Author’s pov
-Sky Disc-
Faris menatap sendu ponsel yang menampilkan foto kekasihnya, ia menghela napas panjang dan memasukkannya ke dalam saku. Perasaannya tidak tenang sekarang. Bagaimana dia bisa tenang jika berbohong pada kekasihnya?
Ya.
Faris tidak sedang mengerjakan tugasnya, dia pergi ke club malam bersama seseorang yang tidak terduga sebelumnya. Faris sediri tak tahu kenapa ia lebih memilih berbohong pada Canny ketimbang jujur.
Tadi ia kalut dan tak sempat memikirkan apapun. Siapa yang tidak kalut jika tiba-tiba seorang perempuan yang berasal dari Australia berteriak dan menangis di depan rumahnya?
Faris yang saat itu hanya sendirian di rumah tak ada pilihan lain selain membawa perempuan itu pergi dari rumah sebelum para tetangga mengerubungi rumahnya dan berpikir yang tidak-tidak. Pokoknya besok ia akan meminta maaf dan bercerita pada Canny agar tidak terjadi salah paham.
“Faris, come on. Kita kemari untuk bersenang-senang.” Faris melepas kedua tangan perempuan berambut pirang di sebelahku yang sejak tadi melingkar di tangan kananku.
“Kau saja yang minum, aku tidak minum seperti itu jika kau lupa.” Bibir perempuan itu mengerucut, ia tidak suka ditolak.
“Kau sudah berjanji padaku akan membuatku bahagia, Faris.” Perempuan itu meletakkan kepalanya di meja bar dan mengeluarkan suara seolah-olah menangis sedih. Ia mengeraskan suaranya karena bersaing dengan dentuman musik yang memenuhi telinga.
“Kau mabuk, Claire.”
“Aku tidak mabuk! Aku sangat sadar!” Perempuan dengan mata berwarna hijau itu menatap Faris dengan tatapan tajamnya.
“Sudahlah, kenapa kau sedih jika ditinggalkan Frank? Kau cantik, semua orang akan menyukaimu.” Claire memicingkan matanya, tangannya melingkar di tangan kiri Faris dan menyandarkan kepalanya di bahu Faris.
“Tidak semua orang, Faris. Ada seseorang yang ku inginkan sejak lama, tapi dia tidak pernah menginginkanku karena hatinya sudah dimiliki perempuan lain.” Faris menghela napas panjang, ia memandang perempuan di sebelahnya yang menangis.
“Kenapa dia menghamili Barbara? Apa kurangnya aku? Dia selalu menolak saat ku ajak making love dengan alasan menjagaku, tapi kenapa dia malah melakukan itu dengan orang lain?” racau Claire membuat Faris merasa tak nyaman, terlebih dengan pandangan orang-orang di sekitar bar. Ia memandang sekeliling dan berharap tidak bertemu dengan orang yang dikenalinya, ia tak mau ada salah paham.
“Harusnya tadi aku bawa Canny saja kemari. Eh, tapi aku tidak ingin dilindas truk karena membawa putri Presdir ke bar.” Faris sedikit menyesali keputusannya menuruti keinginan Claire ke bar.
Claire Anderson, putri tunggal keluarga Anderson yang merupakan salah satu bawahan Hari Sanjaya. Claire mengenal Faris saat keduanya menghadiri salah satu acara yang digelar di Sydney beberapa bulan lalu. Claire juga pernah mengunjungi rumah Faris saat keluarganya mengundang keluarga Anderson. Mereka menjadi teman sejak itu.
Ya, hanya berteman.
Tidak lebih.
Faris berjingkat saat tiba-tiba Claire mengangkat kepalanya dan mengusap ingus dengan tangannya. Bukannya jijik, Claire tertawa melihat ingus menempel di tangannya. “Kau ini jorok sekali! Cepat ke kamar mandi dan bersihkan itu!” Claire menatap Faris dengan tatapan elang.
“Santai saja, tidak perlu marah.” Claire beranjak dari duduknya dan berjalan sempoyongan menuju kamar mandi. Faris menghembuskan napas lega setelah melihat seorang pelayan perempuan menuntun Claire.
KAMU SEDANG MEMBACA
SECOND LOVE : Perfect Incitement
ChickLitSEKUEL KETIGA "SECOND LOVE". ADA BAIKNYA BACA "SEPARUH NYAWA" DAN "THE LAST MESSAGE" TERLEBIH DAHULU. "Jadi semua yang dikatakan Felly itu benar? Fira tidak pernah menyayangiku sebagai sahabat ataupun saudara?" . . . . . . . "Kau benar, Sinta. Aku...
