22. Psycho

282 41 41
                                        

Fira's pov
13:00 WIB

Aku mengaduk es campur, sesekali menatap Tama yang fokus dengan mangkuk es campurnya. Sekarang aku dan Tama ada di penjual es campur pinggir jalan, menikmati segarnya es di siang hari yang cukup terik ini. "Mau sampai besok di aduk esnya tidak akan habis."

Aku mengalihkan pandanganku padanya sekilas dan kembali menatap es campur. Tama menghela napas panjang dan meletakkan sendok bebek berwarna oranye.
"Kenapa hmm?" suara lembutnya membuatku mendongak. Pandangan Tama ke arahku sangat hangat, berbeda dari biasanya. Apakah selamanya dia akan memandangku seperti ini?

"Kau tahu apa yang terjadi padaku pagi ini. Aku berniat untuk membolos kuliah saja hingga semester ini berakhir. Aku benar-benar tidak ingin melihat wajahnya!"

"Jangan lakukan itu. Kau bisa mengambil jam kuliah yang berbeda darinya."

"Baiklah, itu ide yang bagus." Tama mengangguk, ia melanjutkan kegiatannya.

"Kau ini sangat menyukai es ya? Dulu kau mengajakku ke penjual es degan dan sekarang es campur." kataku menyendok es campur dan menyesapnya.

"Es sangat efektif untuk menyegarkan hati dan pikiran. Tidak hanya dari cuaca yang panas, tapi juga dalam tubuh yang panas. Kau paham maksudku, kan?" Aku mengangguk saja dan menghabiskan semangkuk es campur yang ternyata enak ini.

"Ya, kali ini tidak akan ada gangguan dan surprise lagi." Aku terkekeh mengingat kejadian beberapa bulan lalu.

"Kenapa? Tentang Tantemu yang ternyata ibunya Sinta?" aku mengangguk.

"Bukankah dunia ini sempit? Aku tidak menyangka jika Sinta adalah sepupuku. Luar biasa!" Aku tersenyum lebar menatap Tama yang hanya menatapku datar.

Apa dia tidak senang aku dan Sinta sepupu?

"Tadi ku lihat kau dekat dengan Sinta. Sejak kapan?" Ah iya. Aku belum menceritakan semuanya pada Tama karena dia menghilang hampir dua minggu lamanya.

"Banyak hal yang terjadi selama kau menghilang. Mau ku ceritakan darimana?"

"Dari awal, ketika kau bertemu dengan Sinta yang ternyata sepupumu."

Aku mengangguk dan mulai menceritakan kejadian demi kejadian yang terjadi selama dua minggu ini. Ekspresinya tidak berubah sejak tadi, dia memberikan 100% perhatiannya pada ceritaku.

"Awalnya aku tidak percaya dengannya, tapi semakin kesini aku semakin yakin dia benar-benar baik padaku. Jika ku pikirkan, dia tidak akan mengambil keuntungan dariku karena aku tidak memiliki apapun untuk diambilnya. Dan aku memutuskan untuk mempercayai apapun yang dikatakannya. Karena semua itu benar dan aku sudah membuktikannya sendiri." Tama masih menatapku dengan wajah datarnya, ya walaupun tatapan matanya masih hangat.

Aku suka cara Tama memandangku seperti itu.

"Jika kau disuruh memilih, kau mempercayaiku atau kedua teman barumu?" Aku terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan Tama.

"Tama-"

"Ini memang sulit. Aku tidak akan menyalahkanmu jika lebih mempercayai mereka. Tapi, kau harus siap dengan segala konsekuensi yang kau terima jika ternyata orang yang kau percayai menghianatimu."

"Maksudmu?"

"Sinta dan Felly, tidak lebih baik dari Canny." Moodku memburuk begitu aku mendengar nama itu. "Mereka akan menghianatimu dan meninggalkanmu setelah mencapai tujuan mereka."

"Tujuan apa?"

Tama menghela napas panjang dan menatapku lekat-lekat, "Mereka hanya memainkan sebuah drama agar persahabatanmu dan Canny hancur."

SECOND LOVE : Perfect IncitementTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang