatku dulu saat Als seusiaku Daddy tidak pernah melarang mereka pergi dengan perempuan, walau hanya berdua. Bukankah itu tidak adil?”
“Aku tidak tahu pasti. Tapi, pernah ku dengar jika semua ayah seperti itu. Istilahnya, seorang ayah akan cemburu saat mengetahui putrinya mencintai laki-laki lain selain dia.” Canny memicingkan matanya melihatku.
“Apa Uncle Indra juga seperti itu?” Aku mengangguk.
“Kau ingat kan, kemarin Papa meneleponku untuk memastikan apakah aku pergi denganmu atau tidak? Jika kemarin bukan karena Mama, ku yakin Papa tidak akan mengizinkanku.” Aku menyandarkan punggungku di sandaran kursi.
“Kenapa mereka harus cemburu ya? Sangat aneh. Padahal mereka juga mencintai perempuan lain selain kita.” Aku menatap Canny dan mengangguk setuju.
“Eh, kenapa tidak kau pergi saja dengan Faris nanti? Hari ini kita hanya sampai jam 12.” Canny menatapku dengan mata berbinar.
“Kau jenius, Fira!” Canny bersorak, ia merentangkan kedua tangannya dan langsung ku peluk.
“Thank you very much. Aku akan menelepon Faris sekarang juga!” Canny bangkit dari duduknya dan keluar kelas, ya dia membutuhkan privasi bukan? Ia melambaikan tangan pada Marco dan Haidar yang baru memasuki kelas.
“Ada apa dengan Canny?” tanya Marco duduk di sebelah kananku.
“Hmm, dia terlihat bahagia.”
“Dia baru mendapatkan ide cemerlang.” jawabku tersenyum senang, Haidar dan Marco saling berpandangan. Tentu saja mereka tidak paham dengan apa yang ku katakan.
“Um, Fira.” Aku menoleh ke belakang saat merasakan colekan dari seseorang. “Bisa kau membantuku mengerjakan ini?” aku mendekat ke arah Sabai yang menatapku penuh harap.
“Aku tidak sepenuhnya mengerti tentang konstruksi sosial Peter L. Berger dan Thomas Luckman.” Aku menunduk menatap buku dan membacanya sekilas.
“Akan ku jelaskan.” Aku memutar kursi yang ku duduki menghadap ke belakang dan mulai menjelaskan maksud dari teori tersebut.
Author’s pov
Sinta dan Felly tersenyum senang saat melihat Canny berada di luar, mereka saling berpandangan dan menghampirinya. “Canny!” keduanya berseru dan memeluk Canny erat.
“Hai, kalian baru datang?” Canny menyimpan ponselnya di saku celana, ia sudah selesai mengabari kekasihnya mengenai ide jenius Fira.
“Ya. Kami belum terlambat, kan?”
“Belum, Pak Fahri belum masuk.” Felly dan Sinta menghembuskan napas lega.
“Canny, setelah ini ayo temani aku ke toko buku. Sudah lama kita bertiga tidak pergi bersama.” Canny memandang Felly dan Sinta yang memasang wajah sendu.
“Maaf aku tidak bisa jika hari ini.”
“Kenapa? Kau pergi dengan Fira lagi?” tanya Felly dengan nada jengkel.
“Bukan dengan Fira. Aku akan pergi dengan Faris.” Felly dan Sinta membulatkan matanya, kekesalan yang mereka rasakan lenyap begitu saja.
Baiklah, mereka tidak akan marah jika Canny pergi berkencan dengan Faris.
KAMU SEDANG MEMBACA
SECOND LOVE : Perfect Incitement
Chick-LitSEKUEL KETIGA "SECOND LOVE". ADA BAIKNYA BACA "SEPARUH NYAWA" DAN "THE LAST MESSAGE" TERLEBIH DAHULU. "Jadi semua yang dikatakan Felly itu benar? Fira tidak pernah menyayangiku sebagai sahabat ataupun saudara?" . . . . . . . "Kau benar, Sinta. Aku...
