Canberra Farnaz Azra Alfarizi

596 57 66
                                        

Faris’s pov
19:00 WIB

“Aku terlihat seperti beruang, kan?” Aku menengok ke arah Canny yang berdiri di depan pintu ruang praktek dengan kedua tangan di atas perut besarnya. Bayangkan siapa yang tidak terkejut tiba-tiba istrimu memberikan pertanyaan berbahaya seperti itu?

“Jawab aku Faris!” Aku menelan ludah dan menatapnya, mempelajari suasana hatinya sekarang. Seperti dugaanku, istri cantikku ini tidak dalam keadaan baik-baik saja. Aku bangkit dari dudukku dan berjalan ke arahnya.

“Kenapa bertanya seperti itu, hmm?” ku rangkum wajahnya dengan kedua tanganku.

“Aku merasa seperti beruang, sangat besar dan tidak menarik.” Aku menghela napas panjang melihat bibirnya yang mengerucut, sebenarnya ia tampak sangat menggemaskan.

“Itu hanya perasaanmu saja. Kau tidak seburuk itu.”

“Tapi lihatlah ini, seluruh tubuhku membengkak dan perutku sangat besar.”

“Kau sedang hamil tua, sayang. Apalagi bayi kembar. Wajar kan.” Canny mencebikkan bibirnya dan memelukku. Aku mendudukkannya di sofa, melihatnya berdiri terlalu lama membuatku ngeri.

“Kenapa kau bekerja lama sekali? Hari ini kau bilang tidak akan bekerja hingga malam.” Canny mengeratkan pelukannya padaku dan menenggelamkan kepalanya di dadaku. Aku mengelus kepalanya yang ditutupi jilbab instan berwarna biru laut. Aku sangat menyukai ini, Canberra yang manja padaku dan bergantung padaku.
Meskipun Canny lebih kaya dariku tetap saja aku merasa dihargai.

Ya, Canny lebih kaya dariku. Dia memiliki sebuah perusahaan besar, sedangkan aku hanya menjadi psikolog yang membuka praktek sendiri. Meski begitu, aku tetap berusaha keras memenuhi setiap kebutuhannya. Setidaknya aku harus memberikan uang bulanan yang setara atau bahkan lebih besar dari yang Daddy berikan padanya. Walau sekarang belum mampu lebih.

“Kenapa kau diam saja? Aku bicara padamu.” Aku tersadar dari lamunanku saat merasakan cubitan di pipiku. Aku  menunduk dan tersenyum menatap Canny yang masih saja mencebikkan bibirnya.

“Maaf. Hari ini pasien lebih banyak dari yang ku duga. Mereka sudah mengantri lama, aku tidak mungkin menutupnya dan menyuruh pasien datang besok kan?”

“Ya sih.”

“Ayo pulang. Pasienku sudah pulang semua.”

“Siapa bilang? Ada 1 pasien yang menunggumu sejak tadi.” Aku terkejut mendengarnya.

“Kemana dia? Kenapa tidak langsung masuk saja?”

“Pasiennya ada tepat di depanmu.” Canny terkekeh, ia kembali memelukku.

“Ayo pulang. Aku sudah tidak sabar memakan masakan istriku.” Canny mendongak menatapku, kedua matanya mengerjap-ngerjap.

Sangat menggemaskan!

“Bukan istrimu yang memasak malam ini, tapi ibu mertuamu.”

“Mama datang?”

“Iya, sejak tadi sore. Mama datang dengan Daddy. Mereka bilang akan tinggal disini hingga aku melahirkan. Tidak apa kan, Papi?”

“Tentu saja tidak masalah. Mereka disini membuatku lebih tenang tidak meninggalkanmu sendirian di rumah.”

“Aku tidak sendirian, ada Susan yang menemaniku.”

“Tapi Susan sudah pulang jam 5 sore tadi.”

Susan adalah asisten rumah tangga yang ku pekerjaan untuk mengurus rumah. Ia tidak menginap di rumah sesuai permintaan istriku. Canny bilang ia ingin hidup tanpa melihat asisten rumah tangga 24 jam. Ia lelah setiap 24 jam selalu bertemu dengan ART, sejak bangun tidur hingga tidur lagi ART berkeliaran di rumahnya.

SECOND LOVE : Perfect IncitementTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang