Faris’s pov
“Kau memang bodoh!” Aku meringis saat merasakan pukulan di bahuku, pelakunya adalah seseorang yang sekarang menjabat sebagai wakil direktur di kedai es krim milik calon ibu mertuaku. “Kau ini tidak bisa bersabar sedikit? Dasar!” Lagi-lagi aku mendapat pukulan dari seseorang yang sekarang bekerja di Aryesguard, dia sedang tidak bertugas hari ini.
Aku dan kedua sahabatku sedang melakukan reuni di Kedai Ralia karena Tama tidak bisa pergi untuk sekedar mengobrol. “Khilaf. Bayangkan saja kau tidak bertemu dengan Felly bertahun-tahun dan tidak ada waktu untuk sekedar telepon.” Aku memandang Tama yang menggelengkan kepalanya.
“Yang sudah punya istri sih tidak paham.” Aku mengangguk setuju dengan Marco, Tama hanya berdehem dan tersenyum lebar.
Dasar!
Apa kalian paham maksud pembicaraan kami? Lebih baik untuk tidak paham.
“Lalu bagaimana dengan Daddynya Canny? Kau dipukuli habis-habisan?”
“Tidak. Hanya ditegur. Tapi ketika di ruangan Papa, aku ditampar.” Tama dan Marco tertawa puas, mereka temanku atau bukan sih?
“Kau pantas mendapatkannya. Salah sendiri tidak sabaran.” Aku memukul Tama yang asyik dengan es krimnya.
“Kau berhasil menghias coretan merah di buku menantu idaman.”
“Ya, itu benar. Sampai sekarang aku masih merasa bersalah pada Canny dan Om Azril.”
“Kau sudah minta maaf, kan?” Aku mengangguk. Tentu saja sudah, jika tidak aku bahkan tidak punya muka untuk bertemu dengan beliau.
“Tidak lama lagi bujangan berkurang satu dan tinggal satu yang entah kapan menyusul.” Aku dan Tama tersenyum dan memandang Marco. Keningku mengkerut saat melihat senyum getirnya.
“Aku dan Felly tidak akan menikah.”
“Apa?”
“Kenapa?”
“Felly tidak ingin menikah karena sakitnya dan aku tidak bisa mendebat itu. Dia hanya ingin melindungiku, bagaimanapun dia berbahaya.” Aku dan Tama menatapnya sendu.
“Lalu kalian putus?”
“Tidak mungkin! Kami akan tetap bersama walau tanpa ikatan pernikahan.”
“Maksudmu?”
“Kami tinggal bersama. Dia baru pindah ke apartemenku kemarin.”
“Kau gila!”
“Kami tidak punya pilihan lain, aku tidak mungkin memaksa Felly. Kalian tahu bagaimana dia kan?” Marco memandangku dan Tama bergantian. Sebenarnya aku sudah tahu ini dari Canny, tapi aku tidak tahu jika mereka akan sejauh ini.
“Keputusan ini sudah diputuskan dengan matang?” Marco mengangguk mantap.
“Tapi aku tidak paham. Kalian tinggal bersama seperti pasangan suami istri pada umumnya, lalu kenapa tidak menikah saja? Bukankah itu sama saja?”
“Felly bilang tidak. Jika kami tidak menikah, ada beberapa tali yang tidak bisa ia pasangkan padaku.”
“Artinya dia tidak bisa mengendalikanmu sepenuhnya?”
Marco mengangguk, “Dan dia tidak bisa bergantung padaku sepenuhnya. Dia bilang jika kami tidak menikah, masih tetap ada batasan-batasan diantara kami.”
“Kenapa kau menyetujuinya? Dia milikmu dan kau miliknya, bukankah lebih baik memiliki hubungan halal?”
“Bersamanya saja sudah cukup membuatku bahagia.” Marco tersenyum membuatku menghela napas panjang.
KAMU SEDANG MEMBACA
SECOND LOVE : Perfect Incitement
Literatura FemininaSEKUEL KETIGA "SECOND LOVE". ADA BAIKNYA BACA "SEPARUH NYAWA" DAN "THE LAST MESSAGE" TERLEBIH DAHULU. "Jadi semua yang dikatakan Felly itu benar? Fira tidak pernah menyayangiku sebagai sahabat ataupun saudara?" . . . . . . . "Kau benar, Sinta. Aku...
