Fira’s pov
Aku berada di kamarku, mengecek kembali barang-barang agar tidak ada yang tertinggal. Sinta sudah sampai, dia berada di ruang keluarga bersama Mama dan Papa.
“Kenapa tidak berangkat dengan Canny?” aku menengok ke Mbak Flora yang berdiri di depan kamarku dengan setoples snack di tangannya.
Sebenarnya aku masih malas dengan manusia bernama Canny, tapi di depan Mbak Flora atau anggota keluargaku yang lain aku tidak ingin menunjukkannya.
“Hanya ingin lebih dekat dengan Sinta.” Jawabku tanpa menatapnya. Aku menatap pantulan diriku di cermin, senyumku mengembang saat memakai kemeja kotak-kotak warna merah dengan sabuk di bagian pinggang. Hari ini aku memakai pakaian yang di beri Tama kemarin, aku sangat menyukainya. Sebelumnya aku sudah mengirimkan fotoku memakai baju ini dan berterimakasih.
“Kau tidak bertengkar lagi dengannya kan?” Aku memutar bola mataku malas, tanganku terulur memakai tas punggung dan menatap Mbak Flora kesal.
“Tidak, Mbak. Berhenti menanyaiku ini dan itu atau aku tidak jadi pergi!” Mbak Flora terbelalak melihatku membentaknya, tapi dia tidak mengatakan apapun dan membiarkanku berjalan meninggalkannya menuju lantai satu. Semoga saja Mbak Flora memahamiku seperti biasanya.
“Ma, Pa, Fira berangkat sekarang.” Aku menyalami Mama dan Papa bergantian.
“Selamat bersenang-senang sayang.” Mama mencium kedua pipiku. Papa tidak mengatakan apapun, hanya memelukku erat dan mengelus kepalaku yang tertutup jilbab. Sinta berdiri dan menyalami kedua orang tuaku sebelum kami berjalan keluar rumah.
“Assalamualaikum.” kataku dan Sinta serempak setelah berada di dalam mobil dan siap berangkat.
“Waalaikumussalam. Hati-hati sayang!” teriak Mama dengan senyuman lebarnya, ia merangkul Papa yang juga tersenyum lebar.
Aku tahu mereka sangat bahagia, setelah hampir tiga tahun berkuliah akhirnya berhasil memperluas pertemanan.
Sinta menjalankan mobilnya keluar dari halaman rumah menuju jalan raya. “Canny sudah sampai di lokasi.” Aku hanya mengangguk, pandanganku tertuju ke luar jendela. “Kau masih kesal dengannya? Bukankah kemarin kau bilang dia datang dan mengobrol banyak denganmu? Harusnya kalian sudah baikan, bukan?”
“Aku tidak tahu. Setiap mengingat namanya atau melihat wajahny tiba-tiba saja aku merasa kesal. Selalu mengingatkanku pada sikap bossynya itu.”
“Memang sulit memaafkan seseorang jika sudah terluka. Tapi dia sahabat kita, jadi harus diterima apa adanya dia.” Aku menghela napas panjang dan memejamkan mataku, menikmati udara dingin yang keluar dari AC.
“Kau benar, sekarang aku berusaha menghilangkan kekesalanku padanya.” Sinta menatapku sekilas dengan senyuman.
“Itu bagus.”
“Apa Canny juga bersikap seperti itu padamu dan Felly?”
Sinta mengangguk, “Hmm. Sifat bossynya sudah mendarah daging. Kami tidak menuruti semua perintahnya, sesekali kami menolaknya.”
“Kau membenci Canny?”
“Tentu saja tidak. Aku menerima sifat baik dan buruk Canny padaku, bukankah persahabatan seperti itu?”
“Ya, kau benar. Mungkin aku butuh waktu untuk membiasakan ini. Setelah aku tahu semuanya, rasanya sangat berbeda.”
“Percayalah, semua akan baik-baik saja.” Aku tersenyum dan mengangguk. “Kita sudah sampai.” Aku memandang sebuah gerbang berwarna cokelat tua yang menjulang tinggi. Pintu gerbang terbuka otomatis setelah Sinta menekan bel dua kali, ini seperti gerbang di rumah Canny.
KAMU SEDANG MEMBACA
SECOND LOVE : Perfect Incitement
Chick-LitSEKUEL KETIGA "SECOND LOVE". ADA BAIKNYA BACA "SEPARUH NYAWA" DAN "THE LAST MESSAGE" TERLEBIH DAHULU. "Jadi semua yang dikatakan Felly itu benar? Fira tidak pernah menyayangiku sebagai sahabat ataupun saudara?" . . . . . . . "Kau benar, Sinta. Aku...
