Fira’s pov
“Sinta, ada apa?” Sinta menghentikan langkahnya begitu kami sampai di kamar mandi. Sinta memandang sekeliling dan terlihat lega tidak ada orang disini.
Ia menghempaskan tanganku begitu saja dan menatapku penuh amarah memuatku semakin tidak mengerti. Apakah aku membuat kesalahan hingga dia marah seperti ini? “Kau keterlaluan, Fira.”
“Keterlaluan kenapa? Bukankah kemarin kau bilang pembalasan selalu lebih kejam?” Sinta memejamkan matanya dan memijat pangkal hidungnya.
“Ya, tapi tidak seperti ini caranya. Bukannya aku membela Canny, tapi lihatlah. Sekarang menjadi bumerang sendiri untukmu. Semua orang di kampus menyalahkanmu karena sudah membongkar aib Canny yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kampus.” Aku diam memandang Sinta yang mengatakan unek-uneknya.
Ia memegang kedua bahuku. “Sebagai sepupumu, aku tidak ingin kau ada dalam masalah. Tapi sekarang, kau berada dalam masalah. Beberapa orang di kelas kita menyebarkan rumor buruk tentangmu. Itulah sebabnya kenapa setiap orang di kampus seakan menghujatmu.” Aku menggigit bibir bawahku dan mendadak tubuhku panas dingin.
“Lalu aku harus apa sekarang?” aku menggenggam tangan Sinta.
“Untuk saat ini aku belum memikirkan apapun. Menurutku, rumor buruk tidak akan bertahan lama. Kau ingatkan saat kita SMP dulu, rumor buruk tentangmu lenyap dalam waktu dua minggu.” Aku menatap Sinta yang tatapannya sudah melembut.
“Rumor itu akan lenyap dengan sendirinya jika aku bersikap seperti biasanya, kan?” Sinta mengangguk. “Baiklah, karena urusanku dengan Canny sudah selesai aku tidak akan berulah lagi.” Sinta tersenyum, ia mengelus lenganku.
“Syukurlah, aku lega mendengarnya.”
“Oh ya, ternyata ucapanmu benar Sinta. Membalas rasa sakit di hatiku membuatku lega. Sekarang aku siap menjalani hidup baru tanpa adanya rasa sakit. Kau tahu, kemarin aku menghabiskan waktuku dengan kedua kakak kembarku. Mereka berdua berjanji hanya akan menghabsikan waktunya denganku selama tiga hari penuh! Aku sangat senang karen-”
Prok
Prok
Prok
Perkataanku terhenti saat mendengar tepuk tangan dari salah satu bilik toilet. Mataku dan Sinta membulat sempurna, artinya disini ada orang lain selain kami.
Ceklek
Pintu bagian tengah terbuka, tubuhku membeku seketika saat melihat seseorang dengan tatapan tajam menusuk yang menyambutku. Satu-satunya pandangan mata yang ku takuti.
Felly.
“Bagus. Aku mendapatkan bukti penting hari ini.”
“Kau merekam pembicaraan kami?” Sinta melangkah ke arah Felly yang tersenyum misterius. Pandangan matanya mengarah ke atas seolah sedang berpikir.
“Hmm, entahlah. Mungkin iya, mungkin juga tidak.” Felly tertawa membuatku merinding, tatapan matanya terarah padaku. Sinta memandangku, ia memegang tanganku dan menyembunyikanku di balik tubuhnya.
“Mau sampai kapan kau melindunginya? Biar ku beri tahu, kau melindungi orang yang salah Sinta.”
“Fira adalah sepupuku, Felly. Tidak ada yang salah dengan melindungi sepupuku sendiri.” Felly berdecak dan menggelengkan kepalanya.
“Baiklah, terserah kau saja. Aku sanksi dia memiliki rasa terimakasih padamu karena telah melindunginya. Jangan lupa, dia melupakan rasa terimakasihnya pada Canny yang menutupi aibnya selama bertahun-tahun.” Felly menatapku tajam.
KAMU SEDANG MEMBACA
SECOND LOVE : Perfect Incitement
ChickLitSEKUEL KETIGA "SECOND LOVE". ADA BAIKNYA BACA "SEPARUH NYAWA" DAN "THE LAST MESSAGE" TERLEBIH DAHULU. "Jadi semua yang dikatakan Felly itu benar? Fira tidak pernah menyayangiku sebagai sahabat ataupun saudara?" . . . . . . . "Kau benar, Sinta. Aku...
